Kabupaten Sukabumi

Dari Hulu ke Hilir, Warga Cikakak Waspadai Dampak Proyek Panas Bumi

×

Dari Hulu ke Hilir, Warga Cikakak Waspadai Dampak Proyek Panas Bumi

Sebarkan artikel ini
Foto bersama warga dan sejumlah tokoh menyikapi rencana pengembangan energi panas bumi di kawsan Cisolok-Cisukarame, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jumat (22/05/2026). (Foto: Istimewa)

SUKABUMI – Rencana pengembangan energi panas bumi di kawasan Cisolok-Cisukarame menuai perhatian serius dari warga Kecamatan Cikakak. Proyek yang masuk dalam kategori strategis nasional itu dinilai berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan, terutama terkait ketersediaan air bersih di Desa Cimaja dan Desa Cikakak.

Tokoh masyarakat setempat, Usman Faqih, menegaskan bahwa warga tidak menolak pembangunan energi terbarukan. Namun, ia mengingatkan agar aspek keberlanjutan sumber air menjadi prioritas utama.

Menurutnya, sungai dan mata air di wilayah tersebut merupakan sumber kehidupan utama masyarakat. Ia menyebut, jika aktivitas di kawasan hulu mengganggu debit air atau mencemari akuifer, maka dampaknya akan langsung dirasakan warga di hilir.

Baca Juga: GBLA Bergemuruh, Persib Bandung Juara Super League 2025-2026

“Kami bukan menolak investasi atau pembangunan. Tapi sumber air di Cikakak ini adalah urat nadi kehidupan. Kalau sampai terganggu, masyarakat di Cimaja dan Cikakak yang pertama terdampak,” ujarnya di Cikakak, Jumat (22/05/2026).

Hal senada disampaikan Ketua Rivera Sukabumi, Tios Ardian Gunawan. Ia menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap analisis dampak lingkungan (AMDAL) dalam setiap tahapan proyek.

Ia mengingatkan agar ambisi pengembangan energi bersih tidak justru mengorbankan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Baca Juga: SMSI Sukabumi Raya Siapkan Pelantikan dengan Konsep Kolaboratif Lintas Sektor

“Jangan sampai demi mengejar energi bersih dari dalam bumi, kita malah kehilangan air bersih di permukaan. Dampak hidrologis dari pengeboran itu nyata, dan kalau sudah terganggu, pemulihannya bisa memakan waktu sangat lama,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Rivera Sukabumi mengajak masyarakat untuk mulai melakukan mitigasi mandiri. Di antaranya dengan mendata ulang titik-titik mata air, memantau debit air secara berkala, serta melakukan penanaman pohon di area resapan.

Selain itu, warga juga didorong menjaga kebersihan sumber air dari limbah domestik guna mempertahankan kualitas air di tengah potensi ancaman.

Baca Juga: PMB Jabar 2026 Dimulai, Sekolah Maung Tak Terapkan Jalur Zonasi

Tios menekankan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini, tidak menunggu dampak terjadi.

“Antisipasi kekeringan harus dimulai sekarang, dari tingkat kampung. Menjaga sumber air yang ada saat ini adalah benteng terakhir untuk masa depan generasi Cikakak,” pungkasnya.