SUKABUMI – Ada yang berbeda dari geliat pariwisata Kabupaten Sukabumi pekan ini. Bukan sekadar angka pendapatan yang diumumkan, melainkan cara baru menyampaikan optimisme langsung ke publik, dengan wajah muda sebagai representasi.
Adalah Mojang Pinilih Kabupaten Sukabumi 2025, Djemima Shireen, yang tampil membawa narasi segar: pariwisata bukan hanya soal kunjungan, tapi juga keterbukaan dan kepercayaan.
Di awal pekan, ia menyapa masyarakat dengan komitmen yang jarang terdengar sebelumnya mengumumkan capaian retribusi wisata secara rutin setiap minggu. Sebuah langkah kecil, namun memberi pesan besar bahwa sektor ini kini bergerak lebih transparan.
“Setiap awal pekan, kami akan menyampaikan capaian pendapatan dari objek daya tarik wisata,” ujarnya.
Namun di balik komitmen tersebut, tersimpan cerita lain: bagaimana generasi muda mulai mengambil peran sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sukabumi, Selasa 21 April 2026: Pagi Cerah, Siang Berpotensi Hujan Ringan
Dalam periode 13 hingga 19 April 2026, total retribusi yang dihimpun mencapai Rp27.013.000. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret denyut wisata di berbagai titik.
Kontributor terbesar datang dari kawasan Geyser Cisolok dengan Rp6.630.000, disusul Curug Cikaso sebesar Rp5.325.000. Sementara Pondok Halimun dan Curug Sodong turut menguatkan kontribusi, diikuti Pantai Minajaya dan Cinumpang.
Menariknya, ada pula pemasukan dari sektor asuransi sebesar Rp4.520.000 menunjukkan bahwa sistem pengelolaan wisata mulai bergerak ke arah yang lebih tertata.
Baca Juga: Terpilih Aklamasi, Andri Hidayana Nahkodai PPP Kabupaten Sukabumi
Dari total tersebut, Rp22.493.000 tercatat masuk ke kas daerah. Sebuah angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi indikator bahwa aktivitas wisata terus berputar dan memberi dampak nyata.
Jika ditarik lebih jauh, sejak awal tahun hingga April 2026, akumulasi pendapatan telah mencapai Rp393.402.666. Ini mencerminkan satu hal penting: pariwisata Sukabumi tidak stagnan, melainkan terus tumbuh meski bertahap.
Namun lagi-lagi, sisi yang paling menarik bukan hanya nominalnya. Ada upaya membangun kepercayaan publik melalui keterbukaan informasi sesuatu yang sering luput dalam pengelolaan sektor wisata.
Djemima menegaskan, langkah ini akan diiringi dengan peningkatan kualitas pelayanan dan pembenahan destinasi. Bukan hanya mempercantik tempat, tetapi juga memperbaiki pengalaman wisatawan.
Baca Juga: Lapang Surken Rusak Usai Konser, Disporapar Kota Sukabumi Akui Tak Ada Jaminan dari Penyelenggara
“Kami ingin memastikan wisatawan merasa nyaman, sehingga ekonomi bisa tumbuh secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Di penghujung pernyataan, ia mengajak semua pihak untuk terlibat. Ajakan yang sederhana, namun mencerminkan bahwa pembangunan pariwisata tidak bisa berjalan sendiri.
Pariwisata, pada akhirnya, bukan hanya milik pemerintah. Ia adalah ruang bersama tempat harapan ekonomi, budaya, dan kolaborasi bertemu.
Dan dari suara seorang Mojang Pinilih, pesan itu kini terdengar lebih dekat ke masyarakat.

