SUKABUMI – Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, ratusan aktivitas pembinaan terus berlangsung. Mulai dari membuat keset, menganyam besek ikan, melukis, hingga belajar perbengkelan, perkayuan, pertanian, dan peternakan, menjadi bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan untuk menjalani kehidupan setelah bebas.
Namun, upaya pembinaan tersebut berlangsung di tengah persoalan kepadatan hunian. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah warga binaan mencapai 1.359 orang, sedangkan kapasitas lapas hanya 618 orang. Artinya, jumlah penghuni telah melampaui daya tampung sebanyak 741 orang atau lebih dari dua kali lipat kapasitas yang tersedia.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keamanan, mengatur kehidupan sehari-hari, sekaligus memastikan program pembinaan tetap berjalan. Di tengah keterbatasan ruang, lapas dituntut tidak hanya menjaga ketertiban, tetapi juga memberikan kesempatan bagi setiap warga binaan untuk memperbaiki diri.
Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka KPLP) Kelas IIA Warungkiara, Ibnu Wibowo, menegaskan bahwa keamanan menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan seluruh aktivitas di dalam lapas.
“Keamanan adalah pondasi utama. Kalau suasana aman, pembinaan juga akan berjalan lebih baik,” ujar Ibnu Wibowo.
Pernyataan tersebut menggambarkan eratnya hubungan antara pengamanan dan pembinaan. Situasi yang aman dan tertib menjadi prasyarat agar warga binaan dapat mengikuti kegiatan secara teratur, baik pembinaan kemandirian maupun pembinaan kepribadian.
Pembinaan kemandirian di Lapas Warungkiara mencakup berbagai kegiatan produktif. Warga binaan diberi kesempatan mempelajari pembuatan keset, anyaman besek ikan, lap atau majun, lukisan, celengan, replika bonsai, hingga kotak tisu.
Selain kerajinan tangan, terdapat kegiatan perbengkelan dan perkayuan yang memberikan pengalaman di bidang teknis. Program pertanian dan peternakan juga menjadi bagian dari aktivitas produktif yang dapat memperkenalkan warga binaan pada proses produksi, perawatan, serta pengelolaan hasil.
Setiap kegiatan memiliki manfaat berbeda. Kerajinan tangan melatih ketelitian dan kreativitas, sedangkan perbengkelan dan perkayuan memberikan pengalaman keterampilan teknis. Adapun pertanian dan peternakan membuka peluang untuk mengembangkan kemampuan yang dapat dimanfaatkan sebagai modal usaha maupun bekal memasuki dunia kerja.
Pembinaan tersebut menjadi penting karena masa pidana tidak semestinya hanya diisi dengan rutinitas di dalam kamar. Ada kesempatan untuk belajar, mengembangkan potensi, dan menyiapkan diri agar lebih mandiri ketika kembali ke tengah masyarakat.
Meski demikian, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh tersedianya kegiatan di dalam lapas. Kesempatan mengembangkan keterampilan, keberlanjutan pelatihan, serta peluang memanfaatkan kemampuan setelah bebas juga menjadi faktor penting agar pembinaan memberikan manfaat nyata.
Di samping pembinaan kemandirian, Lapas Warungkiara menjalankan pembinaan kepribadian untuk mendukung perubahan sikap dan perilaku warga binaan.
Kegiatan kerohanian dan keagamaan, termasuk mengaji dan program nyantri, menjadi bagian dari pembinaan tersebut. Warga binaan juga memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan nonformal sebagai upaya memperluas pengetahuan.
Aktivitas olahraga seperti bola voli, sepak bola, dan bulu tangkis turut menjadi bagian dari keseharian. Sementara itu, kegiatan musik memberikan ruang untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang kesenian.
Pembinaan kesadaran hukum atau Kadarkum, pemahaman tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, serta kegiatan peringatan hari besar juga masuk dalam program yang dijalankan.
Berbagai kegiatan itu diarahkan untuk membangun keseimbangan antara kemampuan praktis dan pembentukan karakter. Sebab, ketika kembali ke masyarakat, warga binaan tidak hanya membutuhkan keterampilan untuk bekerja, tetapi juga kesiapan sosial, kedisiplinan, dan pemahaman mengenai tanggung jawab sebagai bagian dari lingkungan masyarakat.
Keseharian warga binaan berlangsung berdasarkan jadwal yang telah ditentukan. Sekitar pukul 06.30 WIB, petugas membangunkan penghuni, dilanjutkan apel dan penghitungan jumlah warga binaan di kamar.
Setelah makan pagi, kegiatan pembinaan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Warga binaan mengikuti program kemandirian maupun kepribadian sesuai agenda yang tersedia. Pada sekitar pukul 16.00 WIB, mereka kembali ke kamar. Kegiatan olahraga bersama juga dijadwalkan setiap Sabtu sesuai pengaturan lapas.
Jadwal tersebut menjadi bagian dari pengelolaan aktivitas penghuni agar kehidupan di dalam lapas berlangsung teratur. Namun, dengan jumlah warga binaan yang jauh melampaui kapasitas, pengaturan ruang, pengawasan, dan pelaksanaan kegiatan membutuhkan pengelolaan yang cermat.
Data yang dihimpun mencatat, dari total 1.359 warga binaan, sebanyak 1.333 orang merupakan laki-laki dan 26 orang perempuan. Terdapat pula satu warga negara Malaysia. Sementara jumlah pegawai lapas tercatat sebanyak 84 orang, termasuk kepala lapas.
Gambaran kepadatan terlihat dari kondisi kamar hunian. Kamar yang semestinya menampung sekitar 29 orang disebut dihuni hingga 80 orang. Sementara kamar berkapasitas sekitar 12 orang dihuni sekitar 30 orang.
Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya selisih antara kapasitas yang tersedia dan jumlah penghuni. Situasi ini menuntut perhatian terhadap pengelolaan hunian, keamanan, serta ketersediaan ruang yang memadai untuk menunjang aktivitas pembinaan.
Pada akhirnya, pembinaan di Lapas Kelas IIA Warungkiara bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Pelatihan keterampilan, pendidikan, kegiatan keagamaan, dan olahraga merupakan bagian dari proses mempersiapkan warga binaan agar dapat kembali menjalani kehidupan di masyarakat.
Di tengah persoalan overkapasitas, tantangan berikutnya adalah memastikan pembinaan tetap berjalan efektif dan menjangkau warga binaan secara optimal. Sebab, tujuan pemasyarakatan bukan hanya menjaga penghuni tetap berada di balik tembok lapas, melainkan juga mempersiapkan mereka agar memiliki bekal untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas.

