SUKABUMI – Deru mesin truk tangki memecah keheningan di RW 21 Kelurahan Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kamis (2/7/2026). Di bawah terik matahari yang menyengat, puluhan warga bergegas mendekati kendaraan berkapasitas 5.000 liter itu. Mereka membawa galon, ember, jeriken, hingga wadah seadanya. Satu per satu antrean mulai terbentuk, menunggu selang besar mengalirkan air bersih yang sudah tiga pekan terakhir menjadi barang paling berharga.
Bagi sebagian orang, air mungkin hanya mengalir begitu saja dari keran. Namun bagi ratusan keluarga di Kelurahan Cibadak dan Desa Sekarwangi, setiap tetesnya kini harus diperjuangkan.
Anak-anak ikut menemani orang tuanya mengantre. Sejumlah ibu datang sambil menggendong balita, sementara galon-galon kosong berjajar rapi menunggu giliran diisi. Tak terdengar keluhan yang berlebihan. Yang tampak justru wajah-wajah penuh harap ketika air mulai mengucur dari selang menuju wadah yang mereka bawa.
Baca Juga: Minimalisir Potensi Banjir, Sungai Cipalabuan Palabuhanratu Dinormalisasi
Di antara antrean itu, Imas menggenggam erat galonnya. Sudah lebih dari tiga minggu keluarganya kesulitan mendapatkan air bersih.
Menurutnya, kekeringan terjadi karena saluran irigasi yang menjadi sumber resapan sumur warga sedang diperbaiki, ditambah adanya bagian saluran yang longsor.
“Kekeringan sudah lebih dari tiga minggu. Air irigasi sedang diperbaiki, salurannya juga ada yang longsor. Air bantuan ini kami masukkan ke sumur resapan untuk mandi dan mencuci piring. Alhamdulillah sudah tiga kali mendapat bantuan dan sangat terbantu,” ujarnya.
Sehari-hari, bantuan air itu harus dibagi bersama keluarga besarnya.
Baca Juga: Lagu Bupati Purwakarta Tuai Sorotan, Atalia Praratya Nilai Lirik tak Hormati Perempuan
“Kemarin saya cuma kebagian lima galon, itu juga dipakai bersama keluarga mertua,” katanya.
Cerita lain datang dari Ati. Pengalaman menerima bantuan sehari sebelumnya justru membuatnya lebih berhati-hati.
Ia memilih menunggu galonnya hingga selesai diisi. Alasannya sederhana, namun menyimpan pengalaman yang tidak ingin terulang.
“Kemarin saya juga ikut ambil air. Tapi galon yang saya tinggal ternyata tertukar, sepertinya dengan galon bekas bensin. Air yang saya bawa pulang jadi bau bensin,” tuturnya.
Air tersebut bahkan sempat digunakan untuk memasak nasi.
Baca Juga: Comeback Gila Belgia! Penalti Tielemans Antar Setan Merah ke Babak 16 Besar
“Pas dicium ternyata baunya bensin. Akhirnya air dan nasi yang sedang dimasak semuanya saya buang,” ucapnya.
Ketua RW 21 Kelurahan Cibadak, Ucup, krisis air yang dialami warganya bukan semata akibat kemarau. Selama ini masyarakat mengandalkan sumur resapan yang bersumber dari aliran Sungai Cimahi. Namun, proyek perbaikan jaringan irigasi di bagian hulu membuat aliran air dihentikan sementara sehingga sumur-sumur warga ikut mengering.
“Sudah sekitar tiga minggu. Warga di sini mengandalkan air resapan Sungai Cimahi, bukan sumur bor. Karena irigasi sedang diperbaiki, sumur-sumur ikut kering,” jelasnya.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sukabumi Kamis 2 Juli 2026: Cerah Berawan, Hujan Diperkirakan Tak Turun
Dari sekitar 430 kepala keluarga yang tinggal di wilayahnya, sekitar 150 KK terdampak langsung. Tak hanya kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga mulai mengancam mata pencaharian warga.
“Tanaman warga ikut terdampak. Kebun dan sawah yang membutuhkan air mulai kesulitan karena pasokan air tidak ada,” katanya.
Berdasarkan asesmen terbaru Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cibadak, Mawaldi, jumlah warga terdampak di Kelurahan Cibadak dan Desa Sekarwangi mencapai sekitar 315 kepala keluarga. Rinciannya, sebanyak 150 KK berada di Kampung Lingkungansari, RW 21 Kelurahan Cibadak. Sementara di Desa Sekarwangi terdapat 125 KK di RT 02/RW 01 dan 40 KK di RT 03/RW 01 Kampung Cikiwul Tonggoh.
Baca Juga: Pemkab Sukabumi Dukung Program BEREHAN, Tabungan Kurban ASN untuk Gerakkan Ekonomi Peternak
Untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sukabumi kembali menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter.
Petugas TRC BPBD Kabupaten Sukabumi, Imam, mengatakan pengiriman kali ini merupakan distribusi kedua ke wilayah terdampak.
“Kami mendistribusikan air bersih ke Desa Sekarwangi dan Kelurahan Cibadak. Ini pengiriman kedua untuk warga yang terdampak akibat saluran irigasi sedang diperbaiki,” ujarnya.
Ia menambahkan, BPBD mulai menerima laporan kekeringan dari sejumlah kecamatan lain, seperti Gegerbitung, Cibadak, dan Cidahu. Kondisi tersebut diperkirakan akan terus berkembang seiring musim kemarau yang diprediksi berlangsung cukup panjang.
Baca Juga: Harry Kane Selamatkan Inggris, Kongo Nyaris Ciptakan Kejutan Besar
Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak.
“Kami mengimbau masyarakat berhemat menggunakan air karena musim kemarau diperkirakan akan berlangsung cukup panjang,” katanya.

