Ekbis

BRI Luncurkan Aplikasi Qita, Persaingan Perbankan Digital Masuki Era Multi-Aplikasi

×

BRI Luncurkan Aplikasi Qita, Persaingan Perbankan Digital Masuki Era Multi-Aplikasi

Sebarkan artikel ini
Potret ILUSTRASI. Gedung kantor pusat Bank BRI Jakarta (KONTAN/Carolus Agus Waluyo/Yosep Taryawan)

SUKABUMI – Persaingan layanan perbankan digital di Indonesia terus berkembang. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) meluncurkan aplikasi baru bernama Qita sebagai bagian dari penguatan ekosistem digital perseroan di tengah tren penggunaan multi-aplikasi pada industri perbankan.

Peluncuran Qita menunjukkan perubahan strategi yang mulai diterapkan sejumlah bank besar, yakni menghadirkan lebih dari satu aplikasi untuk menjangkau kebutuhan nasabah yang lebih spesifik. Sebelumnya, strategi serupa juga terlihat pada Bank Central Asia (BCA) yang mengembangkan aplikasi BCA mobile dan myBCA secara bersamaan.

Aplikasi Qita dirancang sebagai platform pengelolaan keuangan yang dilengkapi berbagai fitur, seperti pengingat tagihan otomatis, pelacakan portofolio keuangan, hingga pembaruan layanan tanpa memerlukan pembaruan manual dari pengguna.

Baca Juga : Resep Oseng Kecap Kambing, Alternatif Olahan Daging Kurban selain Sate

Meski demikian, BRI belum memberikan keterangan resmi terkait posisi Qita dalam ekosistem digital perusahaan, termasuk kaitannya dengan BRImo yang selama ini menjadi layanan utama transaksi digital nasabah.

Di tengah peluncuran aplikasi baru tersebut, kinerja BRImo masih mencatat pertumbuhan yang positif. Pada kuartal I 2026, jumlah pengguna BRImo mencapai 47,8 juta atau tumbuh 18,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai transaksi melalui aplikasi tersebut juga meningkat 29,4 persen menjadi Rp2.042,2 triliun.

Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan transformasi digital menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan dana murah atau current account saving account (CASA) perseroan.

Baca Juga : Resep Jamu Jerawat Alami, Minuman Herbal untuk Bantu Menjaga Kesehatan Kulit

“Seluruh kanal digital mencatat pertumbuhan dua digit,” ujarnya.

Tren peningkatan transaksi digital juga terjadi di BCA. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengungkapkan sebanyak 99,8 persen transaksi nasabah kini dilakukan melalui kanal digital.

Pada kuartal I 2026, frekuensi transaksi melalui myBCA meningkat 45 persen, sedangkan nilai transaksi tumbuh 47 persen. Jumlah pengguna aplikasi tersebut juga naik 57 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“MyBCA dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih intuitif sekaligus menjadi pusat layanan finansial digital,” kata Hera.

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk masih mengandalkan aplikasi Livin’ by Mandiri sebagai kanal utama layanan digital. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna Livin’ mencapai 39 juta atau meningkat 27 persen secara tahunan. Frekuensi transaksi tercatat naik 13 persen menjadi 1,24 miliar transaksi.

Ekonom Bank BTN Myrdal Gunarto menilai peluncuran aplikasi baru oleh perbankan bukan menunjukkan kegagalan aplikasi lama, melainkan bagian dari strategi pengembangan layanan digital yang lebih tersegmentasi.

Menurutnya, banyak aplikasi generasi lama dibangun dengan sistem monolitik yang kurang fleksibel untuk pengembangan fitur baru. Karena itu, sejumlah bank kini mulai mengembangkan aplikasi berbasis teknologi microservices dan cloud-native agar lebih adaptif terhadap kebutuhan nasabah yang terus berkembang.

Dengan tren tersebut, persaingan layanan perbankan digital diperkirakan akan semakin mengarah pada penyediaan layanan yang lebih personal dan terintegrasi sesuai kebutuhan masing-masing segmen pengguna.(SE)