SUKABUMI — Pergerakan tanah terjadi di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Kamis (5/3/2026). Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah bangunan di Pondok Pesantren Ariyadul Falah mengalami kerusakan serius hingga sebagian ambruk.
Akibat kejadian tersebut, aktivitas pesantren, termasuk kegiatan pesantren kilat Ramadan yang sedang berlangsung, terpaksa dihentikan sementara.
Salah seorang santri, Ibnu Sina, menceritakan bahwa pergerakan tanah tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, tanda-tanda bencana sudah terlihat sejak satu hingga dua hari sebelumnya dengan munculnya kerusakan pada bagian bangunan.
Baca Juga: Disnaker Kota Sukabumi: Aturan Baru THR 2026 Driver Ojol dan Kurir Dapat Bonus Hari Raya
Ia menjelaskan, awalnya terdengar suara genteng yang pecah disusul keramik lantai yang mulai terangkat. Sejumlah kaca bangunan juga mengalami retak akibat tekanan dari pergeseran tanah.
“Bangunan itu tidak langsung ambruk bersamaan. Setiap detik, menit bahkan jam terasa ada pergerakan. Genteng pecah, keramik mulai naik ke atas, bahkan kaca juga ikut retak,” ujar Ibnu Sina.
Kerusakan paling parah pertama kali terjadi pada bangunan pesantren. Selain itu, rumah pimpinan pesantren KH Muhammad Abdul Muizzul Falah juga ikut terdampak dan saat ini dinilai tidak lagi aman untuk ditempati.

Baca Juga: Bukan Prabowo, Wapres Gibran Disarankan Berangkat ke Iran Tengahi Peperangan
Ibnu Sina mengatakan keluarga pimpinan pesantren sementara waktu mengungsi ke rumah salah seorang alumni yang masih berada di wilayah Bantargadung.
Tidak hanya asrama santri, beberapa bangunan lain di lingkungan pesantren seperti majelis dan mushola juga mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah tersebut.
Saat peristiwa terjadi, Pondok Pesantren Ariyadul Falah tengah menggelar kegiatan pesantren kilat Ramadan yang direncanakan berlangsung selama 23 hari. Namun kondisi darurat membuat kegiatan tersebut terpaksa dihentikan demi keselamatan para santri.
Baca Juga: Pohon Setinggi 15 Meter Tumbang di Jalan Parigi Sukabumi, Akses Jalan Sempat Terganggu
Para santri perempuan dipulangkan lebih dahulu ke rumah masing-masing. Sementara itu, santri laki-laki untuk sementara mengungsi di rumah salah seorang santri yang berada di daerah Pasapen.
Ibnu Sina menambahkan, hingga kini pergerakan tanah masih terasa sehingga kondisi di sekitar pesantren belum sepenuhnya aman.
“Jadi sekarang juga masih terasa, pergerakan tanahnya belum benar-benar berhenti,” ungkapnya.

