NasionalPendidikan

Riset Guru Besar IPB: Sawit tak Boros Air dan Bukan Penyebab Utama Banjir

×

Riset Guru Besar IPB: Sawit tak Boros Air dan Bukan Penyebab Utama Banjir

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi perkebunan sawit. (Foto: freepik/aopsan).

BOGOR – Kelapa sawit selama ini kerap dituding sebagai tanaman boros air sekaligus pemicu utama banjir. Namun, hasil riset terbaru dari Guru Besar IPB University, Prof Hendrayanto, justru menunjukkan fakta berbeda.

Dalam Orasi Ilmiah yang digelar pada Sabtu (25/4/2026), ia memaparkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, persoalan banjir dan longsor lebih kompleks dan berkaitan erat dengan degradasi lingkungan serta perubahan tata guna lahan.

“Hasil penelitian yang cukup lama ini penting disampaikan karena sawit selama ini sering disalahkan,” ujarnya.

Baca Juga: Innalillahi, H. Asep Supriatna Wakil Ketua Dewan Syuro PKB Kabupaten Sukabumi Tutup Usia

Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan hidrologi, khususnya melalui pengukuran transpirasi dan evapotranspirasi, menunjukkan bahwa konsumsi air pada tanaman sawit relatif setara dengan tanaman lain.

Ia menjelaskan bahwa laju transpirasi kelapa sawit tidak berbeda signifikan dibandingkan tanaman seperti karet, mahoni, maupun akasia.

“Tanaman kelapa sawit tidak boros air karena laju transpirasinya sebanding dengan tanaman lain,” kata Hendrayanto.

Selain itu, kajian terhadap daerah tangkapan air yang didominasi perkebunan sawit juga tidak menunjukkan kondisi yang lebih buruk dibandingkan wilayah dengan dominasi tanaman lain seperti karet.

Baca Juga: Melihat Burung Eksotis Terbang Menari di Bukit Panenjoan Sukabumi

Menurutnya, penyebab utama meningkatnya risiko bencana hidrometeorologis justru berasal dari perubahan besar pada ekosistem, terutama akibat konversi hutan hujan tropis menjadi berbagai bentuk penggunaan lahan.

Ia menegaskan, perubahan tersebut tidak hanya menjadi perkebunan sawit, tetapi juga permukiman maupun hutan tanaman monokultur lainnya yang turut memengaruhi keseimbangan lingkungan.

Eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali, ditambah anomali iklim, disebut memperparah frekuensi bencana seperti banjir, longsor, hingga kekeringan.

Baca Juga: Keluar Masuk Truk Proyek Tol Bocimi, Lalin Simpang Cibolang Padat Merayap

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa ekspansi perkebunan sawit membawa dampak ekologis tertentu, terutama terhadap siklus hidrologi. Namun, menurutnya, menyederhanakan persoalan dengan menjadikan sawit sebagai satu-satunya penyebab adalah pendekatan yang keliru.

Sebagai solusi, ia mendorong pengelolaan lanskap secara terpadu, termasuk pengaturan daerah aliran sungai (DAS) dan penerapan praktik terbaik dalam pengelolaan sumber daya alam.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif untuk menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus tetap mempertahankan kontribusi ekonomi dari sektor perkebunan.