SUKABUMI – Sebanyak 124 mahasiswa Program Studi Geografi, Fakultas MIPA Universitas Indonesia (FMIPA UI), menjadikan Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, sebagai laboratorium lapangan mereka. Selama enam hari, dari 26 hingga 31 Oktober 2025, mereka melaksanakan Kuliah Kerja Lapang (KKL) di enam desa, yaitu Kertajaya, Cihaur, Loji, Cidadap, Cibuntu, dan Mekarasih.
Kegiatan tahunan yang telah menjadi tradisi sejak awal 2000-an ini tidak hanya memenuhi kurikulum akademik, tetapi juga merupakan wujud nyata pengabdian masyarakat. Dengan dibimbing oleh enam dosen dan tiga asisten dosen, para mahasiswa melakukan serangkaian kegiatan seperti pemetaan batas wilayah, penyusunan profil desa, dan verifikasi peta tematik berbasis citra satelit.
Baca Juga: Korban TPPO Asal Cisaat Sukabumi Segera Dipulangkan dari China, Ini Tanggal Kedatangannya
Koordinator KKL, Astrid Damayanti, menekankan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjembatani teori dan praktik. “Mahasiswa tidak hanya belajar memetakan wilayah, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami dinamika ruang secara nyata,” ujarnya pada Kamis (13/11/2025).
Ia menambahkan bahwa semua data hasil lapangan akan diserahkan kepada pemerintah desa sebagai kontribusi nyata dunia akademik bagi pembangunan daerah.
Di lapangan, setiap kelompok mahasiswa bertugas memetakan satu desa dengan fokus tema berbeda, mulai dari geologi, geomorfologi, hingga aktivitas manusia. Sebelum turun ke desa, mereka telah mempersiapkan peta kerja menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (GIS).
Baca Juga: Heboh Dugaan Asusila Oknum Guru di Surade, Curhat Alumni Viral dan Dapat Dukungan Warganet
Verifikasi di lapangan menemukan beragam potensi dan tantangan, seperti 22 titik batuan sedimen dan lima air terjun di Desa Cibuntu yang berpotensi untuk pengembangan wisata geologi.
Namun, mereka juga menghadapi realitas geografis yang menantang, seperti beberapa dusun di Desa Mekarasih dan Cibuntu yang terisolasi akibat longsor, serta aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Kertajaya dan Cihaur yang perlu dikaji dampaknya terhadap tata ruang dan lingkungan.
Baca Juga: NIP Sudah Keluar, 1.841 P3K Paruh Waktu Honorer di Pemkot Sukabumi Segera Dilantik
Pemetaan partisipatif yang melibatkan masyarakat setempat berhasil memperjelas struktur tata ruang desa. Data yang dikumpulkan, termasuk potensi pertanian dan kerentanan bencana, diharapkan dapat membantu pemerintah desa dalam menyusun perencanaan pembangunan yang lebih terarah dan berkelanjutan, serta menganalisis dampak perubahan iklim.
Kegiatan KKL ini semakin mengukuhkan Kabupaten Sukabumi sebagai laboratorium lapangan andalan bagi mahasiswa Geografi UI. Ke depan, kolaborasi akademik semacam ini akan terus diperluas ke lebih banyak desa di Sukabumi, mendukung implementasi Tridarma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

