Berita UtamaKabupaten Sukabumi

Video Tangis Kakek di Waluran Viral, Bayi Meninggal Saat Dirujuk

×

Video Tangis Kakek di Waluran Viral, Bayi Meninggal Saat Dirujuk

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Sebuah kisah pilu dari wilayah selatan Kabupaten Sukabumi kembali membuka mata publik tentang rapuhnya sistem layanan kesehatan rujukan, khususnya bagi pasien bayi kritis. Seorang bayi berusia 23 hari dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani proses rujukan lintas rumah sakit, di tengah keterbatasan ruang NICU dan ventilator.

Peristiwa ini mencuat ke ruang publik setelah sebuah video berdurasi 1 menit 42 detik beredar luas di media sosial. Video tersebut diunggah akun Facebook Teh Iiis Tea pada Minggu (4/1/2026), menampilkan luapan kesedihan seorang warga Desa Mangunjaya, Kecamatan Waluran, yang merupakan kakek dari bayi tersebut.

Dalam video itu, ia mempertanyakan tanggung jawab pihak terkait atas meninggalnya sang cucu yang wafat di perjalanan menuju rumah sakit rujukan di Kota Sukabumi, setelah sebelumnya RSUD Jampangkulon disebut tidak dapat menerima pasien karena kondisi penuh.

Baca Juga: Bulan Rajab dalam Islam: Mengapa Puasa Jadi Amalan Paling Utama?

Namun di balik viralnya video, tersaji kronologi medis dan administratif yang menunjukkan bahwa kematian bayi tersebut terjadi dalam situasi darurat kesehatan yang kompleks.

Saat dikonfirmasi, Bidan Desa Mangunjaya, Nopi Purnamasari, menjelaskan bahwa bayi bernama By. Zelina, lahir pada 13 Desember 2025 melalui operasi sesar di RSUD Jampangkulon dalam kondisi sehat, dengan berat 2.500 gram dan panjang 48 sentimeter.

Masalah kesehatan muncul ketika bayi mengalami batuk, sesak napas, demam, dan tidak mau menyusu selama beberapa hari. Pada Minggu pagi (4/1/2026) sekitar pukul 07.20 WIB, keluarga membawa bayi ke PONED Puskesmas Waluran.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi dalam kondisi lemah, napas cepat, dan saturasi oksigen rendah tanpa bantuan,” ujar Nopi, Selasa (6/1/2026).

Baca Juga: Pimpin Tim Optimalisasi Pajak Daerah, Dishub Sukabumi Bergerak Cepat Awasi Parkir di Titik Strategis

Diagnosis sementara mengarah pada Bronchopneumonia, sehingga puskesmas segera memberikan tindakan awal berupa inkubator dan oksigen, sembari mengupayakan rujukan medis.

Namun upaya rujukan ke RSUD Jampangkulon pada pukul 08.37 WIB tidak dapat disetujui karena ruang NICU penuh dan seluruh ventilator sedang digunakan. Puskesmas kemudian mengaktifkan Sijarimas, sistem jejaring rujukan antar rumah sakit.

Sekitar pukul 10.30 WIB, rujukan akhirnya diterima oleh RSUD R. Syamsyudin, SH Kota Sukabumi. Bayi diberangkatkan pukul 11.00 WIB menggunakan ambulans puskesmas dengan pendampingan dua bidan.

Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, bayi tiba di rumah sakit rujukan dalam kondisi sangat kritis dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 14.11 WIB.

Direktur Utama RSUD Jampangkulon, dr. Lusi Apriani, membenarkan bahwa pihaknya tidak dapat menerima pasien tersebut karena keterbatasan fasilitas.

“NICU kami dalam kondisi penuh. Bayi membutuhkan ventilator, sementara seluruh alat sedang digunakan. Pasien NICU umumnya menjalani perawatan jangka panjang,” jelasnya.

Baca Juga: Tragedi Jetski Pantai Buffalo Sukabumi, Jenazah WNA Arab Saudi Dibawa ke Jakarta

Ia menegaskan, penolakan rujukan bukan karena kelalaian, melainkan keterbatasan kapasitas layanan.

Sementara itu, Kepala Dusun Cijawa, Dubi, memastikan bahwa sosok dalam video viral tersebut adalah keluarganya sendiri, yakni kakek dari almarhum bayi.

Peristiwa ini menjadi cermin nyata bahwa masalah utama bukan semata pada satu rumah sakit atau tenaga kesehatan, melainkan keterbatasan sistem rujukan, minimnya ruang NICU, dan panjangnya jarak layanan kesehatan rujukan bagi warga Sukabumi selatan.

Masyarakat pun berharap kejadian ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pusat untuk memperkuat layanan kesehatan dasar dan rujukan, agar kasus serupa tidak kembali terulang—terutama bagi pasien bayi dan ibu yang berada di wilayah terpencil.