YOGYAKARTA — Di tengah denyut Kota Yogyakarta, berdiri sebuah monumen putih yang hampir tidak pernah sepi dari pandangan wisatawan. Bentuknya sederhana, tetapi maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar penanda jalan.
Itulah Tugu Jogja, yang juga dikenal sebagai Tugu Pal Putih. Bagi wisatawan, tugu ini mungkin hanya menjadi latar belakang foto ketika berkunjung ke Yogyakarta. Namun bagi sejarah dan kebudayaan Yogyakarta, Tugu merupakan salah satu simbol penting yang menyimpan perjalanan panjang tentang kerajaan, kekuasaan, persatuan rakyat, hingga filosofi hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Tugu Pal Putih juga menjadi salah satu penanda penting dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta, poros utara-selatan yang menghubungkan kawasan Tugu, Keraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak.
Untuk memahami sejarah Tugu Jogja, perjalanan harus ditarik kembali ke pertengahan abad ke-18.
Pada 13 Februari 1755, Perjanjian Giyanti membagi Kerajaan Mataram menjadi dua kekuasaan utama, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Pangeran Mangkubumi kemudian diakui sebagai Sultan Hamengku Buwono I dan mendirikan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dalam pembangunan kota baru tersebut, Sultan Hamengku Buwono I tidak sekadar membangun keraton sebagai pusat pemerintahan.
Tata ruang Yogyakarta dirancang dengan berbagai pertimbangan filosofis.
Keraton menjadi pusat, sementara kawasan di utara dan selatan dihubungkan melalui sebuah poros yang memiliki makna mendalam mengenai perjalanan kehidupan manusia.
Di bagian utara keraton berdirilah sebuah tugu yang kemudian dikenal sebagai Tugu Golong Gilig.
Tugu yang pertama kali dibangun pada 1756 memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan Tugu Jogja yang dikenal sekarang.
Bagian tubuhnya berbentuk silinder, sedangkan bagian puncaknya berupa bulatan. Karena bentuk tersebut, tugu ini dikenal sebagai Golong Gilig.
“Golong” merujuk pada bentuk bulat, sementara “gilig” menggambarkan bentuk badan tugu yang memanjang dan silindris.
Tugu Golong Gilig memiliki makna filosofis mengenai Manunggaling Kawula Gusti, yang antara lain dimaknai sebagai persatuan rakyat dengan raja serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Dengan demikian, sejak awal keberadaannya, tugu tersebut telah ditempatkan sebagai simbol persatuan. Bukan hanya persatuan secara politik, tetapi juga persatuan secara spiritual.
Tugu Sebagai Penanda dan Orientasi Sultan Pada masa awal, Tugu Golong Gilig memiliki tinggi sekitar 25 meter.
Keberadaannya menjadi tetenger atau penanda kawasan. Tugu tersebut juga mempunyai fungsi penting dalam orientasi Sultan.
Ketika Sri Sultan melakukan siniwaka atau meditasi di Bangsal Manguntur Tangkil, bagian puncak Tugu Golong Gilig menjadi salah satu titik pandang ke arah utara.
Hal ini memperlihatkan bahwa hubungan antara Tugu dan Keraton bukanlah hubungan biasa.
Tugu ditempatkan dalam sebuah tata ruang yang sarat simbol. Dari Tugu menuju Keraton, manusia seolah diajak memahami perjalanan menuju pusat kehidupan dan tujuan spiritual.
Tahun 1867: Gempa Mengubah Sejarah Tugu Perjalanan Tugu Golong Gilig kemudian memasuki babak penting. Pada 10 Juni 1867, gempa tektonik besar mengguncang Yogyakarta.
Tugu Golong Gilig mengalami kerusakan berat dan roboh. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik dalam sejarah monumen ini.
Tugu yang sebelumnya menjadi simbol persatuan dalam bentuk Golong Gilig tidak lagi berdiri seperti sebelumnya.
Butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya pemerintah memutuskan untuk membangun kembali tugu tersebut.
1889: Lahirnya Tugu Pal Putih Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Tugu dibangun kembali.
Monumen baru tersebut kemudian diresmikan pada 3 Oktober 1889. Namun, bentuknya tidak lagi sama dengan Tugu Golong Gilig yang asli.
Bentuk bulat pada puncak diganti dengan bentuk yang lebih meruncing. Tubuh tugu juga berubah menjadi bentuk persegi.
Ketinggiannya yang semula sekitar 25 meter menjadi sekitar 15 meter.
Perubahan tersebut membuat wajah Tugu Yogyakarta seperti yang dikenal masyarakat sekarang.
Karena warnanya yang putih, Tugu tersebut juga dikenal sebagai Tugu Pal Putih. Istilah white paal atau tiang putih juga muncul dalam penyebutan kolonial terhadap tugu tersebut.
Ada Jejak Kekuasaan Kolonial di Balik Bentuk Baru Tugu, Perubahan bentuk Tugu setelah gempa juga memiliki sisi sejarah yang menarik.
Menurut sumber dari Kraton Yogyakarta, terdapat dugaan bahwa perubahan desain tersebut berkaitan dengan upaya pemerintah Hindia Belanda menghilangkan atau melemahkan simbol persatuan antara rakyat dan raja yang terkandung dalam bentuk Golong Gilig.
