Opini

Kalau Dua Dirham Saja Membuat Rasulullah Berpaling

×

Kalau Dua Dirham Saja Membuat Rasulullah Berpaling

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi — Kisah dua dirham mengajarkan pentingnya menjaga amanah, meski nilai yang diambil terlihat kecil. (Foto: AI Chatgpt/Mulvi M Noor)

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha / Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada sebuah kisah yang menurut saya semakin lama justru semakin menarik. Bukan karena kisahnya terjadi di medan perang, bukan pula karena tokohnya seorang sahabat Nabi. Yang membuatnya menarik adalah soal jumlah barang yang dicuri: dua dirham.

Dua dirham!

Kalau dibawa ke zaman sekarang, mungkin nilainya tidak seberapa. Tidak cukup untuk membeli makan siang yang layak, apalagi membayar cicilan kendaraan. Tetapi justru karena kecil itulah kisah ini menjadi sangat besar. Ia seperti sedang menampar kita dari jarak jauh: jangan pernah mengukur dosa hanya dari nominalnya.

عن زيد لن خالد الوجهات رضي الله عنه قال،
أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ تُوُفِّيَ يَوْمَ خَيْبَرَ، فَذَكَرُوا ذَٰلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. فَتَغَيَّرَتْ وُجُوهُ النَّاسِ لِذٰلِكَ، فَقَالَ: إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا فِيْهِ خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ، مَا يَسْوِي دِرْهَمَيْنِ.

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu:

“Seorang sahabat dari Rasulullah shalallahu alahi wa salam wafat pada hari (perang) Khaibar, lalu hal itu diberitahukan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Maka beliau bersabda:

‘Shalatkanlah jenazah teman kalian!’

Wajah para sahabat pun berubah karena biasanya Rasulullah ﷺ yang memimpin shalat jenazah.

Lalu beliau bersabda:

‘Sesungguhnya teman kalian telah berkhianat di jalan Allah (ghulul).’

Kami pun memeriksa barang-barangnya, dan ternyata kami menemukan manik-manik milik Yahudi, yang nilainya tidak lebih dari dua dirham.”

(HR. Abu Dawud (2713), Ahmad (16316), dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).

Yang menarik, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan, “Ah, cuma dua dirham. Sudahlah, jangan diperpanjang.”

Tidak.

Beliau justru meminta agar para sahabat sendirilah yang menshalatkan jenazah tersebut.

Ini bukan berarti jenazah itu tidak boleh dishalatkan. Rasulullah tidak melarang. Tetapi beliau memilih tidak menjadi imam. Mengapa? Karena ada pesan pendidikan yang jauh lebih penting daripada sekadar ritual.

Seolah-olah Rasulullah sedang mengatakan kepada masyarakat: Jangan kira amanah boleh dikhianati hanya karena yang diambil sedikit.

Di sinilah persoalan korupsi sebenarnya bermula. Korupsi tidak selalu dimulai dari angka miliaran. Kadang-kadang ia dimulai dari sesuatu yang dianggap remeh: uang kas yang “dipinjam” tanpa izin, fasilitas kantor yang digunakan seenaknya, bensin kendaraan dinas untuk urusan keluarga, anggaran kegiatan yang dibulatkan sedikit ke atas, atau kuitansi yang tiba-tiba memiliki kemampuan matematika yang luar biasa.

Angka kecil sering menjadi latihan bagi dosa besar.

Hari ini mengambil sedikit. Besok sedikit lagi. Lusa sudah merasa biasa. Setelah itu muncul kalimat yang sangat terkenal: “Semua orang juga begitu.”

Nah, kalau sudah sampai pada kalimat itu, persoalannya bukan lagi sekadar mengambil uang. Kita sudah mulai mencuri ukuran moral dari dalam diri sendiri.

Yang lebih berbahaya adalah ketika korupsi diberi nama baru agar terdengar lebih sopan. Korupsi disebut “uang terima kasih”. Pungutan disebut “partisipasi”. Mark-up disebut “penyesuaian”. Gratifikasi disebut “tanda persahabatan”.

