Berita SukabumiKabupaten Sukabumi

Peran Ayah Mulai Bangkit di Sukabumi: GATI Dorong Keterlibatan yang Selama Ini Terabaikan

×

Peran Ayah Mulai Bangkit di Sukabumi: GATI Dorong Keterlibatan yang Selama Ini Terabaikan

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI‎ – Di tengah rutinitas keluarga modern yang serba cepat, peran ayah dalam pengasuhan kerap terpinggirkan. Banyak ayah di Kabupaten Sukabumi kembali ke rumah saat anak telah tertidur, hadir secara fisik namun tidak benar-benar mendampingi tumbuh kembang mereka.

Melihat fenomena ini, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Sukabumi mencoba mengangkat sisi yang selama ini jarang disorot: pentingnya kehadiran emosional seorang ayah. Melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), DPPKB tidak hanya mengajak ayah untuk ikut mengasuh, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran mereka di rumah.

Kepala DPPKB Kabupaten Sukabumi, Eka Nandang Nugraha, menilai bahwa peran ayah tidak boleh dianggap sekadar pemberi nafkah.

“GATI bukan hanya soal ayah membantu mengurus anak, tetapi tentang bagaimana ayah hadir, memberi teladan, dan ikut membangun karakter keluarga,” kata Eka, Kamis (20/11/2025).

Baca Juga: Desa Bojongsari Perkuat Gotong Royong Lewat Karya Bakti Perbaikan Jalan Bersama Koramil Jampangkulon

Di berbagai desa, penyuluh KB kerap menemukan realitas yang serupa: ibu menanggung sebagian besar urusan domestik, sementara ayah berada di luar lingkar pengasuhan. Ketimpangan ini rupanya berdampak besar. Anak rentan kehilangan figur ayah dalam masa-masa paling penting perkembangan emosionalnya.

Pendekatan GATI mencoba menyentuh sisi sensitif ini menyadarkan ayah bahwa anak tidak hanya membutuhkan biaya hidup, tetapi juga membutuhkan kehadiran.

Cukup mulai dari hal kecil, menemani makan, membacakan cerita sebelum tidur, mengantar imunisasi, hingga meluangkan lima menit untuk bertanya tentang hari anak.

Meski tampak sederhana, perubahan perilaku dalam keluarga ini dikaitkan erat dengan upaya penurunan stunting. Banyak kajian menunjukkan bahwa anak dengan ayah yang terlibat secara aktif memiliki perkembangan kognitif dan emosional yang lebih baik, rutinitas makan yang lebih terjaga, dan kepatuhan terhadap layanan kesehatan yang lebih konsisten.

Baca Juga: Peringati Hari Anak, Anang Janur Gaungkan Tema Stop Bullying, Stop Kekerasan, Anak Adalah Investasi Bangsa

“Fungsi pengasuhan bukan hanya urusan ibu. Keluarga yang seimbang secara emosional jauh lebih siap memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak,” ujar Eka.

Menariknya, GATI juga menyasar para ayah yang bekerja di sektor informal atau sering tidak hadir dalam kegiatan desa. Penyuluh melakukan pendekatan langsung ke rumah, tempat kerja, atau lingkungan komunitas mereka.

Program ini dipadukan dengan kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB), agar pesan mengenai keterlibatan ayah tidak berhenti sebagai kampanye, melainkan menjadi budaya baru di tengah keluarga Sukabumi.

Baca Juga: Evakuasi 30 Menit, Pohon Tumbang di Jalan Nasional Palabuhanratu Berhasil Diatasi

DPPKB menegaskan bahwa persoalan stunting tidak melulu soal gizi atau fasilitas kesehatan. Ada dimensi lain yang lebih sunyi namun sangat menentukan: kualitas relasi dalam keluarga.

“Jika gerakan ini berjalan konsisten, kita berharap struktur keluarga di Sukabumi menjadi pondasi yang kuat dalam membangun generasi sehat dan berdaya,” pungkas Eka.

Dengan pendekatan yang lebih humanis, GATI berupaya menghidupkan kembali figur ayah sebagai pusat kehangatan dan keteladanan sebuah sisi lain yang selama ini luput dari percakapan publik.