Opini

Antara Menasihati dan Menghakimi

×

Antara Menasihati dan Menghakimi

Sebarkan artikel ini
Mulyawan S Nugraha. (Foto: Istimewa)

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Saya pernah berada di dua posisi. Menasihati orang lain. Dan dinasihati orang lain.

Dua-duanya tidak mudah.

Kadang saat kita menasihati, kita merasa benar. Lalu tanpa sadar nada kita berubah. Lebih tinggi. Lebih tajam.

Padahal nasihat bukan tentang merasa lebih baik.

Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

المؤمن يَسْتُرُ ويَنْصَحُ ، والفاجرُ يهتك ويُعيِّرُ

Seorang mukmin menutupi aib dan menasihati. Sedangkan orang fajir membuka aib dan mempermalukan.

Saya tersentak di sini.

Berarti perbedaan antara mukmin dan bukan, bukan pada apakah dia menegur atau tidak. Tapi pada cara dia melakukannya.

Apakah ia menjaga kehormatan saudaranya, atau justru menjatuhkannya.

Hari ini kita hidup di zaman terbuka. Kesalahan orang mudah tersebar. Komentar datang dari mana-mana.

Tapi di situlah ujian kita.

Apakah kita ikut menambah luka, atau justru menjadi penutup luka.

Saya belajar bahwa nasihat terbaik sering kali tidak terdengar oleh banyak orang. Ia disampaikan diam-diam. Tanpa panggung.

Karena yang ingin dicapai bukan pengakuan. Tapi perubahan.

Allah mengingatkan kita dalam surat Al-‘Asr:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

(QS. Al-‘Asr: 3)

Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Dua kata ini tidak bisa dipisahkan. Kebenaran tanpa kesabaran bisa melukai. Kesabaran tanpa kebenaran bisa menyesatkan.

Kita butuh keduanya.

Saya mulai mengoreksi diri. Saat ingin menasihati, saya tanya dulu. Apakah ini karena saya peduli, atau karena saya ingin terlihat benar?

Kalau jawabannya yang kedua, lebih baik saya diam.

Karena nasihat yang lahir dari ego tidak akan sampai ke hati.

Tapi kalau lahir dari cinta, bahkan kata yang sederhana bisa menyentuh.

Menasihati itu bukan soal kata. Tapi soal hati.