Opini

Tentang Janji yang Diam-diam Kita Lupakan

×

Tentang Janji yang Diam-diam Kita Lupakan

Sebarkan artikel ini
Mulyawan Safwandy Nugraha. (Foto: Istimewa)

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada satu momen dalam hidup para sahabat yang sering terasa jauh dari kita. Padahal sebenarnya sangat dekat. Momen ketika mereka berbaiat. Berjanji. Bukan sekadar ucapan, tapi komitmen hidup.

عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قَالَ: بَايَعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم عَلَى إقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، والنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Saya berhenti cukup lama pada kalimat terakhir. “النُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ”. Memberi nasihat kepada setiap muslim.

Ternyata menjadi muslim itu tidak hanya urusan pribadi. Tidak cukup hanya shalat dan zakat. Ada tanggung jawab sosial yang halus tapi dalam. Yaitu memastikan orang lain juga berjalan menuju kebaikan.

Saya bertanya pada diri sendiri. Kapan terakhir kali saya menasihati dengan tulus?

Bukan menegur. Bukan mengkritik. Tapi benar-benar ingin orang lain menjadi lebih baik.

Sering kali kita diam. Takut tidak enak. Takut merusak hubungan. Tapi diam juga bisa menjadi bentuk ketidakpedulian.

Padahal nasihat itu bagian dari cinta.

النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له

Nasihat adalah keinginan tulus agar orang lain menjadi baik.

Kalau kita melihat saudara kita berjalan ke arah yang salah, lalu kita diam, itu bukan cinta. Itu pembiaran.

Saya ingat ayat ini.

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

(QS. Al-A’raf: 68)

Para nabi hadir bukan hanya membawa wahyu, tapi juga menjadi penasehat yang jujur.

Mereka tidak takut ditolak. Tidak takut disalahpahami. Karena yang mereka bawa adalah kebaikan.

Lalu kita?

Kita sering lebih sibuk menjaga kenyamanan daripada menyampaikan kebenaran.

Mungkin kita perlu mengubah cara. Bukan berhenti menasihati, tapi memperbaiki cara menasihati.

Lebih lembut. Lebih pribadi. Lebih penuh empati.

Karena tujuan nasihat bukan menang. Tapi menyelamatkan.

Saya mulai belajar satu hal sederhana. Kalau saya benar-benar peduli pada seseorang, saya tidak akan membiarkannya berjalan sendirian dalam kesalahan.

Saya akan mendekat. Pelan. Tidak menghakimi. Tapi juga tidak diam.

Karena mungkin, satu nasihat kecil bisa mengubah arah hidup seseorang.

Dan mungkin, itu juga menjadi bagian dari janji yang pernah kita ikrarkan. Meski tanpa kita sadari.