Berita UtamaSosok

Ulama Sukabumi Keturunan Wali Songo, Profil KH Zezen ZA dan Wasiatnya Untuk Umat

×

Ulama Sukabumi Keturunan Wali Songo, Profil KH Zezen ZA dan Wasiatnya Untuk Umat

Sebarkan artikel ini
KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab,
KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab,

SUKABUMI – KH Zezen ZA atau yang memiliki nama lengkap KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab, adalah salah satu tokoh ulama Sukabumi yang berjasa. Meski telah tiada, jejak perjuangan, pemikiran, dan wasiatnya ulama yang akrab disapa Pangersa Uwa atau Ajengan Zezen ini tetap menjadi pelita penerus perjuangan dakwah.

Pangersa Uwa menghembuskan nafas terakhir pada Kamis, 19 November 2015, atau bertepatan dengan 7 Shofar 1437 H. Pondok Pesantren Azzainiyah yang berlokasi di Kampung Nagrog, Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi adalah salah satu warisan beliau yang didedikasikan untuk pengembangan pendidikan dan dakwah.

Perjalanan Hidup dan Sanad Keilmuwan

Lahir pada 17 Februari 1955 di Kampung Nagrog, Desa Perbawati, Sukabumi, dari pasangan KH. Zayadi dan Hj. Halimah, darah ulama dan keturunan Sunan Gunung Jati mengalir dalam dirinya. Pangersa Uwa memulai perjalanan panjang menuntut ilmu dari ayahnya, seorang ahli tajwid, lalu kepada kakeknya, KH. Abdurrohman.

Pengembaraan ilmunya berlanjut ke berbagai pesantren ternama, seperti Pesantren Pabuaran, Almasthuriyyah Tipar, dan berguru kepada KH. Humaidi Cikaret yang juga seorang politisi. Untuk mendalami ilmu alat (nahwu-sharaf) dan ilmu agama seperti fiqh, tauhid, dan tasawuf, beliau berguru kepada KH. Mahmud Mudrikah Hanafi di Pesantren Siqoyaturrohmah.

Perjalanan dilanjutkan ke Pesantren Riyadhul Mutafakkirin (Darul Hikam) di bawah asuhan KH. Aang Sadili, dan menyempurnakan ilmu alatnya kepada Kyai Muqtadir Longkewang, Cianjur.

Pada tahun 1978, beliau pulang kampung dan mendirikan Pondok Pesantren Darul Falah yang kemudian berkembang menjadi Pesantren Azzainiyyah, sebuah lembaga pendidikan yang mengintegrasikan sistem salafi dan pendidikan formal.

Dakwah, Tasawuf, dan Perjuangan Menegakkan Syariat

Kiprah dakwah Pangersa Uwa dimulai dari majelis taklim di sekitar Nagrog. Beliau kemudian dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) mulai tingkat desa hingga akhirnya menjadi Ketua Umum MUI Kabupaten Sukabumi hingga wafat.

Di bidang tasawuf, perjalanan spiritualnya membawanya kepada beberapa thariqat sebelum akhirnya bermuara pada Thariqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya pada 1990. Kedekatannya dengan Abah Anom membuatnya dipercaya mengisi ‘mimbar kehormatan’ dan diangkat sebagai Wakil Talqin TQN, serta diberi gelar Bazul Asyhab.

Cita-cita besarnya adalah Penegakan Syariat Islam (PSI). Pada 24 Maret 2002, PSI berhasil dideklarasikan di Sukabumi. Gagasan ini tidak berhenti pada deklarasi, tetapi diwujudkan dalam gerakan praktis bernama IQOMAH (Ikatan Penggerak Qoryah Mubarokah). Gagasan brilian ini bahkan diadopsi menjadi Gerakan Nasional Pengamalan Ajaran Islam Khususnya Rukun Islam secara Benar dan Sungguh-sungguh oleh MUI Pusat pada 2010, dan berkembang menjadi Majelis Iqomah Nusantara pada 2015.

Wasiat Pangersa Uwa untuk Umat dan Penerus

Sebagai pemimpin umat yang arif, Pangersa Uwa meninggalkan wasiat yang sangat berharga untuk keluarga, santri, dan umat secara keseluruhan:

1. Kuatkan Iman dan Taqwa: Harus kuat iman dan taqwa kepada Allah, mengikuti semua perintah-Nya dan Rasul-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta tetap berpegang teguh pada Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
2. Tingkatkan Ibadah: Melaksanakan ibadah wajib dan sunnah.
3. Taati Pemerintah: Mengikuti pemerintah dalam perkara yang tidak bertentangan dengan agama.
4. Jaga Kerukunan: Harus rukun sesama saudara, jangan bersengketa, terutama karena berebut kekuasaan dan harta. Maafkan kesalahan orang lain dan segera meminta maaf jika bersalah.
5. Saling Menyayangi: Jangan acuh pada saudara yang kekurangan, dan jangan iri dengki pada yang mengalami kemajuan.
6. Lanjutkan Perjuangan: Meneruskan perjuangannya dalam membela agama, bangsa, dan negara, mendidik santri, berdakwah, dan berjihad sesuai kemampuan masing-masing. Beliau juga berpesan untuk tidak mengikuti akhlaknya yang kurang baik.

KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab meninggalkan warisan yang tak ternilai: sebuah pesantren yang terus berkembang, gerakan dakwah yang membumi, dan wasiat yang menjadi panduan hidup.

Semangatnya untuk menegakkan syariat Islam melalui pengamalan rukun Islam yang benar dan sungguh-sungguh akan terus dikenang dan dijalankan oleh para penerus perjuangannya.