Opini

Ketika Membantu yang Lemah, Kita Sedang Menguatkan Diri Sendiri

×

Ketika Membantu yang Lemah, Kita Sedang Menguatkan Diri Sendiri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi membantu sesama. (Foto: AI Chat GPT/Mulvi M Noor).

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada satu kebiasaan kecil yang sering saya temui di sekitar kita. Ketika mendengar kata “jihad”, bayangan kita langsung melompat pada sesuatu yang besar, berat, dan jauh dari keseharian. Padahal, Nabi pernah memberi definisi yang jauh lebih dekat. Bahkan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ -وَأَحْسِبُهُ قَالَ يَشُكُّ الْقَعْنَبِيُّ -كَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ

Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, dia berkata, bahwa “Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‘Orang yang membantu dan menyantuni para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah’,
(salah seorang perawi yaitu al-Qa’nabi agak ragu dan menduga beliau ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam menambah dalam sabdanya) ‘Dan seperti orang yang salat malam tidak pernah istirahat dan juga seperti orang puasa tidak berbuka’.”
(Muttafaqun alaihi)

Hadits ini seperti menurunkan sesuatu yang tinggi menjadi sangat membumi. Membantu janda. Menyantuni orang miskin. Dua hal yang sering kita anggap kecil. Bahkan sering kita tunda karena merasa belum mampu memberi banyak.

Padahal Nabi menyandingkannya dengan jihad, dengan qiyamul lail, dengan puasa yang seolah tanpa jeda.

Saya jadi teringat satu kisah sederhana di Sukabumi. Bukan kisah besar. Tidak masuk berita. Tapi justru di situ letak nilainya.

Di salah satu sudut kampung, ada seorang ibu. Usianya tidak muda. Hidupnya juga tidak bisa dibilang lapang. Suaminya sudah lama meninggal. Ia tinggal dengan satu cucu yang masih sekolah. Penghasilannya dari jualan kecil-kecilan. Kadang cukup, kadang tidak.

Yang menarik, setiap pekan ia selalu menyisihkan sedikit dari dagangannya. Bukan untuk ditabung. Tapi untuk diberikan ke tetangganya yang lebih sulit. Ada janda lain yang lebih tua. Ada juga keluarga yang sedang sakit.

Saya sempat bertanya dalam hati. Dari mana kekuatan itu datang. Di saat orang lain yang lebih mampu masih menimbang-nimbang, beliau justru sudah bergerak.

Mungkin di situlah makna “al-sā’ī” dalam hadits ini. Bukan sekadar memberi. Tapi bergerak. Mencari. Mendekat.

Armalah dalam hadits ini bukan sekadar janda dalam arti administratif. Ia adalah simbol dari seseorang yang kehilangan penopang hidup. Bisa karena suami meninggal, bisa karena ditinggal, bahkan bisa karena tidak pernah memiliki penopang sejak awal.

Dalam realitas Sukabumi, kita tahu angka seperti ini tidak kecil. Ada di desa. Ada di kota. Kadang terlihat. Kadang tersembunyi di balik kesunyian rumah-rumah sederhana.

Dan sering kali, mereka tidak meminta.

Di sinilah letak ujian kita. Apakah kita menunggu diminta, atau kita yang mendekat.

Al-Qur’an memberi arah bahwa ada “perniagaan” yang tidak pernah rugi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ، تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya
(QS. Shof : 10-11)

Ayat ini sederhana. Tapi dalam. Allah menggunakan bahasa yang kita pahami. Perdagangan. Untung dan rugi. Tapi yang ditawarkan bukan materi. Yang ditawarkan adalah keselamatan dan nilai hidup.

Ibnu Baṭṭāl memberi catatan menarik. Bagi orang yang tidak mampu berjihad secara fisik, tidak mampu rutin qiyamul lail, tidak kuat puasa sunah, masih ada jalan terbuka. Yaitu membantu janda dan orang miskin. Jalan ini bisa mengantarkan pada derajat yang sama.

Saya merasa, ini kabar baik. Karena tidak semua orang punya kekuatan yang sama. Tapi semua orang punya kesempatan yang sama.

Kisah ibu di Sukabumi tadi mungkin terlihat kecil. Tapi bisa jadi di hadapan Allah nilainya sangat besar. Karena dilakukan dengan hati. Dengan keikhlasan. Tanpa perhitungan rumit.

Sering kali kita menunda kebaikan karena merasa harus menunggu mampu. Menunggu punya banyak. Menunggu punya waktu luang.

Padahal yang dibutuhkan bukan selalu jumlah besar. Tapi kehadiran.

Kadang yang dibutuhkan seseorang bukan sekadar uang. Tapi diperhatikan. Dihargai. Ditemani.

Dalam konteks hari ini, membantu bisa dalam banyak bentuk. Membantu akses pendidikan. Membuka peluang kerja. Menghubungkan orang dengan jaringan. Bahkan sekadar memastikan mereka tidak merasa sendirian.

Yang penting satu. Kita bergerak.

Karena yang dinilai bukan hanya hasil. Tapi usaha. Bukan hanya besar kecilnya bantuan. Tapi kesungguhan dalam menghadirkan diri.

Hadits ini seperti mengajak kita menata ulang cara kita melihat ibadah. Bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari lamanya kita berdiri dalam shalat. Tapi juga dari seberapa jauh kita hadir dalam kehidupan orang lain.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, saat kita membantu mereka yang lemah, sebenarnya kita sedang memperkuat diri kita sendiri.

Membersihkan hati. Mengurangi ego. Dan pelan-pelan, mendekat kepada Allah.

Tidak dengan cara yang rumit. Tapi dengan cara yang sangat manusiawi.

Wallahu a’lamu