Sukabumi

Bukan Sekadar Serangga, Turaes Disebut-sebut Pertanda Alam, Ini Kata Sains

×

Bukan Sekadar Serangga, Turaes Disebut-sebut Pertanda Alam, Ini Kata Sains

Sebarkan artikel ini
Bukan Sekadar Serangga, Turaes Disebut-sebut Pertanda Alam, Ini Kata Sains
Bukan Sekadar Serangga, Turaes Disebut-sebut Pertanda Alam, Ini Kata Sains. Foto : Istimewa

SUKABUMI – Bagi masyarakat Sukabumi, istilah “turaes” sudah sangat akrab di telinga. Hewan yang dikenal dengan suara nyaring ini diyakini sebagai pertanda datangnya musim kemarau panjang. Dalam bahasa Indonesia, turaes sendiri dikenal sebagai garépung, sejenis serangga yang aktif mengeluarkan suara khas.

Kepercayaan ini telah diwariskan secara turun-temurun. Saat suara turaes mulai sering terdengar, masyarakat dahulu menganggapnya sebagai sinyal alam bahwa musim kemarau akan segera tiba.

Namun menariknya, di balik kearifan lokal tersebut, ternyata ada penjelasan dari sisi sains.

Baca Juga : Ramuan Herbal Ala Sukabumi, Warisan Tradisi yang Dipercaya Menjaga Stamina Pria

Secara ilmiah, garépung termasuk jenis serangga yang aktivitas dan intensitas suaranya sangat dipengaruhi oleh suhu dan kondisi lingkungan. Suara nyaring yang dihasilkan berasal dari getaran tubuh atau sayapnya, yang umumnya meningkat saat suhu udara lebih hangat.

Ketika memasuki masa peralihan menuju kemarau, suhu udara cenderung meningkat dan kelembapan menurun. Kondisi ini membuat serangga seperti garépung menjadi lebih aktif, termasuk dalam menghasilkan suara. Itulah sebabnya, bunyi turaes terdengar lebih sering dan lebih keras.

Fenomena ini sebenarnya bukan pertanda langsung kemarau, melainkan efek dari perubahan kondisi lingkungan yang memang terjadi menjelang musim kering. Dalam ilmu klimatologi, musim kemarau di Indonesia juga dipengaruhi oleh pola angin monsun serta fenomena global seperti El Niño yang dapat memperpanjang periode kering.

Baca Juga : Ramuan Tradisional Pinang Muda Ala Sukabumi, Warisan Leluhur untuk Stamina Pria

Dengan kata lain, apa yang dipercaya masyarakat Sukabumi tentang turaes bukanlah sekadar mitos. Ada keterkaitan logis antara perilaku hewan dengan perubahan alam, meskipun tidak bisa dijadikan acuan utama untuk memprediksi cuaca.

Kearifan lokal ini menunjukkan bagaimana nenek moyang mampu membaca tanda-tanda alam melalui pengamatan jangka panjang. Mereka mungkin tidak menggunakan alat modern, tetapi memiliki kepekaan tinggi terhadap lingkungan sekitar.

Kini, di era teknologi, informasi cuaca bisa diakses dengan mudah dan lebih akurat. Namun, keberadaan pengetahuan lokal seperti turaes tetap penting untuk dilestarikan sebagai bagian dari budaya sekaligus pengingat bahwa alam selalu memberi “sinyal” bagi manusia yang mau memperhatikannya.

Baca Juga : Rahasia Panjang Umur: Ramuan Awet Muda ala Sukabumi Warisan Mbah Buyut

Perpaduan antara kearifan lokal dan penjelasan sains ini menjadikan fenomena turaes bukan hanya menarik, tetapi juga memperkaya cara pandang masyarakat dalam memahami alam.(SE)