Jawa BaratKabupaten Sukabumi

Hasim Adnan: Menjaga Bumi Harus Jadi Bagian dari Khidmah NU Abad Kedua

×

Hasim Adnan: Menjaga Bumi Harus Jadi Bagian dari Khidmah NU Abad Kedua

Sebarkan artikel ini
Hasim Adnan PKB
Anggota DPRD Provinsi Jabar Hasim Adnan saat melakukan kunjungan ke bencana di Kabupaten sukabumi. Foto:sukabumiku.id

SUKABUMI – Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama (NU) dinilai perlu memperluas makna khidmah dengan menjadikan persoalan lingkungan dan krisis iklim sebagai bagian dari agenda keagamaan dan kemanusiaan.

Pandangan tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hasim Adnan, dalam refleksinya terhadap buku NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan (Sebuah Otokritik) karya KH. Imam Jazuli, Lc., MA.

Menurut Hasim, agenda NU di abad kedua tidak cukup berhenti pada persoalan organisasi, pendidikan dan dakwah. Isu ekologis juga perlu mendapatkan perhatian karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dan masa depan lingkungan.

Baca Juga: Hasim Adnan: Loyalitas NU Harus Berjalan Bersama Nalar

Dalam buku yang dibacanya, krisis iklim ditempatkan bukan semata sebagai persoalan teknis lingkungan, melainkan sebagai persoalan keagamaan dan kemanusiaan.

Hasim menilai gagasan tersebut memperluas cara pandang mengenai khidmah. Jika selama ini khidmah banyak dikaitkan dengan pengajian, pendidikan, pelayanan sosial dan ritual keagamaan, maka tantangan zaman menuntut bentuk pengabdian yang juga menyentuh persoalan lingkungan.

“Jika dahulu khidmah identik dengan pengajian, pendidikan, pelayanan sosial dan ritual keagamaan, maka abad kedua menuntut khidmah yang juga berbentuk menjaga bumi,” tulis Hasim dalam opininya.

Baca Juga: Hasim Adnan Soroti Masa Depan Santri di Abad Kedua NU

Menurutnya, NU dapat mengambil peran melalui penguatan kesadaran ekologis hingga tingkat akar rumput. Selain itu, organisasi tersebut juga dinilai perlu ikut mengawal berbagai regulasi yang berkaitan dengan lingkungan dan sumber daya alam.

Dalam refleksinya, Hasim menyebut sejumlah persoalan yang dapat menjadi perhatian, mulai dari tambang, kehutanan, minyak hingga hak masyarakat adat.

Ia menilai perhatian terhadap isu ekologis dapat menjadi bentuk baru artikulasi Islam sosial NU. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya ditempatkan sebagai agenda aktivisme lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

Gagasan tersebut menjadi relevan ketika NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim dan persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat, termasuk organisasi keagamaan yang memiliki basis sosial luas.

Baca Juga: Sapa Warga Berbasis Budaya, Hasim Adnan Ajak Masyarakat Rawat Semangat Kemerdekaan

Bagi Hasim, penguatan kesadaran ekologis juga perlu berjalan dari tingkat akar rumput. Artinya, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada kebijakan atau wacana di tingkat organisasi, tetapi perlu diterjemahkan dalam kesadaran dan tindakan masyarakat.

Ia melihat pendekatan tersebut sebagai bagian dari upaya menjadikan tradisi NU tetap relevan dengan persoalan zaman tanpa kehilangan akar keagamaannya.

Dalam konteks buku NU Abad Kedua, persoalan lingkungan menjadi salah satu contoh bagaimana NU didorong untuk membaca perubahan secara lebih luas.

Baca Juga:HUT ke-81 Jawa Barat, Hasim Adnan Ajak Masyarakat Jaga Kebersamaan dan Perkuat Pembangunan

NU tidak hanya ditantang mempertahankan tradisi yang telah membentuk identitasnya selama satu abad, tetapi juga dituntut mampu merespons persoalan baru yang semakin menentukan kehidupan masyarakat.

Karena itu, Hasim memandang isu ekologis sebagai salah satu wilayah penting yang dapat memperluas praktik khidmah NU pada abad keduanya.

Dengan memasukkan persoalan lingkungan ke dalam agenda sosial-keagamaan, NU diharapkan tidak hanya berbicara tentang perubahan zaman, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga ruang hidup dan masa depan masyarakat.