SUKABUMI – Kasus Tuberculosis (TBC) di Kota Sukabumi menunjukkan tren peningkatan yang cukup mengkhawatirkan. Hingga pertengahan tahun 2026, jumlah penderita yang berhasil ditemukan dan dilaporkan telah mencapai sekitar 1.400 orang.
Peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian serius dalam Rapat Koordinasi Pengendalian dan Penanggulangan TBC yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi bersama Kementerian Kesehatan di Hotel Permata Hijau, Kamis (11/6/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ida Halimah, mengatakan bahwa TBC masih menjadi salah satu penyakit menular yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Selain tingginya angka temuan kasus, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan seluruh pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Bukan hanya menemukan kasus, tetapi bagaimana memastikan pasien menyelesaikan pengobatan. Karena jika pengobatan terputus, risiko penularan dan munculnya kasus baru akan semakin tinggi,” ujarnya.
Menurut Ida, target penemuan kasus TBC di Kota Sukabumi mencapai sekitar 2.000 orang. Dari target tersebut, angka temuan kasus sudah mendekati 90 persen. Namun, tingkat keberhasilan pengobatan masih menjadi pekerjaan rumah karena baru mencapai 76 persen pada tahun 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh. Padahal, pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan tinggi dan harus dijalani selama beberapa bulan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
“Ketika ada pasien yang berhenti berobat, harus segera diketahui dan ditindaklanjuti. Karena TBC merupakan penyakit menular yang penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh,” jelasnya.
Dinas Kesehatan menilai peningkatan temuan kasus bukan semata-mata menunjukkan bertambahnya penyebaran penyakit, tetapi juga mencerminkan semakin aktifnya proses pelacakan dan pemeriksaan yang dilakukan petugas kesehatan di lapangan.
Meski demikian, tingginya jumlah penderita tetap menjadi sinyal bahwa upaya pencegahan harus diperkuat. Pemerintah daerah bersama fasilitas kesehatan akan terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala TBC, pentingnya pemeriksaan dini, serta kepatuhan menjalani pengobatan.
Dalam rapat koordinasi tersebut, berbagai strategi percepatan penanganan juga dibahas, mulai dari pemeriksaan kontak erat pasien, peningkatan kapasitas layanan di puskesmas, hingga memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka penularan.
Dinkes Kota Sukabumi berharap keterlibatan masyarakat dapat menjadi kunci dalam memutus rantai penyebaran TBC. Warga yang mengalami batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, atau gejala lain yang mengarah pada TBC diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan sejak dini.
Dengan jumlah kasus yang telah mencapai 1.400 penderita, Kota Sukabumi kini menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan sekaligus menekan laju penularan penyakit yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat tersebut.

