SUKABUMI – Aktivitas penjualan daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kota Sukabumi terganggu akibat aksi mogok berjualan yang dilakukan pedagang, Rabu (7/1/2026). Aksi ini dipicu oleh kenaikan harga sapi impor yang dinilai sudah tidak sebanding dengan daya beli masyarakat.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Kota Sukabumi, Mohamad Rifki, mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan langsung ke lapangan sejak awal aksi berlangsung.
“Petugas kami sudah melakukan pemantauan aksi mogok di pasar. Aksi ini terjadi di Pasar Tipar Gede dan Pasar Pelita. Para pedagang memilih tidak berjualan karena harga karkas yang terus naik,” ujar Rifki.
Baca Juga: Syiva Meidina, Gadis Pajampangan Sukabumi yang Sukses Dapat Golden Ticket Indonesian Idol XIV
Menurut Rifki, aksi mogok tersebut sudah berlangsung selama tiga hari dan berkaitan erat dengan persoalan harga daging sapi impor. Ia menyebut para pedagang berharap adanya kebijakan pemerintah yang dapat menjaga stabilitas harga dan menjamin ketersediaan pasokan sapi.
“Kami harapkan ada kebijakan dari pemerintah pusat, karena ini isunya isu nasional, agar harga dan suplai sapi bisa aman,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi, Riki Barata, menjelaskan bahwa mogok berjualan hanya dilakukan oleh pedagang daging sapi di pasar tradisional, khususnya yang melakukan pemotongan sapi.
Baca Juga: Dentuman Misterius di Cianjur: BMKG Sebut Ulah Manusia, PVMBG Duga Fenomena Alam
“Kalau toko daging, termasuk frozen food, masih tetap berjualan. Yang mogok itu pedagang pasar yang memotong sapi, baik lokal maupun impor,” jelas Riki.
Ia mengungkapkan, kenaikan harga sapi impor sudah terjadi sejak dari tingkat importir. Saat ini, harga sapi impor berada di kisaran Rp57 ribu hingga Rp58 ribu per kilogram berat hidup.
“Kalau ditambah biaya operasional dan lainnya, keuntungannya sangat tipis. Di sisi lain, harga jual di pasaran tidak bisa dinaikkan lagi karena mungkin berkaitan dengan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Riki menambahkan, aksi mogok tersebut merupakan bentuk protes yang ditujukan kepada importir agar harga sapi impor dapat diturunkan. Aksi ini juga terjadi secara serentak di berbagai daerah di Indonesia dan melibatkan asosiasi pedagang daging sapi nasional.
Baca Juga: Penggajian Guru PPPK Paruh Waktu Kabupaten Sukabumi Belum Diputuskan, Ini Kata Kadisdik
“Para pedagang serentak tidak memotong sapi impor dari Australia. Apakah nanti harga bisa turun atau tidak, itu murni mekanisme pasar,” katanya.
Di Kota Sukabumi sendiri, mogok berjualan baru terjadi pada hari ini. Pada hari sebelumnya, aktivitas pemotongan sapi masih berlangsung di Rumah Pemotongan Hewan (RPH).
“Biasanya dalam kondisi normal, di RPH yang kami kelola bisa memotong rata-rata lima sampai delapan ekor sapi per hari. Namun mulai tadi malam tidak ada aktivitas pemotongan sama sekali,” ungkap Riki.
Ia juga menyebutkan bahwa di sejumlah daerah lain, seperti Cicurug, aksi mogok berjualan sudah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya.