Namun, hal ini perlu ditempatkan sebagai interpretasi sejarah, bukan fakta tunggal yang tidak terbantahkan.
Yang jelas, bentuk baru Tugu memang berbeda secara signifikan dari bentuk aslinya. Pembangunan kembali tersebut juga melibatkan unsur pemerintahan kolonial dan tokoh-tokoh pada masa itu.
Menariknya, meskipun bentuk fisiknya berubah, masyarakat Yogyakarta tetap mempertahankan makna filosofis Tugu sebagai simbol persatuan.
Artinya, perubahan bentuk tidak serta-merta menghapus makna. Tugu dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta Tugu tidak dapat dipisahkan dari konsep tata ruang Yogyakarta.
Kraton Yogyakarta menjelaskan bahwa poros nyata yang membentang utara-selatan menghubungkan Tugu Golong Gilig, Keraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak. Poros tersebut menggambarkan perjalanan siklus kehidupan manusia dalam konsep Jawa Sangkan Paraning Dumadi—tentang asal dan tujuan kehidupan.
Dengan demikian, Tugu bukan sekadar bangunan yang berdiri di tengah persimpangan.
Ia merupakan bagian dari sebuah konsep besar mengenai hubungan manusia, alam, kehidupan, kekuasaan, dan Tuhan.
Di dalamnya terdapat filosofi tentang dari mana manusia berasal dan ke mana manusia akan kembali.
Makna persatuan pada Tugu memiliki akar kuat dari bentuk awalnya, Golong Gilig. Gagasan Manunggaling Kawula Gusti dapat dibaca dalam beberapa lapisan.
Pertama, hubungan antara rakyat dan pemimpin. Kedua, hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Ketiga, gagasan mengenai kesatuan kehidupan manusia dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan spiritual.
Karena itu, Tugu bukan sekadar simbol kekuasaan Sultan. Ia juga menjadi pengingat mengenai hubungan timbal balik antara pemimpin dan masyarakat.
Kraton Yogyakarta menjelaskan bahwa arah dari Keraton menuju Tugu juga berkaitan dengan kewajiban Sultan untuk melindungi dan mengayomi rakyat.
Dari Simbol Kerajaan Menjadi Ikon Kota Seiring perkembangan Yogyakarta, fungsi simbolik Tugu semakin meluas.
Jika dahulu ia berkaitan erat dengan tata ruang Kesultanan Yogyakarta, kini Tugu telah menjadi salah satu identitas Kota Yogyakarta.
Wisatawan yang datang ke kota ini hampir selalu mengenal Tugu. Foto di depan Tugu menjadi semacam tradisi bagi pengunjung.
Nama Tugu juga melekat pada kawasan sekitarnya, termasuk jalur yang menghubungkan pusat kota dengan Malioboro dan berbagai kawasan lainnya.
Namun, popularitas tersebut terkadang membuat masyarakat lupa bahwa di balik bangunan yang menjadi ikon wisata terdapat sejarah panjang lebih dari dua setengah abad.
Tugu Bukan Sekadar Tempat Berfoto Ada ironi yang menarik. Hari ini orang datang ke Tugu untuk mengambil foto.
Padahal, tugu tersebut sejak awal dibangun bukan untuk menjadi objek wisata.
Ia merupakan bagian dari konsepsi besar pembangunan Yogyakarta. Ia pernah runtuh karena gempa.
Ia dibangun kembali dalam bentuk berbeda. Ia melewati masa kolonial. Dan ia tetap bertahan sebagai salah satu simbol identitas Yogyakarta.
Karena itu, ketika seseorang berdiri di depan Tugu Pal Putih, sebenarnya ia sedang berdiri di hadapan sebuah monumen yang telah menyaksikan perubahan zaman.
Dari era Kesultanan. Masa kolonial. Perubahan tata kota.
Hingga Yogyakarta modern yang menjadi salah satu pusat pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata Indonesia.
Tugu Pal Putih dan Pesan untuk Generasi Sekarang Tugu Jogja mengajarkan bahwa sebuah monumen tidak hanya berbicara tentang batu, bentuk dan arsitektur.
Ia berbicara tentang ingatan. Tentang persatuan. Tentang hubungan antara rakyat dan pemimpin. Tentang perjalanan manusia.Tentang sejarah sebuah kota.
Dan tentang bagaimana sebuah simbol dapat bertahan meskipun bentuk fisiknya berubah.
Tugu Golong Gilig memang sudah tidak berdiri dalam bentuk aslinya.
Namun makna persatuan yang melekat padanya tetap hidup. Kini, Tugu Pal Putih berdiri sebagai salah satu wajah Yogyakarta—sebuah kota yang terus bergerak maju tanpa sepenuhnya meninggalkan akar sejarah dan filosofinya.
Sebab Tugu Jogja bukan hanya penunjuk arah di tengah kota. Ia adalah penunjuk arah dalam ingatan: mengingatkan bahwa Yogyakarta dibangun bukan sekadar sebagai sebuah kota, melainkan sebagai ruang kehidupan yang sarat sejarah, filosofi, dan kebudayaan.
(Artikel ini hasil liputan khusus di lapangan, berdasarkan buku sejarah dan dilengkapi Informasi dari google,).

