Nasional

Rupiah Melemah Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Ini Dampaknya bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

×

Rupiah Melemah Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Ini Dampaknya bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Sebarkan artikel ini
Pegawai menunjukan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran uang atau money changer Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto : Bisnis/Himawan L. Nugraha)

SUKABUMI – Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia pada Kamis, 21 Mei 2026, satu dolar AS tercatat berada di level Rp17.773,42. Angka tersebut turun cukup dalam dibandingkan awal tahun pada 2 Januari 2026 yang masih berada di kisaran Rp16.803,60 per dolar AS.

Sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Mulai dari penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak dunia, ketegangan geopolitik, hingga menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia memicu kekhawatiran inflasi sehingga pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Baca Juga : Resep Jamu Galian Singset Tradisional, Minuman Herbal yang Hangat dan Menyegarkan

“Penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong tingginya harga minyak, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama,” ujar Ibrahim.

Kondisi tersebut membuat investor global cenderung memindahkan dana ke aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman.

Selain faktor global, situasi geopolitik di Timur Tengah juga dinilai turut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Konflik di kawasan produsen minyak menyebabkan harga energi melonjak dan meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia.

Baca Juga : Resep Sayur Kacang Merah Simpel, Gurih Asam Manis dan Bikin Nagih

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan faktor domestik juga memengaruhi pelemahan rupiah, terutama terkait persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

“Ketika kondisi ekonomi dianggap sangat fluktuatif, investor menjadi lebih berhati-hati untuk menanamkan modal,” kata Bhima.

Menurutnya, fluktuasi kurs yang tajam membuat investor asing menarik modal dari pasar saham dan obligasi Indonesia sehingga tekanan terhadap nilai tukar semakin besar.

Baca Juga : Resep Teh Serai Jahe Hangat, Minuman Herbal untuk Jaga Daya Tahan Tubuh

Pelemahan rupiah juga berdampak langsung terhadap kenaikan harga pangan. Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Hani Perwitasari, menjelaskan Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas seperti kedelai, gandum, dan bawang putih.

Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan pangan dan bahan baku produksi ikut meningkat sehingga harga di tingkat konsumen berpotensi naik.

“Fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bisa naik sekitar 2 hingga 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujar Hani.

Tak hanya pangan, biaya produksi sektor pertanian dan peternakan juga meningkat karena sebagian besar input produksi masih bergantung pada pasar global.

Sementara itu, akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Rijadh Djatu Winardi, mengatakan pelemahan rupiah dapat memicu imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor.

Menurutnya, ketika rupiah melemah, harga bahan baku industri dan barang impor menjadi lebih mahal sehingga biaya produksi perusahaan ikut naik.

“Pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan energi,” jelasnya.

Ia menambahkan, beban subsidi energi pemerintah juga berpotensi meningkat karena Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan energi nasional.

Di sektor industri, dampak pelemahan rupiah mulai dirasakan pelaku usaha manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menyebut sekitar 70 persen bahan baku sektor manufaktur masih berasal dari luar negeri.

“Dalam setahun terakhir rupiah sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen dan itu langsung memukul biaya produksi,” ujar Bob.

Menurutnya, dunia usaha kini menghadapi tekanan berlapis mulai dari kenaikan biaya logistik, gangguan rantai pasok global, hingga melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini memaksa perusahaan melakukan efisiensi agar tetap bertahan.

Bob juga mengingatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat meningkat apabila tekanan biaya berlangsung dalam jangka panjang.

Bhima Yudhistira menambahkan volatilitas rupiah membuat investor semakin berhati-hati untuk melakukan investasi jangka panjang di Indonesia, termasuk pembangunan pabrik dan ekspansi industri.

Menurutnya, pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari melalui kenaikan harga barang, biaya transportasi, energi, hingga tekanan terhadap lapangan kerja.

Para ekonom menilai stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat, iklim investasi, serta pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global saat ini.(SE)