Opini

Diam yang Tidak Selalu Bijak

×

Diam yang Tidak Selalu Bijak

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Banyak orang bilang, diam itu emas. Tapi saya mulai ragu.

Karena dalam beberapa keadaan, diam justru bisa menjadi masalah.

Saat kita melihat kesalahan. Saat kita tahu ada yang menyimpang. Lalu kita memilih diam.

Apakah itu bijak?

Hadits ini mengingatkan saya.

النُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Memberi nasihat kepada setiap muslim.

Artinya ada kewajiban. Bukan pilihan.

Tapi tentu tidak semua harus disampaikan. Tidak semua harus diucapkan.

Di sinilah kebijaksanaan dibutuhkan.

Kapan harus bicara. Kapan harus menunggu. Kapan harus diam.

Saya pernah menyesal karena bicara terlalu cepat. Tapi juga pernah menyesal karena diam terlalu lama.

Dua-duanya mengajarkan hal yang sama. Bahwa nasihat butuh waktu yang tepat.

Bukan hanya isi yang benar. Tapi juga cara dan momen yang tepat.

Seperti petani. Menanam tidak bisa sembarangan waktu. Harus melihat musim.

Begitu juga nasihat.

Kalau disampaikan saat hati sedang tertutup, ia akan ditolak. Tapi kalau disampaikan saat hati terbuka, ia akan diterima.

Saya belajar untuk lebih peka. Mendengar sebelum bicara. Memahami sebelum menilai.

Karena tujuan kita bukan sekadar menyampaikan. Tapi memastikan sampai.

Dan itu butuh kesabaran.