Kesehatan

Benarkah Asam Lambung Bisa Sebabkan Kematian? Begini Penjelasannya

×

Benarkah Asam Lambung Bisa Sebabkan Kematian? Begini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi seorang wanita mengalami gejala GERD. (Foto: Magnific/KamranAydinov)

JAKARTA – Benarkah penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) bisa menyebabkan kematian? Pertanyaan ini kerap muncul karena banyak penderita mengalami nyeri dada hebat saat asam lambung kambuh hingga menimbulkan kepanikan.

Dikutip dari Halodoc, Selasa (14/07/2026), Secara medis, GERD bukan penyakit yang menyebabkan seseorang meninggal secara mendadak. Namun, kondisi tersebut tetap tidak boleh dianggap sepele karena dapat memicu berbagai komplikasi serius apabila berlangsung dalam waktu lama tanpa penanganan.

Asam lambung naik terjadi ketika cairan lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Kondisi ini biasanya menimbulkan sensasi panas di dada (heartburn), rasa pahit di mulut, hingga kesulitan menelan.

Baca Juga: Studi Terbaru: Makan Sayur dan Buah Lebih Banyak Bisa Lindungi Otak dari Demensia

Pada sebagian orang, nyeri dada akibat GERD bahkan menyerupai gejala serangan jantung sehingga sering menimbulkan salah persepsi.

Dalam banyak kasus, kematian mendadak yang dikira akibat asam lambung sebenarnya lebih sering disebabkan serangan jantung yang terlambat dikenali. Kedua kondisi tersebut memang memiliki beberapa gejala yang hampir sama, seperti nyeri dada, mual, hingga keringat dingin.

Meski tidak mematikan secara langsung, GERD kronis tetap berisiko menimbulkan kerusakan pada kerongkongan. Paparan asam lambung secara terus-menerus dapat memicu peradangan atau esofagitis, luka pada kerongkongan, hingga perdarahan saluran cerna.

Baca Juga: Jangan Abaikan Gusi Berdarah, Studi Temukan Kaitan dengan Penurunan Fungsi Ginjal

Komplikasi lain yang perlu diwaspadai adalah penyempitan kerongkongan (striktur esofagus), Barrett’s Esophagus, hingga kanker esofagus. Risiko tersebut umumnya muncul pada penderita yang mengalami refluks asam lambung selama bertahun-tahun tanpa pengobatan yang memadai.

Sejumlah kebiasaan sehari-hari diketahui dapat memperburuk GERD. Di antaranya langsung berbaring setelah makan, mengonsumsi makanan tinggi lemak dan pedas secara berlebihan, merokok, obesitas, konsumsi alkohol maupun kafein berlebihan, serta stres berkepanjangan.

Untuk mengurangi risiko komplikasi, penderita dianjurkan mengubah pola hidup dengan makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, menghindari makan menjelang tidur, menjaga berat badan ideal, serta mengurangi konsumsi makanan yang memicu naiknya asam lambung.

Baca Juga: Obesitas Masuk Lima Besar Masalah Kesehatan di Indonesia

Obat antasida maupun obat penurun produksi asam lambung dapat membantu meredakan gejala. Namun, penggunaan obat tetap sebaiknya disesuaikan dengan anjuran tenaga medis, terutama bila keluhan sering kambuh.

Penderita juga disarankan segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami nyeri dada berat yang menjalar ke lengan atau rahang, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, sulit menelan, atau mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Gastroenterology juga menunjukkan bahwa penderita GERD dengan gejala berat yang berlangsung lama memiliki risiko lebih tinggi mengalami adenokarsinoma esofagus. Karena itu, pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi dianjurkan bagi pasien dengan GERD kronis agar komplikasi dapat dideteksi sejak dini.