SUKABUMI – Durian dikenal sebagai buah dengan rasa khas dan aroma kuat. Namun, bagi sebagian orang, mengonsumsi durian dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan keluhan seperti pusing, mual, hingga rasa panas di tubuh. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Sukabumi dan wilayah Sunda sejak lama mengenal cara tradisional untuk meredakannya, yakni minum air dari bekas kulit durian.
Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam kepercayaan masyarakat Sunda tempo dulu, durian dianggap memiliki sifat panas. Untuk menetralkan efek tersebut, digunakan bagian lain dari buah yang sama, yakni kulit durian. Air yang dituangkan ke dalam kulit durian kemudian diminum dan dipercaya dapat mengurangi rasa tidak nyaman setelah menyantap durian.
Kepercayaan tersebut berangkat dari filosofi hidup masyarakat Sunda yang memandang alam sebagai satu kesatuan. Jika suatu makanan menimbulkan ketidakseimbangan dalam tubuh, maka penawarnya diyakini masih berasal dari unsur yang sama.
Baca Juga : Ramuan Obat Kuat Stamina Pria dengan Akar dan Buah Pinang
Namun, dari sisi kesehatan modern, belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa kulit durian memiliki kandungan tertentu yang mampu menetralisir efek konsumsi durian. Keluhan yang kerap disebut sebagai “mabuk durian” umumnya disebabkan oleh tingginya kandungan gula dan kalori, lemak, serta konsumsi durian dalam jumlah banyak dalam waktu singkat.
Ahli kesehatan menilai, rasa membaik setelah minum air dari kulit durian kemungkinan lebih disebabkan oleh efek hidrasi, bukan karena zat khusus dari kulit durian itu sendiri. Minum air putih memang dapat membantu tubuh beradaptasi setelah mengonsumsi makanan berat.
Meski menjadi bagian dari tradisi, penggunaan kulit durian sebagai wadah minum juga memiliki risiko kebersihan. Kulit durian yang tidak dibersihkan dengan baik berpotensi mengandung bakteri atau kotoran yang dapat mengganggu kesehatan.
Karena itu, masyarakat tetap disarankan untuk berhati-hati dan tidak menjadikan cara ini sebagai satu-satunya solusi, terutama bagi penderita diabetes, hipertensi, atau gangguan pencernaan.
Kesimpulannya, minum air dari kulit durian untuk mengatasi mabuk durian lebih tepat disebut sebagai mitos secara medis karena belum didukung bukti ilmiah. Namun, sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Sukabumi, tradisi ini mencerminkan nilai budaya dan filosofi keseimbangan hidup yang patut dihargai selama dilakukan dengan aman.(SE)

