Berita UtamaKabupaten Sukabumi

Jadi Tersangka, Oknum Da’i Lecehkan Santri di Cantayan Sukabumi Kini Diburu Polisi

×

Jadi Tersangka, Oknum Da’i Lecehkan Santri di Cantayan Sukabumi Kini Diburu Polisi

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Oknum da’i sekaligus pimpinan pondok pesantren di Cicantayan Sukabumi yang diduga melecehkan santri masih dalam pengejaran polisi. Kasus ini kini ditangani Polres Sukabumi setelah sebelumnya sempat dilaporkan ke Polres Sukabumi Kota.

Kasatrekrim Polres Sukabumi, Iptu Hartono, mengatakan pihaknya sudah menerima pelaporan dari korban. Ia menegaskan tersangka masih dalam pengejaran.

“Tersangka sedang dalam pengejaran. Tersangka melarikan diri,” tegas Iptu Hartono dikonfirmasi sukabumikuid, Sabtu (28/03/2026).

Ia pun menyatakan bahwa tersangka sudah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang atau DPO.

Baca Juga: WNA Singapura Dibunuh di Sukabumi: Jasad Dicor, Dua Warga Pangandaran jadi Tersangka

“Betul (Masih DPO/Buron),” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang oknum dai sekaligus pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, menuai sorotan. Hingga lebih dari satu bulan sejak dilaporkan, terduga pelaku belum juga berhasil diamankan.

Kuasa hukum korban, Rangga Suria Danuningrat dari LBH Pro Umat, dan tim pendamping korban dari LSM RIB terus mendorong kepolisian untuk bekerja lebih maksimal
.
“Kami mendesak kepolisian untuk bekerja ekstra keras karena ini menyangkut pemuka agama dan juga untuk meredam tekanan dari masyarakat. Apalagi yang dilakukan pelaku adalah kejahatan luar biasa karena korbannya anak-anak di bawah umur,” tegasnya.

Baca Juga: Masih Buron, Polisi Didesak Segera Tangkap Oknum Dai Diduga Lecehkan Santriwati di  Sukabumi 

Ia menambahkan, pihaknya berharap penanganan kasus dilakukan secara profesional dan objektif.

Dalam perkembangan terbaru, jumlah korban diduga bertambah. Berdasarkan data yang dihimpun dari lingkungan setempat, korban diduga mencapai delapan orang. Namun, sebagian besar korban belum berani mengungkapkan kasus yang dialaminya.

“Ada perkembangan dari data yang kami dapat, total hingga delapan orang. Tapi banyak yang belum berani bicara, bahkan beberapa korban sudah dipindahkan oleh keluarganya ke luar wilayah,” ungkap Rangga.