OpiniPendidikan

Ketika Dunia Industri Menjadi Ruang Pendidikan: Saatnya Mengubah Cara Pandang terhadap Prakerin

×

Ketika Dunia Industri Menjadi Ruang Pendidikan: Saatnya Mengubah Cara Pandang terhadap Prakerin

Sebarkan artikel ini
Mulyawan Safwandy Nugraha

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Selama ini dunia industri sering dipandang hanya sebagai tempat belajar bekerja bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Perusahaan menjadi lokasi praktik. Siswa datang untuk mengasah keterampilan. Setelah masa Prakerin selesai, mereka kembali ke sekolah dengan membawa pengalaman kerja.

Pandangan seperti itu tidak salah.

Namun, pandangan tersebut belum lengkap.

Sesungguhnya dunia industri juga merupakan ruang pendidikan. Di sanalah karakter seseorang diuji setiap hari. Tidak ada guru yang terus mengingatkan untuk datang tepat waktu. Tidak ada wali kelas yang mencatat pelanggaran disiplin. Tidak ada nilai rapor yang menentukan apakah seseorang bertanggung jawab atau tidak.

Yang ada hanyalah budaya kerja.

Budaya kerja itulah yang secara perlahan membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara seseorang memandang pekerjaannya.

Penelitian yang dilakukan oleh Khoirunnisa bersama Mulyawan Safwandy Nugraha memberikan gambaran menarik mengenai fenomena tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan Praktik Kerja Industri bukan sekadar proses transfer keterampilan, tetapi juga menjadi arena internalisasi nilai-nilai Pendidikan Agama Islam melalui pengalaman kerja sehari-hari.

Temuan ini layak mendapat perhatian lebih luas.

Selama bertahun-tahun, sekolah dan industri lebih banyak berdiskusi mengenai sinkronisasi kurikulum, sertifikasi kompetensi, atau kebutuhan tenaga kerja. Padahal ada satu aspek yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana lingkungan industri ikut mendidik karakter peserta didik.

Siswa yang memasuki dunia kerja sebenarnya sedang belajar banyak hal yang tidak pernah tertulis dalam buku pelajaran.

Mereka belajar menghargai waktu.

Mereka belajar menyelesaikan pekerjaan sesuai target.

Mereka belajar menerima kritik dari atasan.

Mereka belajar bekerja dalam tim.

Mereka belajar menghadapi tekanan.

Yang menarik, penelitian Khoirunnisa dan Mulyawan Safwandy Nugraha menemukan bahwa proses tersebut menjadi jauh lebih bermakna ketika nilai-nilai Pendidikan Agama Islam hadir sebagai landasan perilaku. Nilai aqidah membuat peserta didik memandang pekerjaan sebagai amanah. Nilai ibadah membangun kesadaran untuk tetap menjaga hubungan dengan Allah meskipun berada di lingkungan kerja. Nilai akhlak mengarahkan siswa agar tetap jujur, disiplin, sopan, bertanggung jawab, dan mampu menjaga etika profesional.

Dengan kata lain, kompetensi kerja memperoleh fondasi moral.

Inilah yang membedakan tenaga kerja biasa dengan tenaga kerja profesional.

Profesionalisme tidak lahir hanya karena seseorang menguasai teknologi. Profesionalisme muncul ketika kemampuan teknis berjalan seiring dengan integritas pribadi.

Banyak perusahaan saat ini justru menghadapi persoalan pada aspek kedua. Mereka tidak terlalu kesulitan melatih keterampilan teknis. Yang jauh lebih sulit adalah membangun budaya jujur, disiplin, tanggung jawab, dan komitmen kerja.

Padahal semua karakter tersebut dapat mulai ditanamkan sejak peserta didik masih menjalani Prakerin.

Penelitian ini juga memberikan pelajaran penting bahwa pembentukan karakter tidak mungkin berhasil jika hanya mengandalkan guru Pendidikan Agama Islam. Sekolah memang menjadi titik awal, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada lingkungan tempat siswa belajar bekerja.

Pembimbing industri memiliki posisi yang sangat strategis.

Setiap sikap yang diperlihatkan oleh supervisor, teknisi senior, maupun pimpinan perusahaan akan menjadi contoh nyata bagi peserta didik. Budaya kerja yang menghargai kejujuran akan melahirkan pekerja yang jujur. Budaya kerja yang menghargai tanggung jawab akan melahirkan pekerja yang bertanggung jawab.

Sebaliknya, apabila peserta didik justru menyaksikan praktik manipulasi, pelanggaran disiplin, atau budaya kerja yang mengabaikan etika, maka proses pendidikan karakter yang telah dibangun di sekolah dapat mengalami kemunduran.

Penelitian Khoirunnisa juga mengidentifikasi beberapa tantangan yang masih dihadapi peserta didik selama Prakerin, seperti padatnya jadwal kerja, kelelahan fisik, keterbatasan fasilitas ibadah, pengaruh lingkungan pergaulan, serta kurangnya intensitas pengawasan dari sekolah. Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter memerlukan kolaborasi yang berkesinambungan antara sekolah, keluarga, dan dunia industri.

Karena itu, sudah saatnya konsep kemitraan sekolah dan industri diperluas.

Kerja sama tidak cukup hanya berbicara mengenai penempatan siswa atau penyusunan kurikulum. Sekolah dan industri perlu memiliki komitmen bersama untuk membangun budaya kerja yang sekaligus menjadi budaya pendidikan.

Perusahaan bukan sekadar pengguna lulusan.

Perusahaan juga merupakan mitra strategis dalam membentuk manusia.

Jika dunia industri menyadari peran pendidikan tersebut, maka Prakerin tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Prakerin akan melahirkan generasi muda yang memiliki kompetensi, integritas, dan karakter religius yang mampu bertahan di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat.

Ke depan, keberhasilan pendidikan vokasi semestinya tidak hanya diukur dari berapa banyak lulusan yang terserap di dunia kerja. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak lulusan yang tetap memegang nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan etika ketika mereka benar-benar menjadi bagian dari dunia industri.

Pada akhirnya, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang kompeten. Bangsa ini membutuhkan warga negara yang berkarakter. Penelitian Khoirunnisa bersama Mulyawan Safwandy Nugraha memperlihatkan bahwa kedua tujuan tersebut dapat dicapai secara bersamaan ketika dunia industri dipandang bukan hanya sebagai tempat bekerja, tetapi juga sebagai ruang pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya.