SUKABUMI — Persoalan pengelolaan sampah di Kota Sukabumi kembali menjadi sorotan. Puluhan massa yang tergabung dalam Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Sukabumi mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, Jumat (18/9/2026).
Aksi tersebut salah satunya menyoroti keberlanjutan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul yang selama ini menjadi lokasi pemrosesan sampah dari wilayah Kota Sukabumi.
Di tengah produksi sampah yang disebut mencapai hampir 200 ton per hari, PC PMII mempertanyakan sejauh mana kesiapan Pemerintah Kota Sukabumi menghadapi keterbatasan daya tampung TPA Cikundul yang memiliki luas sekitar 10,372 hektare.
Massa aksi menyampaikan aspirasi dengan pengawalan kepolisian. Mereka juga sempat berupaya merangsek masuk ke kantor DLH untuk menyampaikan tuntutan secara langsung.
PC PMII Kota Sukabumi menilai persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbanyak pengangkutan menuju TPA. Menurut mereka, pemerintah harus memiliki strategi menyeluruh mulai dari pengurangan sampah di sumber, pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, pengolahan hingga pemrosesan akhir.
Ketua PC PMII Sukabumi, Fahmi Fauzi, melalui kajian organisasinya menilai peningkatan timbulan sampah harus diikuti dengan langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan TPA.
Bagi PMII, persoalan utama yang perlu dijawab pemerintah bukan hanya berapa banyak sampah yang berhasil diangkut setiap hari, tetapi juga berapa kapasitas maksimal TPA Cikundul dan sampai kapan lokasi tersebut mampu menampung sampah.
“Pemerintah harus mampu menjawab berapa kapasitas maksimal TPA Cikundul, berapa volume sampah yang masuk setiap hari, berapa sisa daya tampung yang tersedia, bagaimana kondisi teknis TPA, serta bagaimana mitigasi risiko lingkungan dan keselamatan masyarakat,” demikian poin kajian PC PMII Kota Sukabumi.
PMII juga mendesak Pemkot Sukabumi membuka data pengelolaan persampahan kepada masyarakat. Data tersebut, menurut mereka, penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan sekaligus mengukur kesiapan pemerintah menghadapi persoalan kapasitas TPA.
Data yang diminta antara lain timbulan sampah harian, kapasitas dan sisa daya tampung TPA Cikundul, volume sampah yang masuk setiap hari, anggaran pengelolaan persampahan, serta target dan capaian pengurangan sampah.
PC PMII mengingatkan agar langkah penanganan tidak baru dilakukan ketika TPA Cikundul telah berada dalam kondisi kritis.
Menurut mereka, Pemkot Sukabumi perlu menyiapkan rencana jangka pendek, menengah dan panjang untuk menghadapi persoalan kapasitas TPA. Mitigasi dinilai perlu dilakukan lebih awal agar keterbatasan daya tampung tidak berkembang menjadi persoalan lingkungan yang lebih besar.
“Jangan sampai Pemerintah Kota Sukabumi baru mengambil langkah ketika TPA telah menghadapi persoalan kapasitas dan daya tampung. Mitigasi harus dilakukan sebelum persoalan berkembang menjadi krisis lingkungan,” demikian sikap PC PMII dalam kajiannya.
Selain TPA, massa juga menyoroti keterbatasan Tempat Penampungan Sementara (TPS) di sejumlah wilayah. Fasilitas TPS dinilai perlu tersedia secara layak dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Penguatan TPS 3R dan bank sampah juga menjadi bagian dari tuntutan. PMII mendorong agar fasilitas, sumber daya manusia, pembinaan, pengawasan dan dukungan anggaran untuk pengelolaan sampah berbasis masyarakat diperkuat.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi volume sampah yang akhirnya dibawa menuju TPA Cikundul.
PC PMII juga mendorong Pemkot Sukabumi tidak hanya mengandalkan pola pengangkutan sampah dari TPS menuju TPA.
Pengembangan teknologi pengolahan sampah dinilai perlu dilakukan untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA Cikundul.
Di sisi lain, penguatan bank sampah berbasis masyarakat juga dinilai perlu diarahkan tidak hanya pada kegiatan pemilahan, tetapi juga pendampingan, penguatan kelembagaan hingga akses terhadap pasar hasil daur ulang.
PMII menilai pengelolaan sampah harus dibangun sebagai satu sistem dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, keberadaan TPA Cikundul tidak menjadi satu-satunya tumpuan dalam menghadapi terus bertambahnya timbulan sampah di Kota Sukabumi.
“Pengelolaan sampah harus dilihat sebagai satu sistem yang utuh,” menjadi salah satu penekanan PC PMII dalam kajiannya.

