JAKARTA — Rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo untuk kembali berkeliling Indonesia setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala negara memunculkan beragam tafsir politik. Pengamat politik Adi Prayitno menilai langkah tersebut menunjukkan Jokowi belum sepenuhnya meninggalkan panggung politik nasional.
Direktur Parameter Politik Indonesia itu menyoroti perubahan sikap Jokowi yang sebelumnya sempat menyatakan ingin kembali ke Solo dan menjalani kehidupan sebagai warga biasa setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai presiden.
“Tapi hari ini Jokowi menyatakan siap berkeliling ke seluruh Indonesia memenuhi undangan daerah-daerah, bertemu kader-kader PSI dan relawannya,” kata Adi melalui kanal YouTube miliknya, Rabu (27/5/2026).
BACA JUGA: Jokowi Diminta Bersaksi di Sidang Korupsi Satelit Orbit 123 BT, Ini Alasannya
Menurut Adi, aktivitas tersebut menimbulkan pertanyaan publik mengenai tujuan politik yang ingin dicapai Jokowi pasca lengser dari kursi kepresidenan.
“Ini mengindikasikan Jokowi tidak mau berhenti sekalipun sudah pernah menjadi Presiden RI dua periode, pernah jadi gubernur Jakarta, pernah jadi wali kota Solo. Tapi bagi Jokowi itu belum akhir dari segala-galanya,” ujarnya.
Adi menilai muncul kesan bahwa mantan kepala negara itu tengah menyiapkan langkah politik baru atau comeback politik setelah tidak lagi berada di lingkar kekuasaan formal.
Meski demikian, ia mempertanyakan apakah agenda keliling Indonesia tersebut benar-benar hanya untuk menyerap aspirasi masyarakat. Sebab, Jokowi saat ini tidak lagi memiliki kewenangan sebagai pejabat publik yang dapat membuat maupun mengeksekusi kebijakan.
BACA JUGA: Komisi III DPR Resmi Bentuk Panja RUU Polri, Habiburokhman Ditunjuk Jadi Ketua
Dari berbagai spekulasi yang berkembang, Adi melihat setidaknya ada dua kemungkinan tujuan politik yang melatarbelakangi langkah tersebut.
Pertama, Jokowi dinilai berupaya memperkuat posisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dugaan itu berkaitan dengan pernyataan Jokowi sebelumnya yang menyatakan siap bekerja keras untuk membesarkan partai tersebut.
“Asumsi pertama, Jokowi ingin memperkuat kekuatan politik PSI. Karena beberapa waktu lalu kita dengarkan secara terbuka Jokowi siap turun all out, mati-matian membesarkan PSI,” jelasnya.
Selain itu, kehadiran Jokowi di tengah masyarakat juga dinilai berpotensi memberikan dampak elektoral terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Adi, kedekatan emosional masyarakat dengan Jokowi dapat berpengaruh terhadap dukungan politik yang diberikan kepada putranya pada masa mendatang.
“Publik mengkonfirmasi bahwa Jokowi sering turun ke bawah maka orang yang suka dan senang sama Jokowi akan semakin memberi dukungan politik kepada anaknya, Mas Gibran,” katanya.
Meski berbagai asumsi mulai bermunculan, Adi menegaskan bahwa kekuatan politik Jokowi setelah tidak lagi menjabat presiden baru akan benar-benar terukur pada momentum politik nasional berikutnya.
“Apakah Jokowi tetap sekuat dahulu ketika jadi presiden atau justru sebaliknya tidak memiliki kekuatan apa pun, kesaktian itu akan dilihat di 2029,” pungkasnya.

