SUKABUMI – Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama (NU) dinilai perlu mengubah ukuran keberhasilan organisasi. Kebesaran jumlah warga, pesantren dan lembaga pendidikan tidak cukup jika belum mampu menghasilkan kapasitas serta manfaat yang dirasakan masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hasim Adnan, dalam refleksinya terhadap buku NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan (Sebuah Otokritik) karya KH. Imam Jazuli, Lc., MA.
Menurut Hasim, NU telah memiliki modal sosial yang sangat besar setelah melewati satu abad perjalanan. Modal tersebut mencakup struktur organisasi, pesantren, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, koperasi, badan usaha, jaringan dakwah, komunitas intelektual hingga jutaan warga.
Baca Juga: Pra Musran PKB Dapil VI Sukabumi Digelar, Hasim Adnan Targetkan Dua Kursi pada 2029
Namun, besarnya struktur dan jumlah warga tidak otomatis menunjukkan tingginya kapasitas organisasi.
Karena itu, menurut Hasim, pertanyaan penting bagi NU di abad kedua bukan lagi sekadar seberapa besar organisasi tersebut, tetapi apa yang akan dilakukan dengan kebesaran yang telah dimiliki.
Ia menilai NU perlu bergerak dari kebanggaan atas capaian masa lalu menuju upaya membangun kapasitas dan menghasilkan karya.
Dalam konteks pendidikan, misalnya, banyaknya pesantren perlu diikuti kemampuan melahirkan santri yang mampu berkiprah di berbagai bidang. Begitu pula keberadaan perguruan tinggi NU perlu diarahkan untuk menghasilkan pusat-pusat keunggulan ilmu pengetahuan.
Baca Juga: Hasim Adnan: Loyalitas NU Harus Berjalan Bersama Nalar
Pada sektor ekonomi, potensi warga Nahdliyin juga dinilai perlu diorganisasi secara lebih serius. Hasim mengutip gagasan dalam buku tersebut mengenai pentingnya menghidupkan kembali semangat Nahdlatut Tujjar dengan mempertemukan pengusaha dan profesional Nahdliyin berdasarkan kompetensi.
Sementara dalam bidang dakwah, NU juga didorong untuk tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Menurut Hasim, dakwah perlu bergerak dari sekadar mempertahankan aktivitas yang sudah ada menuju pemberdayaan masyarakat, sehingga kegiatan keagamaan juga mampu memberikan jawaban terhadap persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, teknologi dan ekonomi.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya data bagi organisasi sebesar NU. Klaim mengenai jumlah dan kekuatan organisasi perlu didukung basis data yang akurat agar kebijakan tidak dibangun berdasarkan asumsi.
Baca Juga: Hasim Adnan Soroti Masa Depan Santri di Abad Kedua NU
“Data adalah harga diri organisasi,” tulis Hasim dalam opininya.
Menurutnya, data bukan hanya persoalan statistik, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas pengambilan keputusan.
Tanpa data yang akurat, organisasi akan kesulitan mengetahui persoalan secara tepat dan menentukan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan.
Hasim juga melihat bahwa tantangan NU di abad kedua semakin luas. Organisasi tersebut tidak hanya perlu memperkuat sektor pendidikan, dakwah dan ekonomi, tetapi juga merespons perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, krisis iklim, perubahan geopolitik hingga peluang diplomasi global.
Baca Juga: Sapa Warga Berbasis Budaya, Hasim Adnan Ajak Masyarakat Rawat Semangat Kemerdekaan
Karena itu, ia menilai kebesaran sejarah harus menjadi modal untuk tumbuh, bukan alasan untuk berhenti.
NU tetap perlu berakar pada pesantren, Aswaja dan tradisi, tetapi pada saat yang sama harus berani berkembang dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, kesehatan, ekologi, diplomasi dan kebudayaan.
Pada bagian akhir refleksinya, Hasim menekankan bahwa abad kedua semestinya menjadi momentum bagi NU untuk membangun kapasitas dan menghadirkan kemaslahatan.
Baca Juga: HUT ke-81 Jawa Barat, Hasim Adnan Ajak Masyarakat Jaga Kebersamaan dan Perkuat Pembangunan
“NU tidak cukup hanya menjadi organisasi terbesar. NU harus menjadi organisasi yang paling terasa manfaatnya,” tulisnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberdayaan warga, kualitas generasi santri serta lahirnya pusat-pusat keunggulan ilmu pengetahuan dari lingkungan NU.
Bagi Hasim, setelah berhasil mempertahankan eksistensinya selama satu abad, tantangan NU berikutnya adalah keberanian untuk menciptakan masa depan.
Dengan demikian, abad kedua NU diharapkan tidak sekadar menjadi fase mempertahankan warisan sejarah, tetapi menjadi periode membangun kapasitas, menciptakan karya dan memperluas kemaslahatan bagi masyarakat

