Opini

Teman Itu Diam-Diam Memindahkan Kita ke Mana-Mana

×

Teman Itu Diam-Diam Memindahkan Kita ke Mana-Mana

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pertemanan dan pengaruh lingkungan terhadap pembentukan diri seseorang. (Foto: AI Chat GPT/Mulvi M Noor/Sukabumiku.id)

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Saya kadang berpikir, ternyata manusia ini makhluk yang gampang sekali dipengaruhi. Kita merasa diri kita punya pendirian. Kita merasa sudah dewasa. Sudah doktor, sudah jadi dosen, sudah punya jabatan, sudah hafal banyak teori tentang manusia. Tetapi coba tinggal agak lama bersama orang tertentu. Pelan-pelan kita bisa menjadi seperti dia.

Mula-mula hanya mengikuti cara bicaranya. Kemudian mengikuti cara tertawanya. Lalu mengikuti cara dia memandang orang lain. Lama-lama, tanpa rapat, tanpa SK, tanpa pelantikan, kita sudah menjadi anggota dari cara berpikirnya.

Padahal Rasulullah saw. sudah mengingatkan kita sejak berabad-abad lalu:

عن أَبي هريرة رضي الله عنه أن النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَليَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ)). رواه أَبُو داود والترمذي بإسناد صحيح، وَقالَ الترمذي: (حَدِيثٌ حَسَنٌ).

“Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: Seseorang itu adalah menurut agama kekasihnya. Maka hendaklah seseorang dari engkau semua itu melihat—meneliti benar-benar—orang yang dijadikan kekasihnya itu.”

Saya membaca hadits ini bukan hanya sebagai nasihat tentang memilih teman. Saya membacanya sebagai semacam kaca. Kita diminta melihat diri sendiri melalui orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Coba saja sesekali kita melakukan eksperimen sederhana. Lihat lima orang yang paling sering kita hubungi. Bukan lima orang yang kita klaim sebagai sahabat, tetapi lima orang yang paling sering masuk ke kehidupan kita.

Lihat cara bicara mereka. Lihat apa yang mereka pikirkan. Lihat apa yang mereka tertawakan. Lihat apa yang membuat mereka marah. Lihat apa yang mereka kejar.

Kemudian tanyakan kepada diri sendiri: “Jangan-jangan saya sebenarnya sudah menjadi mereka, hanya belum sadar?”

Ini pertanyaan yang agak mengganggu. Tetapi memang begitulah agama. Kadang agama tidak datang untuk membuat kita nyaman. Ia datang untuk membangunkan kita ketika kita terlalu pulas menikmati diri sendiri.

Ada orang yang awalnya hanya ikut nongkrong dengan teman yang suka bergunjing. “Saya mah cuma mendengarkan.”

Lalu beberapa bulan kemudian dia ikut bergunjing.

Ada yang awalnya hanya ikut teman yang suka meremehkan agama. “Saya mah tidak ikut-ikutan.”

Lama-lama dia tertawa ketika agama dijadikan bahan olok-olok.

Ada yang awalnya hanya ikut teman yang gemar pamer. “Saya cuma menemani.”

Akhirnya ia membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap tidak mampu.

Ada pula orang yang awalnya hanya ikut teman yang gemar korupsi. Katanya, “Saya tidak mengambil apa-apa.”

Beberapa tahun kemudian ia mulai belajar bahwa mengambil sedikit itu bukan korupsi, melainkan “uang rokok”. Mengambil lebih banyak disebut “jatah”. Dan mengambil sangat banyak barangkali sudah dianggap “kesempatan”.

Begitulah manusia. Kita sering tidak jatuh karena satu dosa besar. Kita tergelincir karena terlalu lama menganggap dosa-dosa kecil sebagai sesuatu yang biasa.

Al-Qur’an menggambarkan penyesalan yang sangat menyakitkan:

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ، لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrab. Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika Al-Qur’an itu datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”

(QS. Al-Furqon: 28–29)

Ayat ini membuat saya berpikir: ternyata salah memilih teman bisa menjadi penyesalan yang sangat mahal.

Di dunia kita berkata, “Ah, cuma teman.”

Di akhirat mungkin kita berkata, “Seandainya dulu saya tidak berteman dengannya.”

Persoalannya, sering kali kita baru sadar seseorang membawa kita ke jurang setelah kita hampir sampai di dasar.

Karena itu Allah juga mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

(QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga diri ternyata bukan hanya memasang pagar di rumah. Kita juga perlu memasang pagar di hati, di pikiran, bahkan di layar handphone.

