Berita SukabumiBerita UtamaKabupaten Sukabumi

Akui Salah Pilih Kata, Rere Said Subakti Minta Maaf ke Insan Pers Sukabumi

×

Akui Salah Pilih Kata, Rere Said Subakti Minta Maaf ke Insan Pers Sukabumi

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI — Polemik penggunaan istilah “wartawan bodrex” yang sempat memicu reaksi keras dari kalangan jurnalis di Kabupaten Sukabumi akhirnya mereda setelah pemilik akun media sosial @Rere Said Subakti menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Pemilik akun tersebut, Reni Sumarni (36), mengakui bahwa unggahan yang dibuatnya telah menimbulkan multitafsir dan menyinggung perasaan sejumlah insan pers.

“Saya mohon maaf kepada rekan-rekan wartawan yang merasa tersinggung. Sungguh, itu bukan maksud saya,” ujarnya saat dikonfirmasi di Polsek Ciracap, Rabu (1/4/2026).

Baca Juga: Dinas PU Sukabumi Didorong Lebih Responsif Hadapi Keluhan Infrastruktur, Fokus Perbaikan Jalan di Tengah Keterbatasan

Reni menegaskan bahwa tidak ada niat sedikit pun untuk merendahkan profesi wartawan maupun lembaga pers. Ia menyebut, pernyataannya lebih ditujukan pada oknum tertentu dan tidak berkaitan dengan jurnalis secara umum.

“Saya tegaskan, itu bukan ditujukan kepada wartawan. Saya sangat menghormati profesi pers,” katanya.

Ia juga menyadari bahwa pemilihan kata dalam unggahannya kurang tepat sehingga memicu polemik di ruang publik. Kejadian ini, menurutnya, menjadi pelajaran penting untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat, terutama di media sosial.

“Ke depan saya akan lebih bijak dalam bermedia sosial agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini,” tambahnya.

Baca Juga: Disperkim Sukabumi Genjot Pembangunan Hunian Pascabencana di Palabuhanratu, Fokus Realisasi dan Kualitas Bangunan

Permintaan maaf tersebut disampaikan setelah muncul kecaman dari sejumlah jurnalis yang menilai istilah tersebut merendahkan profesi dan mencederai marwah pers. Mereka menegaskan bahwa kritik terhadap isu publik merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial yang dijamin undang-undang.

Dengan adanya klarifikasi dan permintaan maaf ini, diharapkan polemik dapat diselesaikan secara bijak, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga etika komunikasi di ruang digital.