SUKABUMI – Di tengah dinamika dunia akademik yang penuh ketelitian, muncul kegelisahan yang tidak biasa tentang nasib suara rakyat setelah hari pencoblosan. Kegelisahan inilah yang mendorong Ratna Istianah, akademisi asal Sukabumi, menuntaskan pendidikan doktoralnya di bidang Ilmu Politik di Universitas Hasanuddin, Makassar.
Ratna mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih IPK sempurna 4,00 serta menyelesaikan studinya dalam waktu relatif singkat. Namun, capaian tersebut bukan sekadar prestasi akademik, melainkan bagian dari perjalanan panjangnya memahami praktik demokrasi secara langsung.
Pengalaman lima tahun sebagai Komisioner KPU Kota Sukabumi menjadi titik balik yang membentuk perspektifnya. Ia menilai, ada satu tahapan krusial dalam pemilu yang sering luput dari perhatian publik, yakni proses rekapitulasi suara.
“Banyak masyarakat hanya fokus saat datang ke TPS dan mencoblos. Setelah itu, prosesnya jarang benar-benar dipahami,” ujar Ratna.
Menurutnya, antusiasme masyarakat saat hari pemungutan suara tidak selalu diiringi pemahaman terhadap tahapan lanjutan. Padahal, proses tersebut sangat menentukan tingkat kepercayaan terhadap hasil pemilu.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Ratna mengangkat penelitian mengenai tata kelola pemilu legislatif 2024 di Jawa Barat. Ia menyoroti pentingnya transparansi, akuntabilitas, serta keterlibatan masyarakat dalam proses rekapitulasi suara.
Tak hanya itu, Ratna juga menawarkan konsep baru yang ia sebut sebagai “traceability” atau keterlacakan. Gagasan ini menekankan bahwa proses pemilu tidak cukup hanya terbuka, tetapi juga harus dapat ditelusuri dan diverifikasi oleh publik secara langsung.
“Transparansi saja tidak cukup. Proses pemilu harus bisa ditelusuri dan diuji oleh masyarakat,” tegasnya.
Ia berpandangan, tanpa mekanisme keterlacakan yang jelas, transparansi berisiko menjadi formalitas belaka. Karena itu, sistem pemilu harus memberikan ruang bagi publik untuk menguji setiap tahapan secara nyata.
Perjalanan akademik Ratna pun tidak mudah. Ia harus menempuh studi jauh dari keluarga di Sukabumi, sekaligus melakukan riset lapangan di sejumlah daerah di Jawa Barat, seperti Majalengka, Sumedang, dan Subang.
Di sela aktivitas penelitiannya, Ratna tetap menjalankan perannya sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Ia berkomitmen membawa hasil kajian akademiknya kembali ke ruang kelas dan masyarakat luas.
“Ilmu tidak boleh berhenti di disertasi. Harus kembali ke masyarakat dan memberi dampak nyata,” ungkapnya.
Bagi Ratna, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan saat pemungutan suara berlangsung, melainkan pada seluruh proses setelahnya, mulai dari penghitungan hingga penetapan hasil.
“Demokrasi bukan hanya soal siapa yang menang, tetapi apakah prosesnya bisa dipercaya,” pungkasnya.
Keberhasilan Ratna Istianah menjadi bukti bahwa putra daerah mampu berkontribusi nyata dalam penguatan demokrasi. Dari Sukabumi, ia menunjukkan bahwa suara rakyat bukan hanya perlu didengar, tetapi juga dijaga dengan sistem yang transparan dan dapat dipercaya.

