Kabupaten Sukabumi

Solidaritas Warga Cibadak, Rutilahu di Situ Saeur Akhirnya Dibangun Lewat Program Kopi Masal

×

Solidaritas Warga Cibadak, Rutilahu di Situ Saeur Akhirnya Dibangun Lewat Program Kopi Masal

Sebarkan artikel ini
Seremoni peletakan batu dalam pembangunan rutilahu di Kampung Situ Saeur, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jumat (01/05/2026). (Foto: Fajar Sidik/Sukabumiku.id)

SUKABUMI – Suasana di Kampung Situ Saeur RT 01 RW 11, Kelurahan Cibadak, Kabupaten Sukabumi terlihat lebih hangat dari biasanya. Sejumlah warga bersama aparat wilayah setempat terlihat kompak bergotong royong memperbaiki rumah tidak layak huni (rutilahu).

Sejumlah warga bahu-membahu saling membantu membersihkan puing-puing rumah milik Ujang Kusnadi (42). Lembaran dinding anyaman bilik, puing bambu, dan genting dirapikan.

Sementara warga lainnya terlihat akrab bersama aparat wilayah dari kantor kelurahan, kecamatan, serta Polsek dan Koramil setempat. Mereka bahu membahu gotong royong, mengangkut material untuk membangun rumah milik Ujang.

 “Alhamdulillah. Saya sangat berterimakasih kepada masyarakat serta aparat yang sudah mau bergotong royong untuk memperbaiki rumah ini,” ujar Ujang Kusnadi kepada sukabumiku.id di sela kegiatan pembangunan rumah, Jumat (01/05/2026).

Warga bersama aparatur wilayah setempat gotong royong mengangkut material untuk pembangunan rutilahu di Kampung Situ Saeur, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jumat (01/05/2026). (Foto: Fajar Sidik/Sukabumiku.id)

Baca Juga: NHNW Jadi Sorotan di Smanic Cup XXIII, Lintas Alam Satukan Pelajar dan Masyarakat

Ujang mengaku bersyukur rumahnya bisa diperbaiki. Maklum, rumahnya memang sudah tidak layak huni sejak lama.

“Kalau hujan bocornya dimana-mana, mudah-mudahan pembangunannya lancar. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih,” imbuh Ujang dengan nada lirih.

Di lokasi yang sama, Camat Cibadak, Mulyadi, menjelaskan program pembangunan rutilahu ini adalah respons dari laporan masyarakat.

“Karena rutilahu ini di wilayah kami cukup banyak, kami berupaya untuk merespons cepat supaya satu per satu bisa ditangani. Alhamdulillah hari ini bisa dilaksanakan di Kampung Situ Saeur ini,” ujar Mulyadi.

Baca Juga: Dadang Hermawan Buka NHNW di Smanic Cup XXIII, Dorong Ekspresi Bakat Pelajar

Mulyadi menjelaskan, program pembangunan rutilahu di wilayahnya mengedepankan gotong royong warga. Usulan perbaikan rumah yang masuk terlebih dahulu melalui proses asesmen oleh tim kecamatan bersama RT/RW dan pemerintah desa atau kelurahan.

Ada sejumlah persyaratan yang harus terpenuhi sebelum rutilahu bisa dibangun. Salah satu syarat utama adalah kesiapan masyarakat sekitar untuk bergotong royong.

“Kalau warga siap gotong royong, baru kami hitung kebutuhan materialnya. Kemudian  kami ajukan ke donatur melalui pola lelang kebaikan di grup Kopi Masal,” jelasnya.

Baca Juga: Paguyuban JTM Gaungkan Perang Lawan Narkoba, Hendrik Firmansyah: Ini Tanggung Jawab Bersama

Kopi Masal merupakan singkatan dari Kolaborasi Peduli Masalah Sosial. Ini adalah wadah  komunikasi berbagai pihak untuk membantu penyelesaian persoalan sosial di Cibadak.

Sumber pendanaan program ini berasal dari berbagai pihak, mulai dari infak mingguan ASN kecamatan, jamaah pengajian, Forkopimcam, pemerintah desa dan kelurahan, hingga dukungan perusahaan, BAZNAS, dan masyarakat setempat.

“Awalnya dari infak, sekarang alhamdulillah perusahaan juga ikut terlibat,” kata Mulyadi.

Baca Juga: Lapang Merdeka Kota Sukabumi Kini Resmi Dijaga Satpam, Pemkot : Untuk Kenyamanan Warga Berolahraga

Lebih lanjut Mulyadi menjelaskan, sejak 2025 sudah ada  21 rumah yang telah masuk dalam program. Dari jumlah tersebut, 16 rumah sudah selesai diperbaiki, sementara lima lainnya masih dalam proses pembangunan.

Menurut Mulyadi, hasil perbaikan difokuskan pada kelayakan dan kenyamanan, disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat.

“Yang penting layak dan nyaman dulu. Misalnya untuk lansia, cukup satu kamar, ada ruang tamu, dapur, dan kamar mandi,” ungkapnya.

Meski berjalan cukup baik, program ini masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait keterlambatan dukungan dari donatur serta menurunnya partisipasi warga saat proses pembangunan berlangsung.

Baca Juga: Libur Panjang, Arus Lalu Lintas di Simpang Ratu Cibadak Padat

“Kadang di tengah jalan dukungan melemah, atau soal upah kembali ditanyakan ke kami, padahal di awal sudah ada komitmen,” jelasnya.

Mulyadi optimistis program ini dapat terus berlanjut dan membantu mengurangi jumlah Rutilahu di Cibadak. Ia menilai potensi dukungan dari berbagai pihak di wilayahnya cukup besar, mulai dari dunia usaha hingga masyarakat.

“Tinggal bagaimana kita bisa menggerakkan semua elemen yang ada. Saya yakin ini bisa terus berjalan,” pungkasnya.