BANDUNG – Nilai-nilai yang tumbuh dalam kehidupan pesantren dinilai memiliki relevansi lebih luas dalam kehidupan bermasyarakat. Pandangan tersebut mengemuka dalam NLA Lecture Series #2 yang digelar Direktur National Leadership Academy (NLA) sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hasim Adnan, di Kota Bandung, Minggu (18/10/2026).
Forum bertajuk “Sinema, Kebudayaan, dan Imajinasi Kebangsaan” itu digelar dalam momentum Hari Santri. Selain membahas sinema dan kebudayaan, diskusi juga membuka pembahasan mengenai karakter, mentalitas dan nilai yang melekat dalam kehidupan santri.
Hasim dalam forum tersebut mengangkat kembali kontribusi pesantren dan ekosistem Nahdlatul Ulama (NU) dalam perkembangan kebudayaan Indonesia. Salah satu contoh yang disampaikan adalah Djamaluddin Malik yang memiliki kiprah dalam perfilman nasional dan keterlibatan dengan Lesbumi NU.
Baca Juga: Hasim Adnan Dorong Perfilman Jadi Bagian dari Penguatan Kebudayaan Indonesia
“Selama ini, kehidupan pesantren sering kali hanya diidentikkan dengan kegiatan mengaji, ibadah, dan aktivitas keagamaan lainnya. Padahal, kita juga memiliki sosok seperti Djamaluddin Malik yang menunjukkan bahwa pesantren dan ekosistem NU memiliki kontribusi dalam perkembangan kebudayaan, termasuk perfilman nasional,” kata Hasim.
Pembahasan mengenai nilai santri kemudian mendapat penekanan dari sastrawan Acep Zamzam Noor. Menurut Acep, kesantrian tidak semata-mata ditentukan oleh status formal seseorang, tetapi tercermin dari nilai yang dibawa dalam kehidupan bermasyarakat.
“Yang terpenting bukanlah kesantrian dalam arti formal, melainkan bagaimana nilai-nilai yang dimiliki oleh santri dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Santri bukan sekadar identitas, melainkan juga mentalitas dan karakter,” ujar Acep.
Baca Juga: Hasim Adnan Soroti Peran Santri dan Pesantren dalam Perkembangan Kebudayaan Indonesia
Budayawan Sujiwo Tejo kemudian mengangkat aspek adab dalam pendidikan pesantren. Ia mencontohkan berbagai kebiasaan yang mengajarkan penghormatan kepada orang lain sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
Menurut Sujiwo, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang yang memiliki pengetahuan. Ilmu juga perlu disertai nilai yang membuatnya bermanfaat dalam kehidupan.
“Mungkin bagi orang lain itu dianggap feodal, tetapi justru di situlah letak pentingnya. Ilmu bisa didapatkan dari Google dan sebagainya, tetapi ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang barokah,” kata Sujiwo.
Hasim melihat pembahasan tersebut sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai kebudayaan. Menurutnya, pembahasan mengenai santri dan pesantren tidak hanya berkaitan dengan lingkungan pendidikan keagamaan, tetapi juga dapat dikaitkan dengan berbagai bidang kebudayaan.
Karena itu, NLA Lecture Series mempertemukan perspektif dari berbagai kalangan untuk membahas bagaimana nilai, kebudayaan dan kreativitas dapat berhubungan dengan kehidupan masyarakat.
Diskusi tersebut juga diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat. Selain Hasim Adnan, forum menghadirkan Acep Zamzam Noor, Sujiwo Tejo dan Riri Riza, sementara Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar turut menyampaikan sambutan secara daring.
Melalui forum tersebut, pembahasan mengenai santri tidak hanya ditempatkan sebagai identitas, tetapi juga sebagai bagian dari percakapan mengenai karakter dan kebudayaan masyarakat Indonesia.

