WASHINGTON – Amerika Serikat akhirnya mengakui adanya kesalahan fatal dalam serangan militer yang menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran. Insiden tersebut menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar merupakan anak-anak.
Serangan terjadi pada 28 Februari 2026 di Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebeh, Kota Minab, Iran selatan. Awalnya, lokasi itu diduga sebagai target militer, namun ternyata telah lama berfungsi sebagai fasilitas pendidikan.
Dilansir dari Antara, hasil investigasi awal militer menunjukkan bahwa kesalahan terjadi akibat penggunaan data intelijen lama. Koordinat target yang digunakan berasal dari arsip lama milik Defense Intelligence Agency, sehingga menyebabkan salah sasaran.
Baca Juga: Resep Rendang Dakak-Dakak Ala Sukabumi, Olahan Singkong yang Gurih dan Pedas
Laporan sejumlah media internasional menyebutkan bahwa rudal Tomahawk yang diluncurkan justru menghantam sekolah yang saat itu sedang digunakan oleh ratusan siswa.
Data terbaru menunjukkan jumlah korban tewas mencapai lebih dari 160 orang dan didominasi oleh pelajar.
Dalam proses perencanaan serangan, militer AS diketahui menggunakan sistem analisis berbasis kecerdasan buatan untuk membantu mengolah data dalam skala besar. Teknologi tersebut digunakan untuk menyaring dan mengidentifikasi informasi intelijen.
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Seorang sumber yang mengetahui proses tersebut menegaskan bahwa penentuan target tidak sepenuhnya diserahkan pada sistem.
Baca Juga: Lebaran 2026 Berpotensi Beda Hari: Ini Prediksi BRIN, BMKG, dan Muhammadiyah
“Proses penargetan selalu dan harus tetap dilakukan oleh manusia,” ujarnya.
Insiden ini memicu perdebatan luas terkait penggunaan teknologi dalam operasi militer modern, termasuk soal tanggung jawab hukum ketika terjadi kesalahan fatal.
Pakar hukum internasional Marko Milanovic menilai bahwa sistem kecerdasan buatan tidak dapat dijadikan pihak yang bertanggung jawab.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Harga Daging dan Cabai di Pasar Palabuhanratu Mulai Merangkak Naik
Menurutnya, penggunaan teknologi tetap berada di bawah kendali manusia. Ia menyebut bahwa tindakan sistem AI dalam militer merupakan konsekuensi dari keputusan manusia yang mengoperasikannya.
Tragedi di Minab kini menjadi sorotan global karena menunjukkan bagaimana kesalahan data intelijen dapat berujung pada korban sipil dalam jumlah besar, terutama di tengah penggunaan teknologi canggih dalam peperangan modern.

