SUKABUMI – Budaya ngopi yang kerap digaungkan di Kabupaten Sukabumi ternyata belum sepenuhnya tercermin dalam data. Berdasarkan rilis terbaru dari Jabarstats, wilayah ini justru tidak masuk dalam 10 besar daerah dengan tingkat konsumsi kopi tertinggi di Jawa Barat.
Fakta ini menjadi menarik, mengingat tagline “ngopi, ngopi, ngopi” sering disampaikan oleh Bupati Asep Japar dalam berbagai kesempatan. Bahkan istilah ngopi sempat menjadi bahan sindirian Gubernur Dedi Mulyadi terhadap bupati kelahiran Garut itu.
Dalam data yang dihimpun Jabarstats, Kabupaten Sumedang menempati posisi pertama dengan konsumsi kopi mencapai 2,99 saset per kapita per minggu. Disusul Kabupaten Cianjur di angka 2,90 dan Kota Sukabumi di posisi ketiga dengan 2,72 saset per kapita per minggu.
Baca Juga: Infrastruktur jadi Tantangan, Cisolok Tetap Optimistis Kembangkan Potensi Wilayah
Sementara itu, sejumlah daerah lain seperti Kabupaten Garut, Karawang, hingga Kota Bandung juga masuk dalam daftar 10 besar. Kabupaten Bogor menutup peringkat dengan angka konsumsi 2,34 saset per kapita per minggu.
Menariknya, perbedaan konsumsi antar daerah di papan atas relatif tipis. Jabarstats mencatat selisih antara peringkat pertama dan kesepuluh hanya sekitar 0,65 saset per minggu, yang menunjukkan budaya ngopi tersebar cukup merata di berbagai wilayah.
“Sumedang memimpin konsumsi kopi di Jabar dengan 2,99 saset per orang per minggu, unggul tipis dari Cianjur,” tulis Jabarstats dalam keterangannya.
Baca Juga: Warga Celaka, Perbaikan Jalan di Kota Sukabumi Tunggu Transfer Dana dari Pusat
Selain itu, data juga menunjukkan bahwa budaya ngopi tidak hanya didominasi wilayah perkotaan. Daerah agraris seperti Sumedang dan Cianjur justru berada di posisi teratas, mengungguli kota besar seperti Bandung.
“Daftar 10 besar diisi campuran kabupaten agraris dan kota, jadi budaya ngopi di Jabar tidak hanya kuat di wilayah urban,” lanjut keterangan tersebut.
Jabarstats sendiri merupakan jaringan data lokal yang berada di bawah naungan Goodstats, bagian dari ekosistem media Good News From Indonesia. Platform ini berfokus menyajikan informasi berbasis data dan angka dengan pendekatan visual yang sederhana dan mudah dipahami.
Baca Juga: Didemo Mahasiswa Muhammadiyah, Pemkot Sukabumi Siap Kaji Ulang Perwal Lapang Merdeka
Melalui pengolahan data yang komunikatif, Jabarstats dan Goodstats mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih akrab dengan data serta menggunakannya sebagai dasar dalam diskusi, analisis, hingga pengambilan keputusan.
Masih dilansir dari Jabarstats, geliat industri kopi di Jawa Barat juga terlihat dari menjamurnya coffee shop. Hingga Maret 2026, tercatat ada 62.044 kedai kopi yang tersebar di 10 kabupaten dan kota.
Kabupaten Bogor menjadi daerah dengan jumlah coffee shop terbanyak, mencapai 11.459 unit. Disusul Bekasi, Kota Bekasi, hingga Kota Bandung dan Depok yang juga masuk dalam lima besar.
Baca Juga: Mahasiswa Muhammadiyah Geruduk Kantor Ayep Zaki, Polemik Lapdek Memanas Lagi
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan bisnis kopi sangat dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, mobilitas, serta gaya hidup masyarakat urban.
“Coffee shop banyak tumbuh di wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi dan mobilitas harian yang padat,” tulis Jabarstats.
Meski demikian, tidak masuknya Kabupaten Sukabumi dalam daftar konsumsi kopi tertinggi memunculkan pertanyaan tersendiri. Apakah budaya ngopi di daerah ini lebih bersifat simbolik, atau belum tercermin dalam pola konsumsi masyarakat secara luas.
Di tengah maraknya tren ngopi dan menjamurnya kedai kopi di berbagai daerah, data ini menjadi bahan refleksi sekaligus diskusi tentang bagaimana kebiasaan ngopi berkembang di tiap wilayah.

