SUKABUMI – Ironi kehidupan dialami Ani (57), seorang ibu paruh baya yang kini menjalani hari-harinya dalam keterbatasan ekstrem di Kampung Pasirangin, Desa Jampangtengah, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dalam kondisi sakit strok dan asam urat akut, Ani harus bertahan hidup tanpa nasi selama berbulan-bulan, hanya mengandalkan rebusan daun singkong dan daun pepaya.
Ani mengaku memilih menahan lapar demi mempertahankan warung kopi kecil yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan, meski jarang ada pembeli. Ketidakmampuan membeli beras memaksanya mengorbankan kebutuhan paling mendasar, yakni makanan layak.
“Sudah tiga bulan tidak makan nasi. Kalau lapar, saya ambil daun singkong direbus, kadang daun pepaya. Sehari paling sekali makan,” tutur Ani lirih, Jum’at (20/2/2026).
Baca Juga: Bau Mulut Saat Puasa Bukan Aib, Ini Hikmah dan Cara Menjaganya Secara Alami
Ironisnya, kondisi fisik Ani kian memburuk. Penyakit strok dan asam urat akut membuatnya sulit berjalan. Bahkan, separuh daging dan kulit di bagian bokongnya habis akibat luka gesekan karena sering bergerak dengan cara ngesot. Aktivitas sehari-hari, termasuk melayani pembeli di warung, harus dilakukannya dengan penuh keterbatasan.
“Kalau mau jalan harus pegangan. Duduk juga sakit. Saya ingin berobat, tapi tidak punya biaya,” ujarnya.
Warung kopi yang sekaligus menjadi tempat tinggal Ani hanyalah rumah kontrakan dengan biaya Rp250 ribu per bulan. Saat ini, kontrakan tersebut menunggak pembayaran selama dua bulan. Lebih memprihatinkan lagi, rumah itu tidak memiliki akses air bersih. Untuk kebutuhan minum, Ani harus membeli air galon yang diantar ojek, itupun sering belum mampu membayar ongkos.
“Ngontrak dua bulan belum bayar. Ditagih saya cuma bisa nangis. Mau pindah juga tidak punya tempat,” katanya.
Baca Juga: Andrew Jung Kecewa PERSIB Gagal ke Perempat Final ACL 2 Meski Menang di Leg Kedua
Di balik penderitaan fisik dan ekonomi, Ani juga harus menanggung luka batin. Ia mengaku telah lama ditelantarkan oleh kedua anaknya yang kini telah dewasa. Ani dituding meninggalkan anak-anaknya sejak kecil, sebuah keputusan pahit yang diambilnya karena tak sanggup lagi menahan kekerasan rumah tangga yang dialaminya kala itu.
Karena konflik masa lalu tersebut, Ani kini menjalani hidup sebatang kara tanpa dukungan keluarga. Sejak 2018, kondisinya semakin menurun hingga tak lagi mampu bekerja secara normal.
Dalam keterbatasan dan kesendirian, Ani hanya berharap ada uluran tangan untuk membantunya berobat, melunasi tunggakan kontrakan, serta menambah sedikit modal agar warung kopinya tetap bisa bertahan.
“Kalau ada bantuan, buat berobat sama bayar kontrakan, saya ingin tetap hidup mandiri,” ucapnya penuh harap.
Kisah Ani menjadi potret buram tentang kemiskinan, sakit menahun, dan rapuhnya jaring pengaman keluarga, yang masih menjadi persoalan nyata di tengah masyarakat.

