Progres Pembangunan Pedestrian Ahmad Yani, Ketua RW 10 : Banyak Pelanggaran

SUKABUMIKU.id – Pengerjaan proyek pedestrian Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, semakin semrawut. Pelaksana pembangunan diduga tidak profesional hingga tidak safety dalam menyimpan material pembangunan.

Sesuai pantauan sukabumiku.id di lapangan, pengerjaan proyek pedestrian ahmad yani yang menelan anggaran senilai Rp.14 miliar ini terlihat semrawut dan terkesan asal-asalan. Hal ini pun menuai sorotan dari beberapa pihak.

Terbaru pihak pelaksana pembangunan penyimpan pasir di pinggir jalan. Dampaknya, pasir tersebut melebar hingga menyebabkan kemacetan dan membahayakan pengguna jalan.

“Ya, kondisinya terjadi sejak kemarin, tumpukan pasir ini di simpam di pinggir jalan sehingga ketika hujan besar pasir ikut hanyut ke badan jalan,” kata Ketua RW 10 Kelurahan Kebon Jati Kota Sukabumi Mauly Fahlevi Prawira kepada sukabumiku.id.

Lanjut dia, tidak hanya penyimpanan material proyek. Pelaksana pembangunan pun tidak mengikuti prosedur dari mulai tidak di pasangnya plang pembangunan pedestrian Ahmad Yani, penggunaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), tidak adanya rambu proyek, hingga pembatas pembangunan.

“Pada saat dilihat di lapangan pun banyak pelanggaran yang dilanggar oleh pelaksana proyek dan saya yakin pekerja pelaksana pun tidak di daftarkan BPJS Ketenagakerjaan kemudian plang proyek pun saat ini tidak ada,” jelasnya.

Dia pun sangat menyayangkan kondisi itu. Apalagi pihak pengembang dinilai kurang bersosialisasi dan memperdulikan lingkungan di sekitar.

“Kegiatan proyek ini sangat mengganggu, dikarenakan pelaksana kegiatan pembangunan itu tidak memperhatikan dan mempedulikan terkait praktisi dan penggiat lingkungan di sekitar. Dari mulai pejalan Kaki, pedagang kaki lima pertokoan hingga juru parkir yang setiap hari bertugas disana,” jelasnya.

Sementara itu Tim Pelaksana Pembangunan Pedestrian Ahmad Yani Kota Sukabumi, Salman, menjelaskan soal tumpukan pasir yang berserakan hingga ke badan jalan ini dikarenakan para pekerja telat untuk memindahkannya.

“Setelah material datang belum sempat dirapihkan ada hujan deras, biasanya ada waktu buat kita rapihkan,” pungkasnya. (Ky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *