JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (6/7/2026). Pelemahan terjadi setelah dolar AS bertahan stabil di pasar global, sementara pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp17.995 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 32 poin atau sekitar 0,18 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.963 per dolar AS.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah perkembangan pasar global yang masih dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat. Dolar AS bertahan di dekat level terendah dalam dua pekan setelah laporan ketenagakerjaan Negeri Paman Sam menunjukkan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja sepanjang Juni 2026.
Baca Juga: Obesitas Masuk Lima Besar Masalah Kesehatan di Indonesia
Kondisi tersebut membuat sebagian investor mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Di pasar internasional, indeks dolar AS berada di kisaran 100,9. Sementara euro diperdagangkan di sekitar 1,1435 dolar AS dan poundsterling berada di level 1,3351 dolar AS.
Mata uang Asia juga menunjukkan pergerakan beragam. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 161,57 per dolar AS, masih dekat dengan posisi terlemahnya dalam beberapa dekade terakhir. Di sisi lain, won Korea Selatan tercatat menguat tipis pada perdagangan awal pekan.
Meski tekanan terhadap dolar AS sempat muncul setelah rilis data ketenagakerjaan, sejumlah analis menilai mata uang Negeri Paman Sam masih memiliki prospek positif dalam jangka menengah.
Baca Juga: Kerugian Rp1 Miliar, Terduga Pengelola Arisan Bodong di Cibadak Janji Kembalikan Dana dalam 3 Bulan
Analis dari OCBC menyebut kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih tergolong kuat sehingga peluang kebijakan moneter yang ketat tetap terbuka.
“Prospek USD secara keseluruhan tetap konstruktif,” demikian pandangan analis OCBC.
Lembaga tersebut juga mempertahankan proyeksi bahwa dolar AS masih berpotensi mengalami apresiasi sekitar 2 hingga 3 persen sepanjang paruh kedua tahun 2026.
Pelaku pasar kini menunggu berbagai data ekonomi lanjutan dari Amerika Serikat serta sinyal terbaru dari Federal Reserve yang diperkirakan akan menjadi faktor utama penentu arah pergerakan dolar AS maupun nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

