SURABAYA — Tren kasus gagal ginjal yang berujung pada tindakan cuci darah kini tidak lagi didominasi kelompok usia lanjut. Dalam beberapa waktu terakhir, pasien usia muda justru semakin banyak ditemukan dengan kondisi serupa.
Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal dan hipertensi RSUD Dr Soetomo, dr Decsa Medika Hertanto, mengungkapkan bahwa dirinya kini kerap menangani pasien berusia 30-an bahkan lebih muda.
“Sekarang saya semakin sering menemukan pasien usia 34 tahun, bahkan ada yang lebih muda sudah mengalami gagal ginjal,” ujarnya dikutip dari NU Online, Senin (11/05/2026).
Baca Juga: Kelapa Tua hingga Jalan Kaki, Ini Tips Sehat Jantung ala dr. Zaidul Akbar
Menurutnya, ada tiga faktor utama yang menjadi pemicu kondisi tersebut, yakni tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, kadar gula darah tinggi pada penderita diabetes, serta pola hidup tidak sehat.
Gaya hidup seperti konsumsi makanan tinggi garam dan gula, kurang aktivitas fisik, hingga kurang tidur menjadi faktor yang mempercepat kerusakan fungsi ginjal.
Ironisnya, penyakit ginjal sering tidak menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal, sehingga banyak penderita baru menyadari saat kondisinya sudah parah.
“Di awal penyakit ini hampir tidak ada gejala. Paling hanya mudah lelah, kaki bengkak, atau kencing berbusa, yang sering diabaikan,” jelasnya.
Ketika kondisi sudah memburuk, pasien harus menjalani hemodialisis atau cuci darah secara rutin, yang tentu berdampak besar terhadap kualitas hidup.
“Kalau sudah terlambat, pasien harus menjalani cuci darah dua sampai tiga kali dalam seminggu, dengan durasi sekitar empat sampai lima jam setiap sesi,” katanya.
Baca Juga: RSUD Jampangkulon Ajak Seluruh Pegawai Turun Tangan, Lingkungan Bersih Jadi Prioritas
Selain berdampak pada kesehatan, biaya pengobatan juga menjadi beban tersendiri. Tanpa jaminan kesehatan, biaya cuci darah bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap kali tindakan.
Namun menurut dr Decsa, beban terbesar bukan hanya dari sisi finansial.
“Yang paling mahal itu bukan cuma uang, tapi waktu bersama keluarga yang hilang,” ungkapnya.
Baca Juga: Jamu Penambah Nafsu Makan, Solusi Alami untuk Anak Susah Makan
Ia menambahkan, pada 2025 anggaran yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk pengobatan gagal ginjal mencapai Rp13,3 triliun, menunjukkan besarnya beban penyakit ini secara nasional.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk mulai menjaga kesehatan ginjal sejak dini, seperti rutin berolahraga, mengontrol tekanan darah dan gula darah, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Yang terpenting, jaga ginjal mulai sekarang. Mencegah jauh lebih baik daripada menyesal di kemudian hari,” pungkasnya.

