Lifestyle

Tak Sekadar Baca Puisi, Malam Puisi di STRLNGS Coffee Corner Kota Sukabumi Jadi Ruang Menumpahkan Keresahan

×

Tak Sekadar Baca Puisi, Malam Puisi di STRLNGS Coffee Corner Kota Sukabumi Jadi Ruang Menumpahkan Keresahan

Sebarkan artikel ini
Sukabumi, Malam Puisi, STRLNGS Coffee Corner, puisi Sukabumi, sastra Sukabumi, literasi Sukabumi, Ageng Raiden, komunitas Sukabumi,

SUKABUMI — Sebuah ruang sederhana di tengah suasana malam akhir pekan di Sukabumi akan disulap menjadi panggung bagi kata-kata. STRLNGS Coffee Corner menghadirkan “Malam Puisi”, sebuah kegiatan yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membaca, mendengarkan, sekaligus mengekspresikan perasaan melalui puisi.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026, pukul 20.00 hingga 22.00 WIB di STRLNGS Coffee Corner, Sukabumi, sebagaimana tercantum dalam poster kegiatan.

Salah satu penyelenggara, Ageng Raiden, mengatakan kegiatan ini pada awalnya muncul dari lingkungan orang-orang yang kerap berkumpul di kedai kopi tersebut. Dari obrolan dan kebersamaan itu kemudian muncul gagasan untuk menyediakan ruang bagi setiap orang yang ingin menyampaikan keresahan maupun gagasan melalui tulisan dan puisi.

Menurut Ageng, puisi tidak harus selalu ditempatkan sebagai karya sastra yang formal. Lebih dari itu, puisi dapat menjadi medium bagi seseorang untuk menyampaikan sesuatu yang sulit diutarakan secara langsung.

“Daripada kita curhat ke orang, lebih baik keresahan itu diekspresikan dan diteriakkan dalam bentuk puisi atau sajak,” ujar Ageng.

Konsep kegiatan tersebut kemudian berkembang setelah poster acara dibagikan. Antusiasme ternyata tidak hanya datang dari kalangan yang biasa berkumpul di STRLNGS Coffee Corner.

Sejumlah pegiat literasi dan orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap bahasa dan sastra juga menyatakan ketertarikannya untuk hadir. Kondisi tersebut membuat penyelenggara membuka ruang lebih luas bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi.

Ageng menjelaskan, Malam Puisi tidak dirancang sebagai acara eksklusif milik komunitas tertentu. Masyarakat umum, komunitas, pelajar, maupun mereka yang datang secara spontan dipersilakan untuk ikut ambil bagian.

Konsep terbuka tersebut diharapkan membuat kegiatan menjadi ruang pertemuan berbagai kalangan dengan ketertarikan yang sama terhadap puisi dan literasi.

“Siapa saja yang mau, terutama orang-orang yang memang punya karya, silakan menggunakan ruang ini untuk berekspresi,” katanya.

Dengan konsep tersebut, panggung Malam Puisi diharapkan tidak hanya diisi oleh penyair atau orang-orang yang sudah terbiasa tampil. Mereka yang baru ingin mencoba membaca puisi pun mendapat kesempatan yang sama.

Bagi penyelenggara, kegiatan ini memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menghadirkan hiburan malam akhir pekan.

Salah satunya adalah mendorong masyarakat untuk kembali dekat dengan aktivitas membaca dan menulis. Pertemuan antara para pembaca puisi dan penikmat sastra diharapkan dapat memunculkan inspirasi baru sekaligus mendorong peserta untuk memperkaya referensi bacaan.

Ageng menilai, ketika seseorang mendengar karya orang lain, hal tersebut dapat memunculkan keinginan untuk kembali membaca buku, mencari referensi, dan mengembangkan kemampuan menulis.

“Harapannya bisa menambah literasi. Ketika melihat karya teman yang lain, muncul keinginan untuk kembali membaca buku dan mengembangkan tulisan,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi titik awal bagi masyarakat yang selama ini memiliki ketertarikan terhadap puisi tetapi belum menemukan tempat untuk mengekspresikannya.

Malam Puisi juga membawa pesan bahwa perasaan, pemikiran, dan keresahan seseorang dapat diolah menjadi sebuah karya.

Bagi Ageng, seseorang tidak harus memiliki latar belakang sebagai penyair untuk dapat menulis atau membacakan puisi. Yang terpenting adalah keberanian untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan hati melalui kata-kata.

“Mengekspresikan apa yang ada dalam hati, dalam pikirannya ke dalam bentuk tulisan,” kata Ageng.

Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap semakin banyak masyarakat Sukabumi yang tertarik terhadap dunia literasi dan memiliki keberanian untuk berkarya.

Malam Puisi pun diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi para penulis, pembaca puisi, pegiat literasi, pelajar, komunitas, dan masyarakat umum dalam suasana yang santai dan terbuka.

Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan maupun ikut membaca puisi, penyelenggara mengajak untuk datang langsung dan menjadi bagian dari malam yang dirancang sebagai ruang kecil untuk kata-kata besar tersebut.