SUKABUMI – Di kaki Gunung Pangrango, tepatnya di Kampung Cilamping Pojok RT 21 RW 07, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, sebuah rumah panggung sederhana berdiri di tengah kebun yang hijau.
Ukurannya tak besar. Lantainya dari kayu, dindingnya bilik bambu. Namun rumah itu cukup layak untuk ditinggali. Di sanalah Abah Sarmuh (80) bersama istri menjalani hari-harinya—ditemani suara alam dan kincir air buatannya sendiri.
Siang itu, udara terasa sejuk meski matahari cukup terik. Angin sesekali berembus dari arah Gunung Pangrango. Di belakang rumah, sekitar 20 meter, suara gemericik air bercampur derit kayu terdengar pelan dari balik rumpun bambu.
Di sanalah sumber listrik itu berasal.

Sebuah kincir kayu sederhana berputar, dialiri air dari Sungai Cipelang. Putarannya menggerakkan dinamo yang kemudian menghasilkan listrik untuk menerangi rumah Abah.
Kincir itu ditutup peneduh seadanya dari bambu, kayu, dan asbes. Meski terlihat sederhana, alat itu menjadi sumber energi utama di tempat yang jauh dari jangkauan listrik konvensional.
“Awalnya saya coba-coba saja. Kalau pakai dinamo dari kincir bisa enggak buat lampu,” ujar Abah Sarmuh ditemui di rumahya, Senin (22/06/2026).
Baca Juga: Demo Didepan Pendopo Sukabumi Mahasiswa Kritik Implementasi MBG dan KDMP, Nilai Belum Tepat Sasaran
Ia merakit semuanya secara otodidak.
Sejak tahun 2007, kincir itu mulai menghasilkan listrik. Momen pertama kali lampu menyala menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi Abah dan keluarganya.
“Waktu itu mah senang. Bisa nyala sendiri, tanpa listrik dari luar,” kenangnya.
Tak hanya untuk rumahnya, listrik dari kincir tersebut dulu bahkan mampu menerangi hingga 10 rumah dengan sekitar 70 titik lampu. Beberapa perangkat elektronik sederhana seperti televisi juga sempat digunakan.
Saat itu, anak dan cucunya masih tinggal bersama. Rumah panggung itu ramai oleh aktivitas keluarga. Namun kini, suasana berubah.
Anak-anak dan cucunya telah pindah lebih dekat ke kampung agar lebih mudah bersekolah dan beraktivitas. Rumah di tengah kebun itu kini lebih sunyi, hanya ditemani rutinitas Abah Sarmuh dan istrinya yang tetap setia bertani.
Setiap hari, ia bangun sebelum subuh, lalu berangkat ke kebun. Selain itu, ia juga rutin memeriksa kincir airnya.
“Harus dicek terus. Takut ada ranting atau daun nyangkut, soalnya dekat bambu,” katanya.
Di usianya yang sudah 80 tahun, kondisi fisik Abah masih cukup bugar. Ia tetap menggarap lahannya yang ditanami berbagai sayuran seperti wortel, daun bawang, dan kucai.
Baca Juga: Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis Warnai Peringatan HUT Bhayangkara Ke-80 di Jampangkulon
Lahan itu merupakan garapan sejak masa krisis ekonomi 1998, ketika tanah berstatus HGU mulai dibuka dan dimanfaatkan warga.
“Dulu katanya banyak macan di sini. Tapi kakek saya berani buka,” tutur Abah.
Meski pernah berjaya, kini kincir air itu mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Lampu yang menyala di rumahnya tampak redup dan sesekali berkedip.
“Sekarang suka kelap-kelip. Mungkin dinamonya harus diganti yang lebih bagus,” ujarnya.
Biaya yang dulu ia keluarkan untuk membangun kincir mencapai sekitar Rp3,7 juta—jumlah yang tidak kecil bagi seorang petani. Namun keterbatasan itu tak menyurutkan langkahnya untuk tetap mandiri.
Baca Juga: Korwil MBG Kota Sukabumi Hormati Rencana Aksi Damai, Sebut Aspirasi Masyarakat Bagian dari Demokrasi
Totong, warga sekitar yang juga pernah merasakan manfaat listrik dari kincir tersebut, mengaku keberadaan listrik itu sangat membantu, meski dayanya terbatas.
“Malam agak terang. Tapi buat TV sama HP enggak kuat. Ya yang penting ada penerangan,” katanya.
Bagi mereka yang tinggal di kawasan kebun, listrik bukan sekadar kebutuhan, tapi juga perjuangan. Jarak yang jauh dari jaringan PLN membuat akses listrik menjadi sulit dan mahal.
Abah Sarmuh pernah mempertimbangkan untuk memasang listrik konvensional. Namun kebutuhan kabel yang mencapai ribuan meter membuat rencana itu sulit diwujudkan.
Dari situlah ia memilih jalan berbeda—menciptakan listriknya sendiri dari alam. Kini, di usia senja, Abah hanya memiliki satu harapan sederhana.
Ia ingin kincir airnya kembali normal, agar listrik bisa menyala lebih stabil seperti dulu.

