Berita UtamaKota Sukabumi

Ratusan Santri Baiti Jannati Sukabumi Keracunan MBG, Muntah Hingga Keluar Busa

×

Ratusan Santri Baiti Jannati Sukabumi Keracunan MBG, Muntah Hingga Keluar Busa

Sebarkan artikel ini
Seorang santriwati yang diduga mengalami keracunan MBG menjalani penanganan medis di ruang IGD salah satu rumah sakit di Kota Sukabumi. (FOTO: Rizky/Sukabumiku.id)

SUKABUMI — Sebanyak 134 santri dan pengajar Pondok Pesantren Baiti Jannati, Kota Sukabumi, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan dan harus mendapatkan penanganan medis sejak Jumat (14/8/2026) hingga Sabtu (15/8/2026).

Sejumlah santri mengeluhkan mual, pusing, diare, hingga muntah setelah mengonsumsi makanan yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Para korban berasal dari jenjang SMP dan SMA serta seorang pengajar, dengan sebagian di antaranya menjalani perawatan di RSUD Al-Mulk dan RSUD R. Syamsudin atau RS Bunut.

Baca Juga: 134 Santri dan Pengajar Ponpes Baiti Jannati Kota Sukabumi Diduga Keracunan MBG

Salah seorang santri kelas 7, Fatimah, mengaku mulai merasakan keluhan kesehatan setelah waktu Magrib dan kondisinya semakin terasa menjelang dini hari.

“Mulai sakit bukan cuma pas sebelum Subuh. Terus tiba-tiba banyak yang sakit. Sekitar jam satu saya ke toilet karena mulas, mual dan BAB. Banyak yang antre,” ujar Fatimah saat ditemui di fasilitas kesehatan.

Memasuki waktu Tahajud sekitar pukul 02.00 WIB, jumlah santri yang mengalami keluhan serupa disebut semakin bertambah.

Fatimah mengatakan dirinya mengalami buang air besar dengan kondisi cair, disertai pusing dan tubuh terasa lemas.

Baca Juga: Rayakan HUT RI ke-81, INTI-PINTI Sukabumi Gelar Bakti Sosial dan Deteksi Dini Kanker Serviks Gratis

“Saya cuma BAB, BAB-nya cair. Pusing juga dan badan lemas,” katanya.

Ia juga mengaku melihat seorang santri lain mengalami muntah yang disertai busa.

“Iya, sudah ada yang muntah busa,” ungkapnya.

Menurut Fatimah, santri tersebut berasal dari jenjang SMA dan keluhan serupa dialami sejumlah santri di beberapa kamar atau kobong.

Baca Juga: Pantai Cimaja Jadi Panggung Peselancar Dunia, Wabup Sukabumi Dorong Wisata Kelas Dunia

Namun, kondisi muntah berbusa yang disampaikan tersebut masih merupakan keterangan saksi dan belum dapat dipastikan secara medis sebagai gejala akibat keracunan makanan.

Fatimah menyebut makanan yang dikonsumsi sebelumnya antara lain nasi, telur, pakcoy, wortel, bumbu kacang, serta minuman berupa susu atau jeruk.

“Telur, bumbu kacang, pakcoy, nasi, ada yang jeruk dan ada yang susu. Sama wortel,” tuturnya.

Saat menjalani perawatan, Fatimah mengaku masih merasakan pusing dan belum sepenuhnya pulih.

“Saya masih sakit, masih pusing,” ujarnya.

Baca Juga: HUT ke-8 Bawaslu, Generasi Muda Kota Sukabumi Disiapkan Jadi Pengawal Demokrasi

Sementara itu, pengurus Pondok Pesantren Baiti Jannati, Faid Fauzan, mengatakan keluhan kesehatan mulai mencuat secara lebih luas setelah kegiatan Subuh.

Pihak pesantren kemudian membawa sejumlah santri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.

“Mencuatnya setelah Subuh. Kami bawa beberapa anak ke puskesmas, lalu dianjurkan ke IGD RSUD Al-Mulk. Karena jumlahnya terus bertambah, sebagian dirujuk ke RSUD Syamsudin,” kata Faid.

Faid menegaskan pihak pesantren belum menyimpulkan bahwa makanan dari program MBG menjadi penyebab gangguan kesehatan yang dialami para santri dan pengajar. Ada pun pesantren tersebut mendapatkan suplay MBG dari dua SPPG yakni SPPG Al Muslim  dan SPPG Cemerlang.

Baca Juga: Harga Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg Turun Mulai 15 Agustus 2026

Menurutnya, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan sumber persoalan tersebut.

Dinas Kesehatan Kota Sukabumi telah mengambil sejumlah sampel untuk diperiksa, baik dari makanan MBG maupun makanan yang disiapkan oleh dapur internal pesantren.

Sampel makanan tersebut selanjutnya akan dibandingkan dengan sampel medis dari para korban untuk membantu memastikan penyebab gangguan kesehatan.

Hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar, dugaan keracunan akibat MBG belum dapat dinyatakan sebagai penyebab pasti dari gangguan kesehatan yang dialami para santri dan pengajar.