Kabupaten SukabumiLifestyleSosok

Cerita Ade, Pelatih Burung Free Flight dari Cicantayan Sukabumi

×

Cerita Ade, Pelatih Burung Free Flight dari Cicantayan Sukabumi

Sebarkan artikel ini
Ade, warga Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi yang jadi pelatih burung free flight. (Foto: Fajar Sidik/Sukabumiku.id)

SUKABUMI – Melatih burung agar bisa terbang bebas lalu kembali ke pemiliknya menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi Ade, warga Cikukulu, Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.

Ade menekuni aktivitas free flight, yakni melatih burung terbang bebas di alam terbuka. Berbagai jenis burung ia pelihara dan latih, mulai dari betet jawa (psittacula alexandri) hingga burung eksotis seperti blue and gold macaw (ara ararauna) dan alexandrine parakeet (psittacula eupatria).

Ia menuturkan, proses melatih burung tidak bisa dilakukan secara instan. Burung harus dididik sejak kecil, biasanya diambil dari penangkaran, kemudian dilatih secara bertahap hingga mampu mengenali pemiliknya.

Baca Juga: Innalillahi, H. Asep Supriatna Wakil Ketua Dewan Syuro PKB Kabupaten Sukabumi Tutup Usia

“Biasanya kita ambil dari breeder sejak masih baby, lalu dididik step by step sampai bisa free flight,” ujar Ade saat ditemui di Bukit Panenjoan, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (25/04/2026).

Namun, dalam perjalanannya, Ade kerap menghadapi tantangan. Pada tahap awal, burung yang dilatih sering mengalami mis-landing atau salah mendarat karena belum fokus kembali kepada pemiliknya.

“Paling cepat satu bulan sudah bisa terbang, tapi masih sering mis-landing, kadang hinggap di pohon atau ke tempat lain,” katanya.

Ia mengungkapkan, risiko terbesar dalam melatih burung free flight adalah ketika burung terbang dan hinggap di lokasi yang sulit dijangkau, seperti pohon tinggi atau bangunan.

Baca Juga: Melihat Burung Eksotis Terbang Menari di Bukit Panenjoan Sukabumi

“Namanya juga hewan yang terbang bebas, bisa nemplok di mana saja. Itu yang jadi kesulitan,” ungkapnya.

Meski begitu, Ade menilai proses tersebut sebagai bagian dari pembelajaran. Seiring waktu, burung akan terbiasa dan mampu kembali kepada pemiliknya setelah terbang.

Untuk meminimalisir risiko, ia melengkapi burungnya dengan perangkat pendukung seperti GPS, khususnya untuk burung berukuran sedang hingga besar, serta ring identitas di kaki burung.

Baca Juga: Keluar Masuk Truk Proyek Tol Bocimi, Lalin Simpang Cibolang Padat Merayap

Aktivitas latihan biasanya dilakukan di ruang terbuka seperti Bukit Panenjoan, Kecamatan Cibadak, yang dinilai memiliki kondisi alam yang mendukung. Dalam satu sesi, burung diterbangkan selama lima hingga sepuluh menit.

Bagi Ade, melatih burung bukan sekadar hobi, tetapi juga tentang membangun kepercayaan antara manusia dan hewan. Ia percaya, dengan latihan yang konsisten, burung akan selalu menemukan jalan pulang.