Sebab sekarang teman tidak selalu duduk di sebelah kita.

Teman bisa berada di TikTok. Bisa berada di YouTube. Bisa berada di WhatsApp. Bisa berada dalam sebuah grup yang setiap hari mengajari kita marah kepada orang lain.

Kita bahkan bisa mempunyai teman yang tidak pernah kita temui tetapi pendapatnya kita ikuti setiap hari.

Ini zaman yang aneh.

Dulu orang bertanya, “Kamu tinggal di mana?”

Sekarang mungkin lebih penting bertanya, “Kamu setiap hari tinggal di pikiran siapa?”

Sebab siapa yang terlalu sering kita dengarkan, sedikit banyak akan menjadi suara di dalam kepala kita.

Al-Qur’an kemudian memberikan petunjuk yang sangat lembut:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

(QS. Al-Kahfi: 28)

Saya kira ayat ini penting sekali untuk kehidupan kita sekarang.

Kita sering memilih teman berdasarkan manfaat. Siapa yang punya jabatan? Siapa yang punya uang? Siapa yang punya akses? Siapa yang bisa membuka pintu?

Padahal agama mengajarkan pertanyaan yang berbeda: siapa yang bisa membuat saya tetap menjadi manusia?

Sebab ada orang yang ketika dekat dengan kita, kita menjadi semakin sombong.

Ada yang membuat kita semakin suka mencaci.

Ada yang membuat kita merasa paling benar.

Tetapi ada juga orang yang ketika kita bersamanya, kita malu berbuat buruk.

Bukan karena dia menghakimi kita. Tetapi karena akhlaknya membuat kita ingin memperbaiki diri.

Saya kira, itulah sahabat sejati.

Sahabat sejati bukan orang yang selalu berkata, “Kamu benar.”

Sebab kalau kita salah dan dia tetap berkata kita benar, sebenarnya dia bukan sahabat. Dia hanya sedang memelihara kesalahan kita.

Sahabat sejati kadang berkata, “Sudahlah, jangan begitu.”

Kadang ia menegur.

Kadang ia diam.

Kadang ia hanya mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak seluruhnya tentang uang, jabatan, popularitas, dan tepuk tangan.

Dan mungkin kita membutuhkan orang-orang seperti itu.

Sebab hidup terlalu singkat untuk dihabiskan bersama orang-orang yang hanya membuat kita semakin jauh dari Allah.

Saya sendiri semakin merasa bahwa usia membuat seseorang harus semakin selektif dalam pergaulan. Bukan berarti menjadi eksklusif. Bukan pula merasa lebih suci. Justru karena sadar bahwa diri ini masih mudah berubah.

Saya tidak ingin menjadi orang yang merasa kuat menghadapi pengaruh buruk, padahal sebenarnya saya hanya belum menemukan kesempatan untuk jatuh.

Maka saya belajar dari hadits ini: jangan terlalu percaya diri terhadap keteguhan diri sendiri.

Pilihlah lingkungan yang membantu kita tetap waras.

Carilah teman yang jika kita lupa, ia mengingatkan.

Jika kita sombong, ia menertawakan kita.

Jika kita salah, ia menegur.

Jika kita jatuh, ia mengangkat.

Dan jika kita mulai jauh dari Allah, ia tidak sibuk menghakimi, tetapi diam-diam mengajak kita pulang.

Karena pada akhirnya, kita semua sedang berjalan.

Yang menjadi pertanyaan bukan sekadar apakah kita berjalan cepat atau lambat.

Tetapi bersama siapa kita berjalan, dan ke mana arah perjalanan itu.

Sebab teman bukan sekadar orang yang duduk bersama kita di warung kopi.

Teman adalah orang yang perlahan-lahan ikut menentukan siapa diri kita.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, setiap hari kita sedang menjadi seseorang—karena kita terlalu lama bersama seseorang.

Maka mari kita periksa kembali lingkaran pertemanan kita.

Bukan untuk menghakimi mereka.

Tetapi untuk menyelamatkan diri sendiri.

Sebab boleh jadi kelak, ketika semua gelar dilepas, semua jabatan ditinggalkan, semua kekayaan tidak lagi berguna, yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana:

“Selama hidup di dunia, kamu berjalan bersama siapa?”

Dan semoga jawaban kita bukan nama orang yang membawa kita semakin jauh dari Allah.

Semoga kita dapat menjawab dengan tenang:

“Saya pernah berjalan bersama orang-orang yang mengingatkan saya kepada-Nya.”

Wallahu ‘alamu