Nasional

Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Gentar Hadapi Tekanan MSCI, IHSG Sempat Anjlok 10 Persen

×

Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Gentar Hadapi Tekanan MSCI, IHSG Sempat Anjlok 10 Persen

Sebarkan artikel ini
Potret Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN yang digelar di Mactan Expo, Cebu, Filipina, Jumat (08/05/2026). (Foto : BPMI Setpres )

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak gentar menghadapi penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham domestik. Pemerintah menganggap situasi tersebut sebagai tantangan yang harus dihadapi dengan keberanian dan komitmen menjaga kepentingan nasional.

Prabowo mengakui bahwa penilaian MSCI menjadi salah satu tantangan bagi pasar keuangan Indonesia. Meski demikian, ia memastikan pemerintah tidak akan mundur dalam menghadapi berbagai tekanan yang berpotensi memengaruhi kepentingan nasional.

Menurut Prabowo, Indonesia memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk kemungkinan mengambil langkah penghematan besar-besaran demi menjaga ketahanan nasional.

Baca Juga : Resep Jamu Kunci Sirih, Minuman Tradisional dengan Aroma Rempah yang Khas

“Kita tidak takut, kita punya kekuatan, kita punya keberanian, dan kita rela berkorban, dan kita tidak mengenal menyerah,” tegas Prabowo.

MSCI Soroti Kondisi Pasar Saham Indonesia

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia meningkat setelah MSCI menyampaikan bahwa klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang atau emerging market dinilai tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saat ini.

MSCI bahkan mengumumkan rencana untuk memulai proses perubahan klasifikasi Indonesia menjadi standalone market atau pasar mandiri.

Dalam pengumuman pada Jumat (16/10/2026), lembaga penyedia indeks global tersebut juga memperpanjang periode peninjauan pasar saham Indonesia selama tujuh bulan hingga Juni 2027.

Keputusan itu dinilai lebih buruk dibandingkan perkiraan sebelumnya karena berpotensi memengaruhi kepercayaan investor internasional terhadap pasar modal Indonesia.

Perubahan klasifikasi tersebut juga berpotensi mendorong penyesuaian portofolio oleh investor global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.

IHSG Anjlok hingga 10 Persen

Pengumuman MSCI langsung menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan sempat anjlok hingga 10 persen pada awal perdagangan dan menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir.

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah sekitar 0,6 persen hingga mencapai Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek investasi di Indonesia, terutama terkait transparansi dan tata kelola pasar modal.

Meski demikian, dampak lanjutan terhadap arus modal asing akan bergantung pada perkembangan kebijakan pemerintah, respons regulator, serta hasil evaluasi MSCI berikutnya.

Persoalan Transparansi Jadi Sorotan

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia sebenarnya telah berlangsung sejak Januari 2026.

Saat itu, MSCI membekukan sejumlah penyesuaian terkait Indonesia dalam indeks-indeksnya dan memperingatkan kemungkinan penurunan status pasar Indonesia.

Persoalan yang menjadi perhatian antara lain transparansi kepemilikan saham serta perilaku perdagangan di pasar modal.

Dalam pengumuman terbarunya, MSCI menilai reformasi yang dilakukan Indonesia untuk mengatasi persoalan tersebut belum menunjukkan kemajuan yang memadai.

MSCI bahkan menilai bahwa penurunan klasifikasi menjadi frontier market atau pasar perbatasan belum tentu mencerminkan tingkat keparahan permasalahan yang dihadapi pasar saham Indonesia.

Lembaga tersebut menyampaikan bahwa kekhawatiran signifikan masih ada terkait kondisi pasar.

“Kekhawatiran signifikan masih ada terkait disfungsi pasar,” demikian pernyataan MSCI.

MSCI juga menegaskan bahwa klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi tepat berdasarkan penilaian mereka terhadap kondisi pasar saat ini.

“Masukan dari pelaku pasar menunjukkan bahwa reklasifikasi menjadi pasar perbatasan tidak akan mencerminkan secara tepat tingkat keparahan permasalahan pasar yang ada,” demikian pernyataan lembaga tersebut.

Pemerintah Dihadapkan pada Tantangan Menjaga Kepercayaan Investor

Penilaian MSCI menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia untuk memperkuat transparansi, meningkatkan tata kelola pasar modal, dan menjaga kepercayaan investor global.

Di tengah tekanan tersebut, pernyataan Prabowo menunjukkan sikap pemerintah yang menegaskan pentingnya ketahanan nasional dalam menghadapi dinamika ekonomi dan keuangan internasional.

Ke depan, perkembangan reformasi pasar modal Indonesia dan respons MSCI akan menjadi perhatian pelaku pasar.

Kepastian kebijakan, keterbukaan informasi, serta perbaikan tata kelola diharapkan dapat membantu memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.(SE)