Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ada gejala yang menarik di negeri ini. Hampir semua orang mengaku sedang berjuang demi rakyat, demi agama, demi bangsa, atau demi masa depan anak cucu. Anehnya, setelah perjuangan itu berhasil, yang berubah paling cepat justru pagar rumahnya. Mobilnya berganti. Rekeningnya bertambah. Sementara rakyat tetap diminta bersabar, agama tetap diminta menjadi slogan, dan masa depan anak cucu masih dijanjikan pada periode berikutnya.
Barangkali memang benar, dunia itu manis. Terlalu manis. Sampai-sampai banyak orang terkena diabetes moral.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan berabad-abad yang lalu:
«عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ. خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء»
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.”
(HR. Muslim)
Hadis ini terasa seperti sedang membaca berita hari ini. Yang diperingatkan Nabi bukan kemiskinan, melainkan kenikmatan. Sebab orang miskin biasanya masih sadar sedang diuji. Yang kaya sering lupa bahwa dirinya juga sedang diuji. Bahkan, kadang ia mengira semua yang dimilikinya adalah bukti bahwa Allah pasti meridhainya. Padahal, ujian tidak selalu datang dalam bentuk musibah. Jabatan juga ujian. Mikrofon juga ujian. Kamera juga ujian. Tepuk tangan juga ujian.
Ironinya, kita hidup pada zaman ketika pencitraan sering lebih penting daripada kenyataan. Program belum selesai, baliho sudah berdiri. Masalah belum tuntas, konten sudah tayang. Kinerja kalah cepat oleh kamera. Seolah-olah yang penting bukan lagi bekerja, melainkan terlihat bekerja.
Di ruang politik, orang mudah mengutip ayat, tetapi sulit mengutip laporan harta dengan jujur. Di ruang publik, agama sering dipanggil untuk memenangkan pertarungan, lalu dipersilakan pulang setelah pemungutan suara selesai. Mimbar kadang dijadikan panggung, bukan tempat bercermin. Agama diperlakukan seperti pengeras suara: volumenya dinaikkan ketika dibutuhkan, lalu dimatikan ketika mulai mengganggu kepentingan.
Allah mengingatkan:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imrân/3:185)
Ayat ini seolah bertanya kepada kita: apakah yang kita kejar benar-benar kehidupan, atau sekadar kemasan kehidupan? Sebab hari ini ukuran keberhasilan sering kali bukan manfaat, melainkan viral. Orang lebih takut kehilangan perhatian publik daripada kehilangan kejujuran. Lebih sibuk mempercantik citra daripada memperbaiki akhlak.
Lalu datanglah bagian hadis tentang perempuan. Ini pun sering disalahpahami. Ada yang menjadikannya alasan untuk menyalahkan perempuan atas kerusakan moral masyarakat. Padahal, hadis itu justru mengingatkan laki-laki agar mampu mengendalikan dirinya. Nafsu tidak pernah memiliki jenis kelamin. Keserakahan juga tidak mengenal jabatan. Jika hati tidak dijaga, bukan hanya kecantikan yang menjadi fitnah, tetapi uang, kekuasaan, bahkan pujian pun dapat menjadi berhala baru.
Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita.”
(QS. Ali Imran: 14)
Namun ayat itu tidak berhenti pada perempuan. Ia melanjutkan dengan harta, emas, perak, kendaraan, ternak, dan berbagai kesenangan dunia. Pesannya jelas: yang harus diawasi bukan objeknya, melainkan hati yang mudah terpikat.
Lebih menyedihkan lagi ketika agama dijadikan aksesori kekuasaan. Simbol-simbol keagamaan dipakai dengan bangga, tetapi amanah diperlakukan seperti barang pinjaman yang boleh dipakai sesuka hati. Korupsi tidak selalu dimulai dari mengambil uang. Ia sering dimulai dari merasa paling suci sehingga kritik dianggap musuh.
Allah telah memperingatkan:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ، أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Hûd/11:15–16)
Mungkin problem terbesar bangsa ini bukan kekurangan orang pintar, melainkan kekurangan orang yang merasa diawasi Allah ketika tidak ada kamera. Kita memiliki banyak pidato tentang integritas, tetapi terlalu sedikit keteladanan. Kita pandai menyusun slogan antikorupsi, tetapi sering gagap ketika harus menolak godaan yang datang diam-diam. Bahkan, ada yang begitu sibuk mengoreksi kesalahan orang lain hingga lupa menghitung utang moralnya sendiri. Inilah ironi yang kadang tidak kita akui.
Pada akhirnya, hadis Nabi ini bukan sekadar peringatan tentang dunia dan syahwat. Ia adalah peringatan agar manusia tidak menukar nilai-nilai yang kekal dengan keuntungan yang sesaat. Sebab sejarah membuktikan, sebuah bangsa tidak runtuh hanya karena miskin. Bangsa runtuh ketika amanah dijual, keadilan ditawar, dan agama dijadikan alat tawar-menawar kekuasaan.
Semoga kita tidak menjadi generasi yang fasih mengucapkan ayat, tetapi lupa menjalankannya; pandai membangun gedung, tetapi lalai membangun hati; rajin memoles citra, tetapi malas membersihkan nurani. Sebab yang akan ditanya Allah kelak bukan seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa jujur kita menjalankannya.
Wallahu ‘alamu