Bahasa memang kadang-kadang sangat baik hati kepada keburukan. Ia membuat sesuatu yang salah terdengar seolah-olah wajar.

Padahal Allah sudah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Ayat ini menarik karena menggunakan kata amanat. Artinya, persoalan korupsi bukan semata-mata persoalan uang. Ia adalah persoalan pengkhianatan terhadap kepercayaan.

Seorang pejabat diberi amanah mengelola anggaran. Seorang guru diberi amanah mendidik. Seorang pimpinan diberi amanah mengambil keputusan. Seorang bendahara diberi amanah menjaga keuangan. Bahkan seorang pegawai yang memegang printer kantor pun sebenarnya sedang memegang amanah.

Karena itu, ukuran integritas bukan hanya ketika ada kamera pengawas.

Integritas justru diuji ketika tidak ada yang melihat.

Kita mungkin sangat takut kepada auditor, inspektorat, atasan, aparat penegak hukum, atau wartawan. Itu bagus. Tetapi dalam pandangan Islam, ada pengawas yang jauh lebih dekat: hati nurani dan Allah SWT.

Masalahnya, hati nurani juga bisa dilatih untuk diam.

Awalnya ia berkata, “Jangan.”

Lalu kita menjawab, “Cuma sedikit.”

Besok hati nurani berkata lagi, “Jangan.”

Kita jawab, “Semua orang juga melakukan.”

Lama-lama hati nurani berhenti bicara. Bukan karena ia setuju, tetapi karena sudah terlalu sering tidak didengarkan.

Inilah yang menjadikan kisah dua dirham tadi terasa sangat relevan. Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan bahwa amanah tidak mengenal ukuran kecil dan besar. Yang kecil bisa menjadi besar karena ia menunjukkan karakter. Yang besar kadang hanya memperlihatkan bahwa kebiasaan buruk telah menemukan kesempatan.

Maka janganlah kita merasa suci hanya karena tidak pernah mengambil uang miliaran. Bisa jadi kita memang tidak mengambil miliaran karena memang tidak pernah diberi kesempatan.

Yang perlu ditanyakan adalah: bagaimana perilaku kita ketika kesempatan itu datang?

Sebab kejujuran bukan hanya kemampuan berkata “tidak” ketika diawasi. Kejujuran adalah kemampuan berkata “tidak” ketika kita sebenarnya bisa berkata “ya” dan mungkin tidak akan ketahuan.

Barangkali inilah pelajaran paling dalam dari kisah seorang sahabat yang hanya mengambil sesuatu senilai dua dirham.

Rasulullah ﷺ tidak sedang mengajarkan bahwa manusia harus dijauhi karena kesalahannya. Beliau sedang mengajarkan bahwa kesalahan terhadap amanah tidak boleh dinormalisasi.

Manusia boleh salah. Tetapi jangan sampai masyarakat kehilangan rasa bersalah terhadap kesalahan.

Sebab kalau mengambil dua dirham saja sudah menjadi persoalan serius di hadapan Rasulullah, lalu apa yang harus kita katakan terhadap mereka yang menghilangkan miliaran rupiah dari uang yang seharusnya menjadi hak rakyat?

Mungkin jawabannya bukan dengan marah-marah.

Cukup kita mulai dari diri sendiri: jangan mengambil yang bukan hak kita, meskipun jumlahnya kecil. Jangan menggunakan amanah untuk kepentingan pribadi. Jangan membenarkan kesalahan hanya karena banyak orang melakukannya.

Sebab pada akhirnya, yang dibawa manusia ke hadapan Allah bukanlah laporan keuangan yang sudah dirapikan, melainkan pertanggungjawaban atas setiap amanah yang pernah dipercayakan kepadanya.

Dan barangkali, sebelum bertanya berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, lebih baik kita bertanya: berapa banyak yang sebenarnya bukan milik kita?

Wallahu ‘alamu