JAKARTA – Pemerintah Brasil terus berupaya meningkatkan keamanan masyarakat, salah satunya dengan menekan angka pencurian ponsel pintar yang masih menjadi persoalan serius. Isu ini bahkan menjadi perhatian dalam kontestasi politik di negara Amerika Selatan tersebut.
Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva dan penantangnya dari kubu sayap kanan, Flavio Bolsonaro, sama-sama menyoroti pentingnya penindakan tegas terhadap pelaku pencurian ponsel.
Lula telah menandatangani undang-undang yang meningkatkan hukuman bagi pelaku pencurian perangkat elektronik hingga 10 tahun penjara. Selain itu, pemerintah Brasil juga meluncurkan platform untuk mendaftarkan perangkat sekaligus melaporkan kasus pencurian ponsel.
Baca Juga : Resep Jamu Kunci Sirih, Minuman Tradisional dengan Aroma Rempah yang Khas
Dalam sebuah pidato, Lula menegaskan bahwa kebijakan tersebut ditujukan untuk menindak pelaku kejahatan dan pihak yang memperjualbelikan barang hasil curian, bukan masyarakat yang membeli ponsel tanpa mengetahui asal-usulnya.
“Saya hanya ingin menyasar pencurinya serta toko yang membeli dan menjual ponsel hasil curian tersebut. Saya tidak ingin merugikan orang tidak bersalah yang membelinya karena kebutuhan,” ujar Lula, dikutip dari Reuters, Selasa (20/10/2026).
Sementara itu, Flavio Bolsonaro mengusulkan hukuman penjara minimal delapan tahun bagi pelaku pencurian perangkat elektronik. Ia juga menyampaikan komitmennya untuk memberikan tindakan tegas terhadap pelaku kejahatan tersebut.
“Pencuri ponsel akan masuk penjara,” tegas Bolsonaro dalam siaran langsung setelah pemungutan suara putaran pertama.
Pencurian Ponsel Masuk Daftar Kekhawatiran Warga
Berdasarkan survei pada Maret 2026, pencurian ponsel menempati urutan keempat dalam daftar kekhawatiran keamanan masyarakat Brasil. Persoalan ini bahkan berada di atas kekhawatiran terhadap peluru nyasar dan pembobolan rumah.
Di sisi lain, angka pembunuhan di Brasil menunjukkan tren penurunan. Menurut data Forum Keamanan Publik Brasil, tingkat pembunuhan turun sekitar 40 persen dalam satu dekade terakhir, menjadi 15,4 kasus per 100.000 penduduk pada 2025.
Meski demikian, pencurian ponsel masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Forum Keamanan Publik Brasil mencatat sekitar 830.000 kasus pencurian ponsel dilaporkan sepanjang 2025. Angka tersebut memang mengalami penurunan dibandingkan 2023, tetapi jumlahnya masih tergolong tinggi.
Peneliti dari Pusat Studi Kekerasan Universitas São Paulo, Natasha Bachini Pereira, menilai tingginya angka pencurian ponsel turut menjelaskan mengapa persoalan tersebut memiliki dampak politik yang besar.
Menurutnya, masyarakat lebih mungkin mengetahui atau mengalami langsung pencurian ponsel dibandingkan kejahatan lain, seperti pencurian mobil, pembunuhan, maupun penculikan.
Harga Ponsel Mahal, Kerugian Korban Semakin Besar
Besarnya dampak pencurian ponsel di Brasil juga berkaitan dengan tingginya harga perangkat elektronik di negara tersebut.
Brasil dikenal sebagai salah satu negara dengan aktivitas daring yang tinggi. Media sosial dan pembayaran elektronik telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Kondisi ini membuat ponsel pintar sulit dipisahkan dari berbagai aktivitas warga.
Namun, harga perangkat yang mahal membuat kehilangan ponsel menjadi beban finansial tersendiri bagi para korban.
Penelitian Deutsche Bank menemukan bahwa kombinasi tarif, pajak, dan pelemahan mata uang membuat Brasil menjadi negara dengan harga iPhone 17 Pro termahal kedua di dunia.
Bahkan, ponsel dengan spesifikasi lebih rendah pun masih menjadi barang yang membutuhkan pengeluaran besar bagi sebagian masyarakat.
Firma riset pasar IDC mencatat harga rata-rata ponsel di Brasil pada 2025 mencapai sekitar 2.310 reais atau setara dengan Rp8,27 juta. Nilai tersebut setara dengan sekitar dua pertiga pendapatan bulanan rata-rata masyarakat Brasil.
Aksi Perampasan Ponsel di Jalanan Masih Terjadi
Kasus pencurian ponsel secara terang-terangan juga masih terjadi di Brasil. Salah satu pengalaman tersebut dialami kreator konten Tabata Lenk.
Lenk menceritakan bahwa dirinya menjadi korban perampasan ketika terjebak kemacetan. Dua pelaku yang mengendarai sepeda motor memecahkan kaca mobilnya dan mengambil ponsel baru yang diletakkan di dasbor.
Peristiwa tersebut terasa semakin berat karena Lenk mengaku baru saja kehilangan pekerjaan di São Paulo.
Rekaman kejadian yang berlangsung pada akhir Agustus itu terekam kamera dasbor mobil miliknya dan kemudian viral di media sosial.
Lenk mengaku merasa sangat tidak aman setelah kejadian tersebut. Ia bahkan baru berani kembali mengemudi sendirian setelah memasang lapisan kaca film pada mobilnya.
Pengalaman itu membuatnya menilai bahwa komitmen para politisi terhadap keamanan publik menjadi hal penting yang perlu dipertimbangkan masyarakat.
“Tidak seorang pun seharusnya merasa takut untuk keluar rumah, berjalan di jalanan, atau menggunakan ponsel mereka sendiri,” ujar Lenk.
Tingginya angka pencurian ponsel di Brasil menunjukkan bahwa persoalan keamanan tidak hanya berkaitan dengan penanganan kejahatan berat, tetapi juga dengan perlindungan masyarakat dari tindak kriminal yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, upaya menekan pencurian ponsel kini menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian besar, baik dari pemerintah maupun para kandidat politik di Brasil.(SE)

