Jawa BaratKabupaten Sukabumi

Hasim Adnan: Loyalitas NU Harus Berjalan Bersama Nalar

×

Hasim Adnan: Loyalitas NU Harus Berjalan Bersama Nalar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Nahdlatul Ulama. (Foto: Dok IPNU Jateng)
Ilustrasi Nahdlatul Ulama. (Foto: Dok IPNU Jateng)

SUKABUMI – Nahdlatul Ulama (NU) dinilai tidak cukup hanya memiliki warga yang loyal terhadap organisasi. Memasuki abad kedua, NU juga membutuhkan budaya intelektual yang mendorong warga untuk berpikir kritis, bertanya dan melakukan otokritik.

Pandangan tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hasim Adnan, saat merefleksikan buku NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan (Sebuah Otokritik) karya KH. Imam Jazuli, Lc., MA.

Hasim menilai salah satu persoalan penting yang dibahas dalam buku tersebut adalah kebutuhan NU untuk membangun komunitas intelektual yang tidak bergerak hanya berdasarkan mitos, sentimen emosional atau ketakutan sosial.

Baca Juga: Hasim Adnan Soroti Masa Depan Santri di Abad Kedua NU

Menurutnya, loyalitas terhadap organisasi tetap penting. Namun, loyalitas tidak seharusnya dimaknai sebagai hilangnya ruang untuk bertanya atau berbeda pendapat.

Ia menyinggung konsep sam’an wa tha’atan yang perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak dipahami sebagai larangan untuk menggunakan nalar kritis.

Bagi Hasim, perbedaan pendapat justru merupakan bagian dari tradisi intelektual Islam yang perlu dirawat.

“Abad kedua NU tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang yang loyal, tetapi membutuhkan lebih banyak orang yang berpikir,” tulis Hasim dalam opininya.

Menurut dia, persoalan yang harus dihindari adalah ketika loyalitas berjalan tanpa nalar. Kondisi tersebut dapat mendorong fanatisme, sementara penggunaan nalar tanpa adab juga berpotensi melahirkan sikap merasa paling benar.

Karena itu, Hasim mendorong terbentuknya kultur yang mampu mempertemukan ilmu, adab, kritik dan khidmah.

Baca Juga: Sapa Warga Berbasis Budaya, Hasim Adnan Ajak Masyarakat Rawat Semangat Kemerdekaan

Ia menilai NU perlu memperkuat tradisi intelektual agar kritik terhadap organisasi tidak selalu dipandang sebagai bentuk ketidaksetiaan. Sebaliknya, kritik dapat menjadi instrumen untuk memperbaiki organisasi dari dalam.

Gagasan tersebut menjadi penting karena NU memasuki abad kedua di tengah perubahan yang berlangsung cepat, mulai dari perkembangan teknologi hingga perubahan karakter generasi dan cara masyarakat memahami agama.

Menurut Hasim, organisasi dengan sejarah panjang seperti NU justru perlu memiliki keberanian untuk membaca perubahan tersebut secara terbuka.

Ia juga mencatat pentingnya penguatan sejumlah disiplin ilmu, seperti filsafat, psikologi, mantiq dan pendidikan nalar kritis sebagai bagian dari investasi intelektual NU.

Baca Juga: HUT ke-81 Jawa Barat, Hasim Adnan Ajak Masyarakat Jaga Kebersamaan dan Perkuat Pembangunan

Penguatan nalar tersebut tidak dimaksudkan untuk mengurangi peran tradisi keagamaan. Sebaliknya, ilmu dan tradisi diharapkan dapat berjalan bersama sehingga warga NU memiliki kemampuan menghadapi persoalan baru tanpa kehilangan akar identitasnya.

Dalam refleksinya terhadap buku tersebut, Hasim melihat otokritik sebagai bagian dari kecintaan terhadap organisasi. Kritik dari dalam, menurutnya, tidak harus dipahami sebagai upaya melemahkan NU, tetapi dapat menjadi cara untuk memastikan organisasi tetap relevan dengan perubahan zaman.

Ia menilai organisasi sebesar NU membutuhkan ruang dialog yang sehat, termasuk ruang untuk mengajukan pertanyaan yang mungkin terasa tidak nyaman.

“Organisasi besar justru membutuhkan pertanyaan yang tidak nyaman,” tulis Hasim.

Menurutnya, keberanian bertanya menjadi penting karena abad kedua NU tidak hanya akan ditentukan oleh seberapa besar jumlah warga dan struktur organisasi, tetapi juga oleh kemampuan menghasilkan gagasan, pengetahuan dan kapasitas untuk menjawab persoalan masyarakat.

Dengan demikian, loyalitas dan nalar tidak perlu ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Keduanya justru dapat menjadi fondasi bagi NU untuk membangun tradisi intelektual yang lebih kuat di abad keduanya.