SUKABUMI – Pelestarian budaya Sunda di Kabupaten Sukabumi tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan. Keterlibatan generasi muda dinilai menjadi bagian penting agar nilai-nilai budaya tetap dikenal dan diwariskan di tengah perubahan zaman.
Pesan tersebut mengemuka dalam gelaran Sekar Budaya pada puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-156 di Alun-alun Palabuhanratu, Kamis (10/9/2026).
Berbagai unsur budaya Sunda ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari kesenian tradisional, penggunaan bahasa Sunda hingga pakaian adat. Kehadiran unsur-unsur tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali budaya daerah kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Baca Juga: Bisa Dikemas Jadi Paket Terpadu, Disbudpora Soroti Potensi Wisata Warungkiara
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi, Yudi Mulyadi, mengatakan pelestarian budaya perlu dilakukan secara berkelanjutan agar warisan yang ditinggalkan generasi terdahulu tidak semakin tergerus perkembangan zaman.
“Sekar Budaya ini menjadi bagian dari upaya kita untuk menjaga, melestarikan dan memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya kepada masyarakat, terutama kepada generasi muda,” ujar Yudi Mulyadi, Minggu (13/9/2026).
Menurutnya, kegiatan budaya tidak semestinya hanya berhenti sebagai tontonan dalam sebuah perayaan. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, kebersamaan dan identitas daerah yang perlu dipahami oleh masyarakat.
Baca Juga: Tiga Pejabat Baru Disbudpora Kabupaten Sukabumi Dilantik, Diminta Perkuat Kinerja dan Inovasi
Karena itu, generasi muda memiliki posisi penting dalam keberlanjutan budaya Sunda di Kabupaten Sukabumi. Pengenalan terhadap bahasa, kesenian, pakaian adat maupun nilai-nilai tradisi menjadi salah satu langkah agar warisan budaya tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
“Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin budaya tidak hanya menjadi tontonan. Ada nilai sejarah, kebersamaan dan identitas yang harus dipahami serta diwariskan,” katanya.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan pola kehidupan masyarakat yang terus berkembang. Budaya daerah menghadapi tantangan untuk tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang semakin dinamis.
Yudi berharap pelestarian budaya Sunda terus mendapatkan ruang, termasuk dengan melibatkan generasi muda. Menurutnya, keberadaan mereka penting agar nilai dan tradisi yang diwariskan para pendahulu tidak berhenti pada satu generasi.
Sekar Budaya dalam rangkaian HJKS ke-156 pun menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan berbagai unsur budaya lokal. Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan tersebut membawa pesan bahwa keberlanjutan identitas budaya Sukabumi juga bergantung pada bagaimana generasi berikutnya mengenal dan mewarisinya.

