Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ada satu definisi nasihat yang membuat saya berhenti lama.
Bahwa nasihat adalah ketika kita ingin orang lain memiliki kebaikan yang kita miliki.
Artinya sederhana. Kita tidak cukup puas menjadi baik sendirian.
Kita ingin orang lain juga baik.
Ini bukan sikap umum. Karena manusia cenderung ingin unggul sendiri.
Tapi Islam mengajarkan sebaliknya. Bahwa kebaikan sejati adalah yang dibagikan.
Saya mencoba mengingat. Apa yang paling saya inginkan dalam hidup ini?
Kalau jawabannya adalah surga, maka seharusnya saya juga ingin orang lain sampai ke sana.
Di situlah makna ukhuwah menjadi hidup.
Bukan hanya bersama saat senang. Tapi juga saling menarik saat salah.
Allah mengingatkan:
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Manusia dalam kerugian.
Tapi ada pengecualian.
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
Saling menasihati dalam kebenaran.
Artinya kita tidak bisa selamat sendirian. Kita butuh orang lain. Dan orang lain butuh kita.
Saya pernah merasakan dinasihati oleh seseorang yang tulus. Tidak banyak kata. Tidak menggurui. Tapi terasa hangat.
Dan anehnya, nasihat seperti itu sulit dilupakan.
Karena ia tidak hanya masuk ke pikiran. Tapi juga ke hati.
Saya ingin bisa seperti itu.
Menjadi orang yang ketika menasihati, orang lain tidak merasa diserang. Tapi merasa ditemani.
Karena pada akhirnya, kita semua sedang berjalan. Tidak ada yang benar-benar sempurna.
Dan mungkin, yang kita butuhkan bukan orang yang selalu benar. Tapi orang yang mau saling mengingatkan.
Dengan cara yang membuat kita tetap ingin berjalan bersama.

